Rahasia Bu Lan

Rahasia Bu Lan

Bu Lan adalah Nek Darsih. Kau tahu itu. Entah bagaimana, ia bagai memutar waktu dan menjadi muda kembali. Ia mungkin bisa membohongi segenap warga kampung. Tapi tidak denganmu. Kau tahu gaya bicara mereka persis sama. Kau betul-betul paham garis wajah itu sama lekuknya. Kau pun menyadari fakta bahwa Nek Darsih menghilang tepat saat bu Lan datang.

“Kau harus menunjukkannya padaku,” ancammu saat mendatanginya dengan paparan bukti yang kau punya.

Kemudian kau di bawa bu Lan ke tanah lapang. Tepat tengah malam, saat purnama tengah terang-terangnya. “Kau berdiri saja di situ,” titah bu Lan hanya padamu karena tiada manusia lain di sini.

Kau menurut, sementara bu Lan berjalan kian ke tengah. Ia pun mulai merapal mantra. Perlahan, rembulan makin dan makin terang. Bu Lan terus merapal mantra. Sorot sinar rembulan kemudian seolah mengerucut, menerangi lebih banyak pada sosok paruh baya di depanmu. Mantra bu Lan makin cepat temponya. Kau pun mulai sadar, bahkan takjub dibuat, saat sosok di depanmu tiada tampak bagai bu Lan lagi saat ini.

Lalu semua kembali normal. Rembulan masih terang namun kini lebih wajar. Bu Lan -eh, iyakah dia masih bu Lan?- berhenti merapal mantra. Pandangan tajamnya terarah tepat pada manik matamu. “Terima kasih, anak muda!” ujar gadis itu membuka suara. “Hmm, kau sudah tua rupanya.”

Ingin kauberkata kasar melihat lenganmu yang mengeriput. Ah, wajahmu juga rupanya. Seluruh permukaan kulitmu bahkan mengendur sekarang. Dan rambutmu -oh tidak, jangan rambut indah kebanggaanmu- kini mengabu dan tampak rapuh.

“Sial!” rutukmu.

Advertisements

Haus

Haus

Tenggorokanku kering. Haus. Aku butuh minum dan aku mau sekarang.

“Tak bisa, Nak!” bentak ibu beberapa waktu lalu. “Kita harus tunggu sampai matahari terbenam.”

Aku tak tahan. Aku benar-benar haus. Aku akan keluar mencari minum sendiri.

“Ini demi kebaikanmu, Nak!” ucap ibu seraya mengurungku dalam kamar.

Ibu tak tahu, lubang udara di langit-langit kamarku berujung ke luar rumah. Perlahan, aku menyelinap keluar.

“Tunggu hingga gelap,” petuah ibu sejak pertama kali membawaku ke rumah ini. “Setelah itu kau boleh minum sepuasmu.”

Tapi sejak saat itu aku selalu haus. Kini aku tak peduli. Untuk pertama kalinya kuabaikan titah ibu.

“Nak!” panggil ibu yang diikuti suara pintu bergeser.

Kupercepat rangkakanku hingga tampak secercah cahaya. Silau. Kurasakan hangat di kulitku.

“Nak, di mana kau?”

Suara ibu terdengar semakin dekat. Nampaknya ia menyadari meja yang bergeser. Langit-langit yang menganga.

Aku segera membobol ventilasi. Keluar. Tak sabar berburu demi nafsu dahagaku.

Tapi dalam sekejap, diiringi gelegar teriakan ibu, sekujur tubuhku sudah terbakar.

Biru

Biru

Aku berdiri terpaku. Sebuah pisau menempel lekat pada arteri carotis suamiku. Sementara pria yang menyanderanya mengubah warna kulit dari cokelat menjadi biru.

“Bergabunglah bersama kami,” bujuknya. “Kita kuat jika bersama.”

Bersama mutan lain. Melawan kaum orisinil.

“Sayang?” tanya suamiku tak mengerti.

“Pria malang,” ejeknya. “Kau tak tahu istrimu ini mutan biru, bukan?”

“Tak mungkin!” teriak suamiku getir.

“Dari mana kau tahu?” tanyaku.

“Kemampuan astralku adalah mengendus bau mutan lain.”

Habis sudah, tak ada lagi gunanya menyimpan rahasia. Kuubah wujudku menjadi sebenar-benarnya diriku. Biru, bersisik, … menjijikkan.

Suamiku dan penyanderanya terbelalak.

“K-kau… kau bukan bunglon sepertiku?” tanya si mutan biru.

Saking terkejutnya, ia melepaskan suamiku begitu saja. Saking takjubnya, ia berjalan mengarah padaku dengan mulut menganga. Bahkan saking terpesonanya, jemarinya mulai meraba kulit biru, bersisik, dan menjijikkan milikku.

Aku pun balik menggenggam lengannya lalu mengubah wujudku persis sepertinya.

“K-kau… kau shapeshifter!” serunya tak percaya.

Kemudian dalam sekejap, aku kembali ke bentuk normalku–tidak biru, tidak bersisik, dan tidak menjijikkan–lalu berteriak bak kaum orisinil yang ketakutan melihat mutan evolutif. Si mutan biru tampak kebingungan, kelabakan, lalu berlari kabur tunggang langgang dari rumah kami.

Aku segera menghampiri suamiku yang kini tampak ketakutan–juga jijik–pada istrinya sendiri. “Tak apa sayang,” ucapku menenangkan. Kuusap kepalanya dan seketika ia pun tampak linglung.

“Apa yang terjadi?”

“Tak ada,” jawabku sembari tersenyum. “Sepertinya kau tertidur di sini.”

“Benarkah?”

Aku mengangguk meyakinkan. Biarlah, ia tak perlu punya memori tentang wujud asliku. Biru, bersisik, … menjijikkan. Semua sudah kuhapus seperti pada mutan biru tadi.

***

Kaum Orisinil – Manusia yang tidak bermutasi.

Mutan Evolutif – Mutan yang mengalami perubahan atau penambahan organ tubuh. Cenderung menyeramkan.

Mutan Revolutif – Mutan yang bermutasi hingga ke tingkatan dasar secara genetik. Mereka bisa mengubah tubuhnya menjadi api, transparan, berganti warna seperti bunglon, bahkan menjadi orang lain.

Mutan Astral – Mutan yang memiliki kemampuan tak kasat mata seperti mengendus mutan lain, telekinesis, menghapus memori, dan sebagainya.

Mutan Generasi Kedua – Mutan dengan dua kemampuan.

Mutan biru – Mutan generasi kedua dengan kulit berwarna biru, terkadang bersisik… menjijikkan.

Selembar Foto Di Dashboard

Selembar Foto Di Dashboard

Gadis itu men-shut down komputernya, meredupkan tampilan layar dengan background foto sang kekasih yang begitu ia sayang. Sudah pukul lima sore, saatnya bermacet-macet ria menuju rumah. Usai merapikan meja kerjanya, meluruskan bingkai foto yang menampakkan dirinya bersama sang kekasih saat berlibur ke Bali tahun lalu, serta memasukkan barang-barang ke dalam tas, ia pun bergegas menuju lift. Sesampainya di lantai bawah, smart phone miliknya berdering. Taksi daring pesanannya tiba.

Di dalam mobil, sang gadis kemudian sibuk menekuri berbagai aplikasi pada smart phone miliknya yang lagi-lagi ber-wallpaper-kan foto sang kekasih. Paling banyak waktu dan kuotanya habis untuk instagram. Cuci mata, judging, stalking, serta membalas komentar-komentar pada foto yang kemarin ia unggah. Foto dirinya bersama sang kekasih sebelum menonton film horor yang sedang booming.

Hingga beberapa waktu berselang, taksi daring tumpangannya tak tampak menjangkau jarak yang berarti. Entah, tapi beginilah jalanan Jakarta jika esok masuk akhir pekan. Kala bosan dengan smart phone juga pemandangan di luar yang tampak tak menarik, sang gadis mencoba memandangi tiap sudut dalam mobil. Langsung saja perhatiannya tertuju pada selembar foto yang ditempatkan di dashboard. Dengan sedikit rasa penasaran, ia pun bertanya pada sang supir yang tampak hanya beberapa tahun lebih tua darinya, “Itu foto siapa, Mas?”

“Foto Ibuk saya, Mbak!”

“Kenapa di taruh di situ?” tanyanya lagi. “Emang Mas gak punya pacar yah? Kan lebih bagus kalau taruh foto pacar Mas?”

Sang supir tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Ia lalu menjawab, “Saya punya pacar kok, Mbak. Tapi yaa… statusnya masih pacaran gitu-gitu aja. Saya malu kalau ngelamar dia sekarang, saya belum jadi apa-apa. Belum punya apa-apa.” Ia berhenti sejenak. “Dan saya pasang foto Ibuk saya di sini karena dialah alasan saya mau bekerja keras seperti sekarang, Mbak. Pengorbanan Ibuk ngebesarin saya dan adik-adik saya, bikin saya malu kalau di saat saya udah gede begini gak bisa bahagiain dia.”

Gadis tersebut merasa tersindir, padahal jelas tak sedikit pun ucapan sang supir tersebut ditujukan padanya. Lagi pula, apa salahnya memasang foto kekasih di berbagai tempat? Kecuali…

Ia harus mencopot, mengganti, dan menghapus semuanya jika mereka putus nanti.

Wonder Woman

Wonder Woman

“Gila, ya!” umpat Rosi. “Gue udah kerja 8 jam full, makan juga disempet-sempetin kalau ingat, tetap aja tiap malam disuruh lembur. Enak kali, ya, jadi freelancer kayak lu, Rin? Bisa bebas.”

Padahal jam kerjaku 24/7. Saat terlelap pun, aku harus siap terjaga jika dibutuhkan.

“Enggak juga, lah,” sanggah Airin. “Gue tuh mesti ngemis kerjaan sana-sini, loh. Kerjaan yang simpel aja bisa revisi berkali-kali. Dan yang paling ngeselin, udah di awal nawar harganya kejam, eh, pas invoice jatuh tempo mendadak susah dihubungin. Mending jadi entrepreneur, deh, kayak Salma.”

Padahal keringatku tak dibayar. Seumur hidup, sepanjang napas.

“Eh, lu gak tau aja, sih, Lin,” tutur Salma pada Airin. “Tiap tanggal gajian, olang-olang enak dapat duit. Lah, gue? Mesti mikil dapet duit dali mana buat bayal kalyawan. Apalagi kalo bisnis lagi sepi kayak gini, amsyong! Mending jadi ibu lumah tangga, lah, kayak Siti. Iya, gak, Ti?”

Padahal aku harus selalu memutar otak agar uang bulanan yang sifatnya terbatas itu bisa mencukupi kebutuhan kami yang tak terhingga. Tapi, sudahlah, tak pula ada gunanya membanding-bandingkan pekerjaan satu dengan yang lain. Bukankah lebih baik mensyukuri segala yang masih kita punya?

Akhirnya, kujawab pertanyaan Salma tadi hanya dengan anggukan dan senyum manis.

Kursi Kosong

Kursi Kosong
“Kamu bisa duduk di sana.”

“Tidaaakk!” teriak kami.

Bu Susi mendebat, “Tak ada lagi kursi kosong.”

Anak baru itu pun duduk di kursi bekas Rama, anak baru lain yang masuk di pertengahan tahun ajaran. Ia seringkali berteriak tanpa sebab di tengah pelajaran, tiba-tiba pingsan, bahkan menyerang salah satu dari kami.

“Bukan aku,” ucap Rama dengan tubuh gemetar hari itu. “Johan yang melakukannya.”

Rama pun pindah.

Saat istirahat, kami mengerubungi si anak baru. “Tenang,” ucapnya santai. “Aku sudah bertemu Johan di lorong. Dia tak keberatan aku duduk di sini, kok.”

Johan adalah teman sekelas kami yang meninggal bunuh diri di awal tahun ajaran.

Gawai

Gawai

“Loh?”

Kurogoh semua kantung dan kuacak-acak isi tas.

“Mas!” seru sebuah suara diiringi tepukan di pundak. “Aku menemukan ini di depan jalan keluar kompleks.”

“Ah, dompetku,” ucapku lega. “Terima kasih, Mbak!”

Sepertinya, dompetku terjatuh saat aku mengeluarkan earphone dari dalam tas. Aku memang terbiasa mendengarkan musik seraya bermain dengan ponsel pintar dalam perjalanan menuju kantor. Untungnya, dompetku ditemukan oleh orang baik. Sebagai ucapan terima kasih, kutawarkan gadis tadi menggunakan e-money milikku untuk masuk halte bus.

“Kau suka Dee Lestari?” tanyaku seraya menunjuk novel yang digenggamnya.

Bus yang cukup padat memaksa kami berdiri bersisian sepanjang perjalanan. Obrolan kami berlanjut membicarakan film adaptasi dari novel atau novel yang ditulis berdasarkan kisah film. Kami juga membahas soundtrack-soundtrack film yang berlanjut ke musisi dan lagu favorit masing-masing. Obrolan mengalir begitu saja, aku bahkan melilitkan earphone pada ponsel dan memasukkannya ke dalam tas sedari awal bus berangkat.

Kesukaan kami memang tak selalu sama, tapi aku biasanya tahu atau pernah mendengar hal yang ia suka. Pun dengannya. Kami tak henti mengobrol sampai bus yang kami tumpangi tiba di halte tujuanku.

“Aku turun di sini,” ucapku.

“Ya, aku juga.”

“Benarkah?”

Kami naik di halte yang sama. Turun pun begitu. Mengapa aku sampai tak pernah melihatnya sebelum ini?

“Aku belok sini,” ucapku kala sampai di persimpangan jembatan penyebrangan.

“Ya, aku juga,” jawabnya sambil tersenyum.

“Kau juga? Ke mana tujuanmu?”

Senyum manisnya berubah mejadi tawa. Aku hanya terdiam karena  tak yakin bagian mana yang seharusnya lucu.

“Kita bekerja di gedung yang sama,” ucapnya kemudian menyadari kebingunganku. “Meski aku pun hampir tak pernah melihatmu di sana. Mungkin karena kantor kita berbeda lantai. Tapi dari awal aku bekerja, atau sekitar dua bulan belakangan, kita hampir selalu naik bis yang sama, kau tahu?”

Ya Tuhan, aku benar-benar harus mengurangi pemakaian gawai selama perjalanan ke kantor.