DEJA VU

DEJA VU

Napas kami masih memburu. Bercinta bisa jadi amat melelahkan saat kita lebih tua dan hampir terlupa entah kapan terakhir kali berolahraga. Apalagi jika dengan semangat membara seperti tadi. Tak lain, bidadari yang tengah tergeletak seranjang dengankulah musababnya.

“Tidakkah kau merasa Deja Vu?” tanyanya setelah berhasil mengatur napas.

Lagi-lagi pertanyaan sejenis. Seolah aku pernah bertemu dengannya dulu entah kapan. Seolah percintaan sepanas tadi pernah kami geluti suatu hari kemarin. Seperti awal kami bertemu, kala ia mendatangiku di meja kasa. Matanya begitu dingin menatapku. “Kau tidak tahu siapa aku ya?”

Kujawab dengan gelengan kepala seraya menyerahkan kantung belanjaannya. “Jikapun iya, saya tak akan melupakan wanita secantik Anda, Ma’am.”

Sosoknya cenderung lebih hangat ketika datang keesokan hari. Bahkan jika tak salah kuartikan, gerak-geriknya terang-terangan menggodaku. “Kau mirip seseorang yang kukenal,” ucapnya diiringi senyum. “Kupikir, rambutnya juga akan mulai memutih sepertimu.”

Ada nada getir dari perkataannya. Kusimpulkan seseorang yang dimaksud itu telah tiada. Entah pergi, entah mati. Pun hubungan mereka tampaknya cukup spesial sebelum ini hingga membuat wanita itu begitu sendu mengingatnya.

“Tidak,” jawabku. “Aku tak mungkin lupa jika pernah mengalami seks sehebat tadi.”

Wajahnya berpaling menatapku. Manik matanya menyiratkan kekecewaan atas pernyataanku barusan. “Aku harus pergi,” ucapnya kemudian.

Setengah jam berikut kami sudah berada di luar hostel murahan ini. Tak banyak pilihan tempat untuk menyalurkan hasrat singkat macam tadi. Sejurus kemudian, sebuah mobil tua menghampiri. Seorang pemuda keluar dari kursi kemudi lalu membukakan pintu untuk wanita tadi.

“Anakmu?” tanyaku tak nyaman mendapat tatapan menyelidik dari pemuda itu.

Ia hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.

“Kalian begitu mirip,” ucapku seraya mengekorinya hingga depan pintu.

“Saat ini, aku justru berharap ia mirip dengan ayahnya,” jawabnya dingin.

Mobil tua itu pun pergi meninggalkanku bersama dusta-dustaku. Bahwa sebenarnya, aku pun merasa pernah mencumbu manis bibirnya suatu waktu. Bahwa sepertinya, tadi bukan kali pertama kuhirup aroma keringat tubuhnya. Bahwa rasanya, bukan hanya barusan itu aku meremas lembut payudara seukuran pas miliknya.

Aku menggeleng keras-keras. Berusaha tidak menyesali keputusan yang kubuat. Kupanggil taksi cepat-cepat untuk mengantarku pulang.

“Kau sampaikan salamku pada Dr. Brown?” sambut seorang wanita yang tinggal bersamaku.

Aku menggeleng. “Kita harus bicara.”

Kami pun duduk berdampingan di ruang tamu. Kugenggam tangannya untuk menguatkan keputusanku. “Aku tak menemui Dr. Brown,” ucapku lirih. “Kurasa, aku tak perlu lagi menemui dokter mana pun.”

Biar sedikit kujelaskan. Bertahun lalu, aku terbangun di sebuah rumah sakit. Tubuhku luka-luka seperti sebelumnya dihajar massa satu kampung. Aku mengalami amnesia. Ingatanku hilang akan nama tempat dan orang-orang yang sebelumnya kukenal. Meski sudah mendapatkan perawatan, ingatanku tak juga membaik. Dr. Brown adalah dokter kesekian yang membantu memulihkanku.

“Kau yakin?” ucap wanita yang merawatku dari awal ingatanku di mulai hingga berpindah ke kota ini.

Kupererat genggaman kami lalu menggangguk.

“Ada satu hal lagi,” ucapku sambil berlutut. Kukeluarkan kotak kecil berwarna merah yang telah kupersiapkan sebelumnya. Kubuka perlahan kotak itu seraya berkata, “Will you marry me?”

Kuputuskan, baiknya kujalani saja hidup baruku. Biarlah percintaan singkat tadi selesai di situ. Tanpa lanjutan, tanpa tuntutan lebih. Dan biarlah kukubur masa lalu yang bahkan tak sedikit pun kuingat selama-lamanya.

Selebrasi

Selebrasi

Musik mengalun lembut. Mengiringi gerak tubuh beriramaku dan putriku bersama pasangan-pasangan lain di ruangan ini. Kami merayakan cinta, yang justru memisahkanku dengannya.

“Kau harus rutin menjengukku,” pintaku di sela gerakan kami.

“Siap, Komandan!” ledeknya.

“Tak perlu bawa apapun, datang saja dan temani aku.”

Ia tertawa sebentar kemudian berkata, “Kenapa Ayah jadi lembek begini?”

Aku tersenyum, tak sedikit pun tersinggung dengan ucapannya. Bahkan, aku sudah mulai merindukan candanya yang tak kan lagi bisa kunikmati setiap hari.

Tarian kami terhenti saat sesosok pria mendekat. Ia mengangguk padaku, kemudian mengulurkan tangannya pada putriku. Dengan berat hati, kubiarkan putriku menari dengan suaminya. Ah, masih bagaikan mimpi, little princess sudah dewasa dan punya guardian baru. Lebih tampan, kuat, dan pastinya jauh lebih muda dariku.

prompt 143
Can we dance?” Sebuah suara membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh dan mendapati Joseph berdiri di sisiku. Kuanggukkan kepala lalu kami pun bergerak seirama. Jujur, aku mulai kewalahan mengikuti tempo dari musik yang mengalun. Ah, umur memang tak bisa bohong.

“Kau tampak lebih muda jika bersemangat begini,” ucapku pada Joseph yang tampak lincah bergerak.

“Aura di sini begitu segar,” jawabnya. “Semua masih muda, hanya kita sepasang pria tua di ruangan ini.”

Aku tertawa. Dia benar.

“Aku penasaran, apa sekiranya yang akan dikatakan rekan sejawat kita jika mereka hadir di sini?”

Joseph berpikir sejenak. “Mereka bisa jadi sangat kolot,” ucapnya kemudian. “Tapi mungkin saja mereka justru akan memberi selamat pada kita.”

Kemudian Joseph berhenti bergerak. Kepalanya mendekat hingga bibir kami bertemu. Menyatu. Dan dalam sayup, kudengar tepukan membahana di tiap penjuru ruangan.

(Review) DEADLY FEAR – Menguak Ketakutan Terbesar yang Akan Membunuhmu

IMG_20170416_222506-01

Judul                     : Deadly Fear

Penulis                 : Cynthia Eden

Penerjemah       : Airien Kusumawardani

Genre                   : Romance Suspense

Penerbit              : Bukuné

Tahun terbit       : Cetakan pertama, Juni 2012

Jumlah halaman               : 532 halaman

***

Yay! Akhirnya bisa ikutan #MFFRC lagi. Di bulan april ini temanya adalah: ”Buku yang kamu dapat dari hasil diskonan!” Dan kebetulan buku ini kubeli di basement Gramedia Depok yang memang menjual buku-buku murah. Nggak tau juga seberapa besar diskonnya karena harga yang tertera langsung 24k yang tentunya adalah harga setelah diskon. Yaa biasanya novel terjemahan yang halamannya sampai 500an bisa hampir 100k, kan? Atau lebih?

Buku ini menceritakan divisi baru di FBI yaitu SSD, atau Serial Services Division, yang khusus menangani kasus pembunuhan berantai. Kisah dimulai ketika Luke Dante baru saja dipindahkan ke SSD dan menangani kasus pertamanya bersama Monica Davenport.

“Maksudku…, kita akan bekerja bersama, dan kita tidak bisa berpura-pura bahwa masa lalu kita tidak pernah terjadi…” (hlmn 33)

Yup, Luke dan Monica pernah menjalin asmara saat di akademi namun kemudian Monica menjauh. Ketika mereka bertemu kembali, Monica bukan lagi dirinya yang dulu. Selain telah menjadi salah satu profiler terbaik di SSD, Monica juga terkenal dengan reputasinya sebagai seorang wanita yang sedingin es. Si Nona Es, mereka menyebutnya.

“Dalam sepuluh tahun terakhir, kami hanya menemukan dua kasus pembunuhan di Jasper.” Jeda cukup lama. “Keduanya terjadi dalam dua minggu terakhir.” (hlmn 50)

Awalnya mereka meragukan bahwa kedua pembunuhan yang sedang diselidiki dilakukan oleh orang yang sama karena metodenya benar-benar berbeda. Tapi kemudian ada seorang gadis lain yang menghilang. Korban ketiga, yang akhirnya bisa selamat setelah Monica dan Luke menemukan gundukan tanah yang mencurigakan. Gadis itu, Laura Billings, yang menderita klaustrofobia dikubur hidup-hidup. Dari sinilah diketahui bahwa sang pembunuh menggunakan ketakutan terbesar para korbannya untuk menyiksa mereka sebelum akhirnya membunuhnya.

“Katakan padaku… apa yang membuatmu takut, Davenport?” Napas Monica tercekat. Bayangan akan darah dan lingkaran kegelapan berkelebat dalam pikirannya. (hlmn 118)

Keadaan mulai memanas ketika pembunuh yang mereka kejar mulai meneror Monica. Mengungkit masa lalu yang berhasil dikuburnya selama ini. Kemudian Laura benar-benar menjadi korban ketika si pembunuh mendatanginya di rumah sakit. Bahkan seorang agen SSD pun juga diculik. Sang pembunuh tahu terlalu banyak, ia seolah selalu ada di dekat mereka. Mengintai dalam kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk membawakan ketakutan terbesar yang mereka punya. Si Pengintai, mereka menjulukinya.

***

Ketegangan seolah menyelimutiku sepanjang membaca novel ini, suspence-nya dapet banget. Berbeda dengan novel detektif yang lebih membangkitkan curiosity pembacanya. Seolah sedang menyaksikkan film Hollywood dengan adegan baku tembak yang ada di dalamnya. Emosi kedua tokoh utama, Luke dan Monica, pun berhasil dieksplor dengan sangat baik. Kebencian mereka terhadap tindak kejahatan, keprihatinan pada para korban, ketakutan akan satu dan lain hal, dan tentunya ketertarikan terhadap satu sama lain. Ah ya, karena tokohnya memang sudah dewasa jadi tak heran kita akan menemukan nuansa roman menyerempet stensil di novel ini.

Untuk ending-nya, aku emang nggak bisa nebak siapakah Si Pengintai sebenarnya. Twist-nya berhasil dong? Enggak juga kayaknya. Menurutku penggambaran Si Pengintai di akhir cerita kurang disamakan dengan penokohan dirinya sebelumnya. Kalau film mungkin kita bisa lihat wajah yang sama, namun tak demikian dengan novel. Tapi untungnya nggak ada plot hole. Alasan utama Si Pengintai melakukan kejahatan pun terasa masuk akal, khas film-film FBI yang sering kutonton.

Terakhir, kuberi rating 3,5 dari 5 untuk ketegangan menyeluruh yang kurasakan sepanjang membaca novel ini. Iya, yang itu juga ikutan tegang, haha

Thanks for reading 😉

Benalu

Benalu

​Mereka sudah menguasai kota. Makhluk asing sialan itu masuk ke tubuh manusia, lalu menjadi benalu yang menguasai inangnya. Kami, manusia yang masih steril, terjebak di sebuah gedung tua untuk berlindung.

“Mereka adalah satu kesatuan. Jika kita membunuh induknya, mereka semua mati.”

Begitulah teori dari pria tua berkacamata bundar. Kami memanggilnya ‘Profesor’, meski tak ada yang benar-benar tahu latar belakang pendidikannya.

“Halo?”

Aku pasti bermimpi. Bukankah itu suara istriku?

Nyatanya mataku memang sedang terpejam saat menjadi petugas jaga di pintu masuk utama gedung perlindungan.

“Halo?”

Aku membuka mata. Menyadari bahwa suara itu bukanlah khayalanku. Aku bangkit dari duduk dan memandangi pintu baja di depanku lekat-lekat.

“Hei!” ucapku sedikit keras.

“Halo? Ada orang di dalam?”

“Ya.”

“Rr-Robert?”

Hatiku tergolak mendengar namaku disebut. Satu pertanyaan memenuhi benakku. Apakah ia istriku atau makhluk asing sialan yang mencuri tubuhnya?

“Robert, biarkan aku masuk,” pintanya. “Kumohon..”

Aku mempertimbangkan sejenak. Siapapun itu, wanita di luar sana pasti datang sendirian karena tak ada reaksi dari para sniper di lantai dua. Rasanya tak salah jika aku keluar sebentar menemuinya. Memastikan bahwa istriku benar masih hidup meski harapannya tipis.

“Aku akan membuka pintu, jadi mundurlah!” perintahku.

“Baik,” ucapnya diselingi jeda. “Sudah. Keluarlah Rob.”

Aku membuka pintu dan menemukan sosok istriku tak jauh dari sana. Ia kemudian tersenyum dalam tangis. Sudut hatiku yang sebelumnya gelap perlahan mulai mendapat sinarnya.

“Rob, benarkah itu kau?”

“Stop!” cegahku saat melihatnya melangkah. “Aku yang akan menghampirimu.”

Setelah beberapa langkah kutengok ke lantai dua, tempat para sniper berjaga. Kuberikan tanda bahwa keadaan aman meskipun tak sepenuhnya yakin.

Aku lanjut mendekati istriku yang sudah berhenti menangis. Ia hanya tersenyum sekarang. Membuatku bertanya, bisakah makhluk asing mencuri senyum indah itu?

 “Mary?” ucapku setelah kami hampir tak berjarak.

Ia mengangguk. Aku pun memeluknya erat. Melupakan kemungkinan bahwa tubuh yang kupeluk bukanlah milik istriku lagi. Melepaskan rindu pada sosok yang kupikir sudah di surga.

“Biarkan aku masuk,” ucap Mary. “Mereka.. makhluk itu.. sungguh mengerikan.”

Aku tak terlalu mendengarkan perkataanya. Air mataku jatuh karena telampau bahagia.

“I love you,” ucapku lirih.

Mary tersenyum. “Love you too,” balasnya.

Aku pun terbelalak. Menyadari bahwa kebohongan hanya indah saat kita tak tahu sedang dibohongi.

Kuambil pisau yang tergantung dipinggang dan segera menancapkannya tepat di jantung Mary. Ia memekik. Bukan dengan suara manusia tapi campuran suara jangkrik dan radio rusak. Dari mulutnya keluar benda asing berbuku-buku mirip kaki tarantula. Hitam legam dan tak manusiawi.

Kucabut pisau dari jantungnya tepat saat tubuh makhluk asing sialan itu mulai keluar dari mulut istriku yang sudah robek. Kukeluarkan seluruh tenagaku untuk mengayunkan pisau itu kembali. Kutikam tubuh alien jelek itu beberapa kali hingga suara lengkingannya tak lagi terdengar.

 “You never love me,” ucapku pada tubuh Mary yang tergeletak dengan alien jelek di atasnya.

Sang benalu bisa menguasai ingatan, tapi tidak dengan perasaan inangnya. Mary biasanya membalas ‘I know’ alih-alih ‘Love you too’.

“Rob!” panggil sebuah suara.

Aku berbalik dan menemukan Stuart, pria berbadang tegap yang ditunjuk sebagai kepala keamanan, berdiri di depan pintu dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Masuklah!” ujarnya. “Profesor menemukan cara untuk membunuh sang induk.”

#FFKamis – Topi Kerucut

#FFKamis – Topi Kerucut

“Mau kabur ke mana, Revan?”

Aku terpergok Pak Wahidin, Supervisor kami, saat mengendap menuruni tangga.

“Anu Pak, saya…”

Semasa kecil,  ulang tahunku tak pernah dirayakan. Hingga aku tak menganggapnya penting. Bahkan berada di pesta ulang tahun orang lain saja membuatku tak nyaman.

Pak Wahidin menggiringku masuk ruang meeting yang sudah didekorasi. Usai diberikan selamat, mereka memakaikanku topi kerucut.

“Kamu ultah juga?” tanya Lily, gadis dari divisi sebelah yang selalu mencuri perhatianku. Anehnya, ia juga mengenakan topi yang sama.

“Nah, Birthday Boy sama Birthday Girl-nya sekarang bisa tiup lilin bareng,” ujar Pak Wahidin.

Dan sepertinya aku mulai menyukai hari ulang tahunku.

Begin Again

Begin Again

Ini hari kedua aku menatap punggungnya. Pria yang sama, di tempat itu juga. Tengah menatap hamparan laut di depannya.

“Pantai ini memang kalah pamor dibanding pantai sebelah,” tutur seorang penduduk lokal yang kutemui.

Namun hal itu justru sesuai dengan keinginanku. Aku butuh ketenangan untuk menulis fiksi terbaruku yang tak kunjung selesai. Untuk meredam ocehan penerbit yang tiada bosan menagih karya teranyar. Tak kusangka, aku akan mendapatkan lebih dari itu.

Menemukanmu.

***

Mentari mulai kembali ke peraduan, meninggalkan sinaran jingga merona di langit senja.

“Apa aku mengenalmu?” ucapnya dengan wajah penuh tanya.

“Entahlah,” jawabku. “Tapi yang pasti aku mengenalmu.”

Pria itu memberikan mimik mengingat-ingat. Cukup lama, bahkan hingga aku mulai berhenti berharap. Namun tiba-tiba…

“Adrian?”

Ia ingat. Meski nantinya akan kembali lupa. Tapi tak apalah, aku tetap bahagia.

“Ya?” kuberikan senyum terbaikku.

Pria itu lalu memelukku seraya menangis tersedu. Aku balik memeluknya, jauh lebih erat. Menikmati saat-saat terindah dalam hidupku.

Saat Rama memelukku..

Saat Rama mengingatku..

Saat Rama tahu bahwa aku pernah, sedang, dan akan selalu ada di hidupnya..

Tangis Rama berhenti sejalan dengan terlepasnya pelukan hangat dariku. Wajahnya berganti memberi tatapan kebingungan seiring sinaran langit jingga yang berganti kelabu.

“S-siapa kau?” gagapnya.

“Bukan siapapun, hanya orang yang kebetulan melintas di dekat sini,” jawabku seraya memaksakan senyum. “Aku hanya berniat menemanimu.”

“Oh,” ucapnya masih kebingungan. “Terima kasih kalau begitu.”

“Bukan masalah,” jawabku sambil menahan tetes air mata jatuh.

“Sudah malam,” ucapnya seraya berdiri. “Aku harus pulang.”

“Oh, aku akan mengantarmu,” ucapku juga ikut berdiri. “Sepedaku ada di situ.”

“Aku tak mau merepotkan.”

“Tak apa, kita searah.”

“Kau tahu di mana rumahku?”

Tentu saja aku tahu. Aku sudah mendatangi  tempat itu setiap hari dalam lima tahun ke belakang. Mengantarmu pada ayah dan ibumu. Menggantikan mereka mengawasimu setiap hari. Juga menemanimu tiap menjelang senja. Di tempat kita pertama bertemu. Di sini.

“Kau sudah bilang sebelumnya, kau lupa?”

“Benarkah?”

“Ya,” jawabku.  “Oh, aku Adrian. Salam kenal.”

Kuulurkan tanganku..

Mengulang semuanya..

Memulai kembali dari awal..

#FFKamis – Penghuni Malam

#FFKamis – Penghuni Malam

Hitam adalah sahabatku. Gelap selalu menemaniku. Dan malam adalah duniaku.

Malam membuat gerakku lebih leluasa. Malam menyingkirkan sinaran surya. Malam memudahkanku menyerang mangsa.

Aku bukan pemilih dalam urusan buruan. Tapi kebetulan saja manusia di depanku anak perempuan. Sudah terbayang tentu lezat tak karuan.

Kudekati mangsa teramat perlahan. Tanpa suara kuusahakan. Aroma darah yang mengalir di sekitar kerongkongan begitu memabukkan.

Kudekati mangsa dari satu sisi. Berjuang untuk tetap sunyi. Kusergap cepat tanpa bunyi.

Plok!

***

Plok!

“Mah, aku digigitin nyamuk,” rengek seorang bocah perempuan pada ibunya.

“Ssst! Jangan berisik! Nanti om satpol pepeknya denger. Lagian kamu kenapa nyusul mamah ke sini, sih?”