Seketika,

Aku tak lagi berpijak..

Dan,

Tak ada lagi yang bisa digapai..

Angin di sini begitu kencang. Langit tampak begitu dekat dengan kepalaku. Saat menatap ke bawah, orang-orang tampak bagai semut. Kecil, tak berarti. Hanya aku di sini. Dan bahkan sebentar lagi, tak akan ada lagi aku.

***

“Jadi kamu serius mau pergi? Ini udah H-5, Beib!” gerutuku pada Mike, calon suamiku.

“Aku cuma pergi tiga hari, Sayang! Aku akan kembali sebelum kamu menyadari aku pergi. Oke?”

Mike mengatakannya sambil tersenyum memamerkan lesung pipinya. Di saat seperti inilah ia tampak manis. Mike adalah pria berbadan kekar dengan kulit kecoklatan dan raut muka yang tegas. Tapi rasanya, saat tersenyum, tak ada yang bisa menandingi manisnya senyum Mike.

Ia tipe yang tak banyak bicara. Namun saat ia peduli, ia akan mewujudkannya melalui tindakan. Itulah alasan terbesar aku mencintainya.

“Mike?” aku merajuk.

“Hmmm?” jawabnya sambil terus memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel.

“Pernikahan kita kan cuma sekali seumur hidup, sedangkan kamu bisa hiking kapanpun kamu mau. So, please, jangan pergi yah? Aku punya firasat gak enak kali ini.”

Mike menghentikan aktifitas packing-nya. Ia mendekat padaku, menggenggam kedua tanganku lalu mengecupnya.

“Sayang, I’m gonna be just fine. Ini bukan kali pertama aku hiking. Dan aku toh gak pergi jauh, Cuma ke Semeru. Dan aku akan kembali hari rabu. Aku pasti kembali untuk pernikahan kita. Kamu gak usah khawatir. Oke?”

***

“Kau bohong, Mike!” bisikku pada angin yang berhembus semilir.

Mike tak pernah kembali. Teman-temannya yang saat itu pergi bersamanya tak bisa menjelaskan secara rinci apa yang terjadi. Mike jatuh ke jurang. Hanya itu yang ku tahu. Pencarian bahkan sudah dihentikan. Sudah tak ada harapan.

Semua dibatalakan. Gedung, catering, undangan, pengisi acara. Dan rasanya sudah ratusan kali kuterima ungkapan berbelasungkawa saat kabar terakhir dari Mike tersebar. Kabar yang tak jelas. Tak hidup, tak mati. Hilang.

Aku menatap langit. Berharap Mike ada di atas sana dan mendengarku saat berkata, “Mike, Aku akan menyusulmu. Sampai bertemu di surga.”

Aku semakin mendekati tepi. Satu langkah lagi dan semua akan berakhir. Semua penderitaan ini.

BRRAAKKK!!!

Suara pintu didobrak paksa mengagetkanku. Aku berbalik dan melihat Rama, adikku.

“Kak, abang Mike sudah ditemukan!”

Tapi terlambat. Saat memutar badan untuk berbalik, kakiku terpeleset. Seketika aku tak lagi berpijak, dan tak ada lagi yang bisa digapai.

Aku… jatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s