Just Like a Pill

Just Like a Pill

Swipe kanan kalo lo suka, swipe kiri kalo jelek,” ujar Vina hari itu.

Dan begitulah pria ini sampai dikamarku. Berawal dari jeramiku yang menggeser ke kanan foto profilnya pada aplikasi kencan tersebut. Berlanjut dengan obrolan intens pada aplikasi pesan online, janjian temu, dan kencan pertama kami petang tadi.

Aku tak sepenuhnya ingat detail kejadian setelah menawarkannya masuk ke kamar indekosku. Basa-basi sebetulnya, niatku sekedar menyajikan minum untuknya yang sudah repot antar dan jemput. Tapi kini badannya sudah menindihku. Bibirnya tengah mencumbuku. Telapak tangannya meremas lembut payudara dibalik gaun malamku. Dan jelas kurasakan kelelakiannya menekan keperempuananku di bawah sana.

“Bener ‘kan yang gue bilang?” ucap Vina kala kuberitahu perihal rencana kencanku. “Tinder itu kayak pasar barang bekas. Emang banyak yang udah gak layak tapi kalo lo teliti bakal nemu kok yang bener-bener berkualitas.”

Butuh seminggu dari sapaan pertamanya di aplikasi tersebut hingga pertemuan kami malam ini. Setelah mengeliminasi belasan pria ‘ajaib’ yang sekedar menyapa hingga menerorku di sana. Dan setelah memindahkan beberapa kandidat berkualitas ke aplikasi pesan yang lebih privat. Namun akhirnya kebanyakan gugur karena obrolan yang hambar, tidak satu frekuensi, atau penemuan fakta bahwa kami tak sejalan.

Aku bisa merasakan tangannya menyusup ke balik leher. Perlahan, diturunkannya resleting gaun malamku. Kemudian kurasakan jemarinya membelai lututku. Digenggamnya ujung gaun malamku dan ditarik ke atas. Cumbuan kami terlepas sesaat kala gaun tersebut melintas di kepalaku. Meninggalkan hanya bra dan g-string di tubuhku. Dan bibirnya, yang amat jelas mengandung candu, pun makin menjadi saat memagut kembali bibirku.

“Iya,” ujarku membenarkan pernyataan Vina perihal Tinder. “Semoga ini cowok bisa jadi pengobat patah hati gue deh. Udah cukup gue depresi gini.”

Kami membuka kemejanya bersamaan. Aku dari kancing paling atas, ia dari yang paling bawah. Usai lepas semua, jemariku bergerak liar memainkan kedua putingnya sementara ia mencopot kemeja. Kemudian dilemparnya kemeja itu ke lantai yang diikuti bunyi geremincing.

Kupisahkan bibir kami, firasatku tak baik tentang ini. “Apa itu?”

“Bukan apa-apa kurasa,” ujarnya terdengar tak yakin sebelum kembali menempelkan bibir.

Kali ini kudorong dadanya untuk menolak. Ia tampak kecewa namun kuabaikan. Kuraih jemari di tangan kanannya, kuraba satu jari yang kini jadi tersangka. Benar, ada garis melingkar di sana.

“Maaf,” ujarnya menyadari penemuanku.

Tatapan kami bertemu. Matanya jelas menyiratkan penyesalan, tapi aku masih melihat nafsu yang menuntut untuk dipuaskan di sana.

But, I really like you,” ujarnya seraya mengaitkan rambut yang menutupi wajahku ke daun telinga. “Boleh lanjut, ‘kan?”

Egoku menitahkan ‘tuk menggeleng. Depresiku menuntut ‘tuk mengangguk. Dan pada akhirnya, aku hanya diam saat bibirnya kembali memagut.

… and I swear, you’re just like a pill. ‘Stead of makin’ me better, you keep makin’ me ill. You keep makin’ me… ill.

Advertisements

Gadis Penjual Jarum

Gadis Penjual Jarum

Kupungut sepasang kaki yang tergeletak di bawah ranjang. Kuambil sebatang jarum daganganku dan mulai menjahit. Kiri dan kanan. Dan akhirnya aku pun bisa berdiri.

Lelah, merangkak ke sana kemari. Menjajakan benda remehtemeh yang terkadang dilupakan hingga saatnya dibutuhkan. Teringat ucapan Nyonya berpakaian indah tadi, “Aku akan membeli jarummu. Nanti jika aku butuh. Mungkin saat gaun indahku sobek.”

Sempat terbersit merobek gaun indah si Nyonya, tapi aku belum sehina itu. Alhasil, kamar sempit ini jadi saksi, tak berkurang barang sebatang jarum-jarum itu dari pagi.

Kupungut empat daging implan dari bawah meja. Kuambil sebatang jarum daganganku dan mulai menjahit. Kiri dan kanan. Kiri dan kanan.

“Juallah benda lain. Yang menarik. Yang akan dibeli, butuh tak butuh!” ucap Tuan berparas tampan tadi.

Benarlah. Kala tak ada yang butuh, tak sebatang pun jarumku akan laku. Tak peduli meski tiap sudut kota kudatangi. Meski pergi pagi, pulang pagi.

Kupungut selembar wajah dari bawah kursi. Kuambil sebatang jarum daganganku dan mulai menjahit. Sisi kiri, dan terus melingkar ke sisi kanan.

Tak pernah kuberniat menjadikan semua ini komoditas. Tapi perut harus tetap terisi. Nasi harus tetap dibeli.

Kupatut tubuhku di cermin. Kaki jenjang dan dada menggelembung. Bokong penuh dan wajah cantik menggoda.

Dagangan baruku pasti akan laku.

-200 kata-

*Pernah diikutkan dalam #MFFIDOL3 babak Crossbattle Stage

(Review) Stasiun by Cynthia Febrina – Mengantarmu Menyusuri Jalur Istimewa Menuju Cinta

Judul : Stasiun

Penulis : Cynthia Febrina

Penerbit : PlotPoint Publishing

Tahun terbit : Cetakan pertama, Mei 2013

Tebal buku : 171 halaman

Cerita mengambil latar saat tiket commuter line masih berbentuk kertas. Harganya pun relatif mahal dibanding tiket kereta ekonomi yang jadi idaman kala itu meski berfasilitas seadanya. Namun keduanya berbagi satu jalur dan bertemu di satu titik bernama stasiun. Di tempat ini jugalah kisah antara pemuda pelanggan tetap kereta ekonomi bernama Ryan dan gadis anti kereta ekonomi bernama Adinda di mulai.

Sebaliknya, aku sih ogah berpanas-panasan di dalam kereta ekonomi. Kalau punya uang, untuk apa repot-repot naik kereta murah itu. (Hlmn 2)

Adinda memang tak terbiasa naik transportasi rakyat. Ia biasanya dimanja oleh Rangga dengan mobil pribadinya. Lalu kemudian mereka putus. Sejak itulah Adinda harus terpaksa membaur dengan hiruk pikuk stasiun Bogor di pagi hari demi mendatangi kantornya di Jakarta.

Benar-benar pemandangan pagi hari yang merusak suasana hati. Berbeda sekali jika aku pergi ke kantor dengan mobil, yang kulihat hanya pemandangan tol pagi yang lengang, …. , atau sesosok pria di sampingku yang asyik menyetir sambil bersiul. (Hlmn 4)

Lain halnya dengan Ryan. Pemuda satu ini sudah mengganggap berkendara dengan kereta adalah bagian dari hidup. Ia berkawan dengan penjual koran, penjaga kios buku bekas, dan pelukis jalanan yang ruang lingkup kerjanya memang berputar di stasiun.

Tak terbayang betapa membosankannya menghadapi kemacetan Jakarta sendirian. Bukan saya tidak pernah sendiri, justru karena saya terlalu sering sendiri. Saya mencari tempat yang bisa membuat saya bertemu banyak orang. (Hlmn 21)

Cerita mengambil sudut padang bergantian antara Ryan dan Adinda. Meski berporos pada mereka berdua, cerita juga diperlebar ke tokoh-tokoh lain yang sehari-harinya beraktivitas di stasiun. Contohnya Sasha, teman Adinda. Meski aku sangat menyayangkan kehadirannya yang sempat menghilang di bagian tengah cerita, namun kisah Sasha bersama seorang perempuan tua gila sukses menjadi konflik pertama yang membuatku jatuh cinta dengan novel ini.

Seorang petugas stasiun menghampiri Sasha. Salah satunya membawa pentungan. Sasha mulai terlihat khawatir. “Lepaskan perempuan itu atau Ibu saya pukul!” Salah satu petugas mengancam. (Hlmn 11)

Ah, belum lagi kisah manis sepasang suami istri yang menua bersama. Sang suami memaksa istrinya naik kereta khusus perempuan agar dapat tempat duduk, namun sang istri menolak. Ia ingin menunggu saja kereta selanjutnya agar mereka tetap bersama.

Sebelum kereta berangkat, keduanya sempat bertatapan. Mata keduanya sudah menua akibat usia namun tak membuatnya layu untuk menyatakan cinta. (Hlmn 76)

Novel ini dihiasi konflik-konflik kecil, lalu perlahan berakhir menjadi kisah manis yang mungkin sudah tertebak. Yup, bukan cerita dengan satu konflik yang dibahas berlarut-larut lalu kemudian terburu-buru diakhiri. Novel ini juga tak sekedar membahas cinta, antara Ryan dan Adinda, tapi juga kenangan masa lalu, pandangan hidup, hingga interaksi dengan orang-orang yang bersinggungan dengan keduanya.

Kuakhiri review ini dengan memberi 4,5 bintang dari semua bintang yang ada di atas sana. Eh, 4,5 dari 5 bintang maksudnya.

Thanks for reading 🙂

Lonceng Tua

Lonceng Tua

Meski tak lagi digunakan, lonceng tua di menara sekolah kami tetap dibiarkan pada tempatnya. Awalnya tak ada yg mempermasalahkan, hingga suatu hari bunyi lonceng tersebut terdengar pada pukul dua pagi. Kemudian satu teman asrama kami ditemukan mati.

“Aku menghitungnya, lonceng itu berdentang tiga belas kali,” ujar Cahyo penuh keyakinan.

“Erik meninggal sekitar tengah malam, bukan?” tanya Rami. “Apa setelah itu sang pembunuh lalu membunyikan lonceng?”

“Kenapa si pembunuh melakukan itu?” Aku balik bertanya. “Bukankah itu akan menarik perhatian dan menyebabkan ia ketahuan?”

Kematian Erik benar-benar mengubah suasana di asrama jadi mencekam. Ditambah beredarnya desas-desus bahwa pembunuh Erik adalah orang dalam. Dengan kata lain, pengurus asrama atau justru salah satu dari kami para siswa.

Seminggu kemudian.

Aku masih terjaga kala lonceng itu berbunyi. Tiga belas kali, tepat seperti yang diucapkan Cahyo tempo hari. Kulirik Rami yang masih lelap di ranjang, tak terganggu sedikit pun dengan bunyi lonceng di luar sana.

Aku memilih untuk tetap terjaga hingga pagi. Kuraih novel yang kemarin kupinjam di perpustakaan lalu mulai membacanya.

Beberapa jam kemudian Rami terbangun.

“Pagi!” sapanya.

“Pagi!” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buku. “Ngomong-ngomong, semalam lonceng berbunyi lagi. Tiga belas kali. Tepat pukul dua pagi.”

Belum sempat Rami menanggapi, pintu kamar kami tiba-tiba saja didobrak. Segerombol petugas asrama bergegas masuk lalu dalam sekejap meringkusku yang tengah asyik membaca. Sial, padahal aku hampir sampai lembar terakhir.

“Bagaimana kalian bisa tahu?” tanyaku.

“Kami memasang CCTV,” jawab kepala asrama yang berdiri di depan pintu.

Ah, my bad.

“Ada apa ini?” tanya Rami kebingungan.

“Dia membunuh Cahyo,” ujar kepala asrama dingin. “Bawa dia ke kantor!”

Dua petugas asrama kemudian menyeretku dengan kasar. Aku manut saja karena percuma juga berontak. Tapi aku masih sempat mendengar pertanyaan Rami pada kepala asrama.

“Bukan dia,” jawab pria paruh baya itu. “Rekaman CCTV menunjukkan bahwa lonceng itu berbunyi sendiri, tak ada yang menyentuhnya.”

Pecahkan Cermin Itu!

Pecahkan Cermin Itu!

Ibu baru saja meletakkan sebuah cermin di kamarku. Berbingkai kayu dengan nuansa etnik yang kental. Tingginya melebihi badanku. Diletakkan di pojok kamar menghadap ke ranjang.

Malam itu juga, aku mendengar ketukan dari dalam cermin baruku. Aku segera bangkit dari ranjang dan memeriksanya. Aneh, suara itu seketika hilang. Aku sempat mengira suara ketukan itu hanya khayalanku. Tapi hal yang sama terulang keesokan harinya.

Ketukan itu terdengar lagi dari dalam cermin di kamarku. Empat kali. Konstan dan makin tegas. Namun, ketika aku memeriksanya, ketukan itu hilang, dan yang tersisa di cermin cuma bayanganku. Entah mengapa, aku merasa ketukan itu adalah pesan untukku, bahwa ada dunia lain selain dunia tempatku hidup atau dunia setelah aku mati.

Belakangan, bayangan tentang dunia lain itu terus memadati kepalaku. Sering kali, aku tertangkap tengah melamun oleh Ibu. Dan, sebanyak itu pula ia mengatakan hal yang sama, “Laras, melamun bisa membuatmu diasingkan dunia.”

Aku tak sepenuhnya paham maksud perkataan ibu. Bagaimana mungkin dunia mengasingkanku? Ke mana aku akan diasingkan?

Hari berganti hari. Aku mulai terbiasa dengan suara ketukan dari dalam cermin. Aku tak lagi memeriksanya karena pasti akan hilang jika kulakukan. Ketukan yang awalnya hanya empat sampai enam kali kini berlanjut hingga aku terlelap. Meski makin lama makin tegas, suaranya tak pernah menggangguku bahkan membuatku semakin mudah terlelap.

Hingga suatu malam, aku bermimpi bertemu ibu. Tapi ada yang aneh dengannya. Seluruh tubuhnya seputih salju, bahkan nyaris transparan.

“Ibu, apa yang terjadi denganmu?”

Ibu membuka mulut dan mencoba mengatakan sesuatu. Tapi tak ada suara yang keluar. Kuperhatikan lekat-lekat gerakan bibirnya. Mencoba membaca yang tengah ia ucapkan.

PE-CAH-KAN-CER-MIN-I-TU

Pecahkan cermin itu?

Aku terbangun saat alarm berbunyi. Aku sadar baru saja bermimpi. Tapi mimpi tadi begitu terasa nyata.

Pecahkan cermin itu.

Kalimat itu bergema di kepalaku. Segera aku bangkit dari ranjang dan mencopot cermin tersebut dari penyangganya, lalu kubanting keras-keras. Cerminnya retak tapi tidak pecah. Tak habis akal, kuinjak berkali-kali cermin itu dengan kaki telanjangku. Namun alih-alih pecah, cermin tersebut justru memperbaiki dirinya sendiri. Dan kini cermin itu mulus seperti baru.

Tiba-tiba suara ketukan itu kembali lagi. Kali ini langsung terdengar nyaring bahkan memekakkan. Aku menutup kedua daun telingaku. Tapi suara ketukan itu terlalu kencang.

“Berhenti!” teriakku.

Seketika ketukan itu berhenti. Dan dari dalam cermin yang kini tergeletak di lantai aku dapat melihat bayangan diriku. Tapi…

“Hai!” sapa bayanganku di dalam cermin. “Kau pasti kebingungan.”

“K-kau… Kau siapa?”

“Aku adalah kamu. Atau, sebentar lagi menjadi kamu.”

“Apa?!”

“Tenanglah, sudah terlambat jika kau ingin memecahkan cermin ini sekarang. Aku sudah menyerap energi kehidupanmu dari setiap ketukan yang kubuat di portal ini.”

Tiba-tiba saja aku merasa begitu lemas lalu terjatuh berlutut.

“Nah, sudah tiba waktunya,” ucap bayanganku dari dalam cermin sebelum semuanya gelap.

***

Aku melihat bayanganku sendiri saat membuka mata. Tapi anehnya, bayanganku sedang berdiri sementara aku sekarang tengah berbaring. Atau, aku berada di dalam cermin yang tergeletak di lantai.

“Apa yang terjadi di sini?” tanya ibu yang baru saja masuk ke dalam kamar.

“Ibu!” seru bayanganku seraya menghambur ke arah ibu.

“K-kau anakku?”

Bayanganku mengangguk.

Aku terbelalak saat ibuku yang berada di seberang sana memeluk bayanganku sendiri dan berucap betapa bangganya ia pada anaknya itu karena bisa mengikuti jejaknya keluar dari cermin.

“Laras,” sapa sebuah suara dari belakangku.

Aku berbalik. Itu ibu. Meski tubuhnya nyaris transparan, aku tahu itu ibu. Ibuku yang asli.

“I-ibu, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kita terperangkap, Nak!” jawab ibu. “Kita tak akan pernah bisa kembali ke dunia kita. Maafkan ibu yang terlambat memperingatkanmu.”

“Tidak mungkin,” sanggahku. “Pasti ada cara untuk…”

Mendadak, ibu berteriak histeris. Aku pun berbalik dan mendapati bayanganku sendiri akan menginjak cermin ini. Cermin tempat aku dan ibuku kini tinggal.

***

* Pernah diikutkan dalam sambung FF yang diadakan oleh fiksimini(dot)gregetan(dot)com

(Review) Resign oleh Almira Bastari – Memaksamu Lembur Bersama Roman Berbalut Canda

Judul : Resign

Penulis : Almira Bastari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2018

Jumlah hlmn : 288 halaman

***

Tigran semakin kejam. Titik dan koma saja dipermasalahkan. Berkali-kali hasil kerjaku direvisi. Dan kemarin puncaknya, kertas kerjaku dilempar! (hlmn 52)

Para cungpret, alias kacung kampret, yang terdiri dari Alranita, Carlo, Mbak Karen, dan Mas Andre, sudah kelewat muak menjadi bawahan Tigran. Tapi bos mereka itu selalu punya cara untuk menggagalkan rencana resign para kacungnya. Mulai dari memberikan pekerjaan secara overload, mendaftarkan training ke luar negeri, hingga tiba-tiba muncul saat sang karyawan sedang di-interview. Meski begitu, semangat para cungpret untuk resign tak jua padam, alih-alih mereka malah membuat sebuah kompetisi.

“Eh, by the way, gimana kalo kita buat taruhan resign?” Carlo tiba-tiba memberi ide. “Supaya semakin termotivasi.” (hlmn 12)

Alranita, sebagai cungpret yang paling lama bekerja pada Tigran, yang paling merasakan pederitaan. Tigran tak hanya menerornya untuk urusan pekerjaan, di luar kantor pun hidupnya seolah selalu direcoki oleh bos yang mau tak mau harus diakuinya ganteng itu. Mengekorinya ke bioskop, menjadi pendamping yang tak diharapkan saat kondangan, bahkan mengacaukan liburannya di Langkawi.

Tapi dia lihat lo? Tahu lo di langkawi? Dia stay di resort itu juga? Terus gimana? (hlmn 99)

Perlahan, Alranita merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Tigran. Di luar ketegasan dan kekejamannya sebagai bos, Tigran sering memberikan perhatian-perhatian kecil. Seperti kekhawatiran Tigran saat ia ‘kabur’ dari Langkawi, gaya acuhnya saat membukakan botol minum—atau saus—tanpa diminta, hingga ketidakengganan Tigran untuk turun dari mobil dan berbasa-basi dengan ayahnya saat menjemput kondangan.

”Kamu itu…” Aku terdiam sesaat karena terlalu banyak hal yang ada di pikiranku. “Kamu itu sengaja nyiksa saya banget: Bikin saya benci banget sama kamu. Terus kamu jadi baik banget. …” (hlmn 263)

Namun semua itu tidak meredupkan niat Alranita untuk resign. Semua sudah diatur sedemikian rupa. Ia datang ke kantor tanpa bedandan, memakai jaket tebal, bahkan berkali-kali mengelap kening meski tidak berkeringat. Interview-nya besok harus berhasil, untuk itu izin sakitnya harus tampak wajar. Tapi dewi fortuna mungkin memang membencinya, malam itu justru Tigran yang tiba-tiba pingsan saat hanya mereka berdua yang ada di kantor.

Sudah lewat tengah malam, dan ini jauh lebih buruk daripada lembur. Seketika rasanya aku ingin menangis. Entah bagaimana, aku jadi takut terjadi sesuatu pada Tigran. I know he’s an evil, tapi melihat dia menderita juga tidak membuatku senang. (hlmn 204)

***

Seperti warna sampulnya, novel bergenre komedi romantis ini menghadirkan kisah yang begitu segar. Penulis cukup apik mengolah cerita dengan sisipan humor yang pas pada tempatnya serta peralihan perasaan tokoh dari benci ke cinta yang sama sekali tak tampak dipaksakan. Pun cerita dibawakan oleh dua tokoh utama pada rentang usia ‘siap nikah’ dengan latar problematika pekerja kantoran yang membuat kisah dalam novel ini terasa begitu dekat dengan target pasarnya yaitu dewasa muda.

Minus narasi mendayu namun beralur cukup padat membuat novel ini dengan teganya membuang beberapa adegan meski kemudian diberi potongan pengisahan pada bab selanjutnya. Dan dengan narasi yang proporsional, didominasi dialog yang saling bersambut, serta sisipan obrolan dalam aplikasi chatting, tak hanya berhasil menghidupkan tokoh-tokoh dalam cerita tapi juga sukses menyajikan kisah yang begitu visual.

Meski cerita berpusat pada romansa Alranita dan Tigran, tapi kehadiran tokoh-tokoh sampingan dalam novel ini tak bisa disepelekan. Carlo yang kocak, Mbak Keren yang julid, Mas Andre yang kalem, bahkan Sandra si anak baru yang polos, tampil begitu berkarakter. Peran mereka pun jelas tak hanya sebagai pelengkap tapi memang punya andil masing-masing dalam memberi warna pada cerita.

Terakhir, untuk semua senyum yang kusunggingkan dan tawa yang pecah sepanjang membacanya, novel ini berhak mendapat lima bintang tanpa cela.

Ouija

Ouija

“Wahai roh dalam koin. Wahai roh dalam koin. Maukah kau bermain dengan kami?”

Koin perak yg kami sentuh bersama itu pun bergerak perlahan menuju kata YES. Kami saling pandang dengan takjub, tak menyangka permainan ini akan berhasil.

“Wahai roh dalam koin. Wahai roh dalam koin,” senandung Maria seorang diri. “Siapa namamu?”

“S…, A…, R…,” ucap kami berbarengan mengikuti huruf yang ditunjuk oleh koin. “A…, H.”

Semua mata langsung tertuju padaku.

“Eh, nama Sarah pasaran banget, ya?” ujarku gemetar. “Udahan yuk! Takut gue.”

“Bentar, gue mau tanya lagi,” jawab Rahma. “Wahai roh dalam koin. Wahai roh dalam koin. Tahun berapa kamu mati?”

“B…, E…, L…, U…, M…,” koin itu bergetar sebentar lalu kembali menunjuk huruf  M. “A…, T…, I.”

“Belum mati?” tanya Karin. “Maksudnya?”

Sunyi. Tak ada jawaban.

“Wahai roh dalam koin. Wahai roh dalam koin,” tiba-tiba Maria kembali bersenandung. “Kenapa kamu ada di sini?”

BRAAK!

“Udahan, ya, guys!” teriakku seraya membalikkan papan permainan.

“Ih, sarah, apaan sih?”

“Baru juga mulai, deh, Sar!”

“Pertanyaan gue kan belum dijawab, gimana sih?”

Langsung saja pintu kamar kami di ketuk. Secara kompak kami langsung membereskan semua peralatan permainan ouija yang berserakan di lantai. Beruntung semua sudah tersembunyi saat lampu kamar asrama kami dinyalakan.

“Kenapa kalian belum tidur?”

Kami semua terdiam. Ibu Ainun hanya menggeleng-geleng lalu menyuruh kami tidur.

“Besok dilanjut ya, guys!” seru Rahma seraya menarik selimut.

“Iya!”

“Oke!”

Aku hanya diam. Nyaris saja kedokku terbongkar. Kalau sampai mereka tahu aku mengambil alih tubuh Sarah, aku harus membunuh mereka bertiga.

Huh, pasti merepotkan.