Aku membuka kotak kecil merah itu.

Kulihat sebuah cincin tanpa mata di dalamnya.

Lambang ikatan dua insan yang saling mencinta.

Aku menatap diriku di cermin. Gaun yang indah. Sayang sekali harus dikenakan oleh si buruk rupa. Parahnya lagi, harus melekat di tubuh yang sungguh tak proporsional.

Tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping.

Suara memuakkan itu terus berulang dikepalaku. Hingga berganti dengan suara deruman. Akhirnya, datang juga.

“Lama banget, sih!” sapaku meski tahu bahwa ia tepat waktu.

Aku bersandar di kursi di sampingnya. Memposisikan punggungku senyaman mungkin. Aku tak melakukan apapun seharian. Tapi tubuh ini rasanya lelah tak karuan.

Sambil mengemudi, ia mencoba membuka percakapan. Aku tak peduli. Hanya membalas sesekali. Telingaku rasanya panas mendengar suaranya. Tapi ia terus bicara, dan mau tak mau aku pun menanggapi. Hingga akhirnya kami tak lagi bicara, tapi saling meneriaki.

Teriakan kami membuat sakit di perutku makin menjadi-jadi. Aku meminta ia menepi. Aku mau turun. Dan saat kami menepi, aku tak bergeming. Hanya menyilangkan kedua lengan di dada.

“Ini!” ucapnya sambil menyodorkan sesuatu.

Aku membuka kotak kecil merah itu. Kulihat sebuah cincin tanpa mata di dalamnya. Lambang ikatan dua insan yang saling mencinta. Aku menatapnya, masih tak percaya.

“Bagaimana?” tanyanya.

Satu waktu dalam sebulan, aku akan jadi lebih jelek, lebih rakus, lebih lemah, bahkan lebih jahat dari biasanya. Dan ia memilih waktu itu untuk melamarku?

“Ya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s