Aku adalah batu..

Saat ini mulutku bisu..

Lidahku kelu..

Bahkan lebih dari itu,

tubuhku hanya bisa digerakkan selang beberapa waktu..

Bagai mimpi bisa melihatnya di sana. Dia, cinta pertamaku. Meski ia pun melihatku, tak mungkin ia mengenaliku sebagai aku. Parasnya jauh lebih cantik setelah lama kami tak bertemu. Cinta yang dulu pernah menggebu, meski sempat tergerus waktu, kini muncul ke permukaan dengan lebih bertalu-talu.

Aku tak pernah membiarkannya tahu bahwa cinta ini ada. Cinta seorang fana pada bidadari jelita sepertinya. Hingga waktu kian berlalu, kami pun meninggalkan masa-masa indah putih abu-abu. Setelah itu, bersamaan dengan waktu, cinta ini mengerut dan menepi di sudut hati gersangku.

Kini, di sini, ia begitu dekat. Cinta ini pun bangkit, menyeruak meminta diperjuangkan. Tapi apa dayaku. Aku adalah batu. Saat ini mulutku bisu. Lidahku kelu. Bahkan lebih dari itu, tubuhku hanya bisa digerakkan selang beberapa waktu. Aku bisa menatapnya lewat sudut mataku. Aku bisa menghirup aromanya yang berbau violet itu. Aku, berada begitu dekat di sisinya. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Bahkan tidak untuk menyapanya.

Hingga akhirnya, ia pun berlalu.

***

Minggu. Pengunjung memenuhi tempat wisata itu hingga sesak. Dua muda-mudi tengah menggeliat di antrian yang cukup panjang. Si gadis menggenggam monopod erat-erat, tak sabar menunggu gilirannya tiba.

Setelah beberapa lama menunggu.

“Ayo, Sayang!” sahut si gadis seraya menarik lengan seorang pemuda.

“Ini! Kamu aja yang pegang tongsisnya!” katanya seraya menyerahkan monopod.

“Senyum!” seru si pemuda setelah menjauhkan monopod agar potret yang diambil bisa menangkap pemandangan lebih luas.

Di sana, di smart phone milik sang gadis, kamera mengambil gambar si gadis bersama kekasihnya tengah mengapit seorang pejuang zaman penjajahan. Tentu hanya kostum, dan beberapa make up di sana-sini yang membuatnya mirip seperti patung.

Setelah urusannya selesai, kedua muda-mudi tersebut pun beranjak menjauh dari sana. Saat jarak mereka sudah cukup jauh, si gadis berbalik. Ditatapnya manusia patung tadi lekat-lekat.

“Kenapa, Sayang?” tanya si pemuda.

“Ah,” si gadis tersadar dari lamunannya. “Bukan apa-apa. Aku hanya sepertinya mengenal pria di balik manusia patung itu. Wajahnya, entah bagaimana, terasa familiar bagiku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s