Detik itu juga tanah di bawahnya berderak lalu longsor begitu saja..

Aku berlari ke arahnya..

Merentangkan lenganku selebar yang ku bisa untuk mencoba meraihnya..

Tapi terlambat..

“Hosh.. Hosh..”

Aku begitu kelelahan. Langkahku sudah sebegitu berat. Kalau saja udara di sini tak minus dalam satuan derajat, keringatku pasti sudah habis bercucuran. Tapi tubuhku kering, lembab lebih tepatnya. Aku tahu itu meski sekujur tubuhku dibalut jaket tebal.

“Adrian!” terdengar teriakan dari pemuda di depanku. “Itu ujungnya, kita hampir sampai.”

Malek, sahabatku sekaligus rekan perjalananku segera menambah kecepatan langkahnya setelah menunjuk puncak gunung yang katanya tertinggi di dunia. Tak mau kalah, aku pun bergegas menyamai langkahnya. Dan tak sia-sia, pemandangan di puncak sungguh tak bernilai harganya.

Putih, warna dominan dari es yang menyelimuti pegunungan di hadapanku kini tengah berbalut warna jingga hasil sinaran mentari yang tak lama lagi akan kembali ke peraduannya. Manis, bagai es serut yang dilumuri sirup jeruk. Kalau saja tubuhku tak menggigil hebat karena kedinginan, rasanya ingin aku berlama-lama di sini tanpa mengerjakan apapun selain menatap mentari hingga tenggelam nanti.

“Dan..,” seru Malek seraya mengangkat tinggi-tinggi tiang bendera merah putih itu. “dengan ini resmi, dua pemuda Indonesia pernah menginjakkan kaki di daratan tertinggi di dunia.”

Malek menancapkan tiang bendera tersebut ke tanah. Dan sial, detik itu juga tanah di bawahnya berderak lalu longsor begitu saja. Aku berlari ke arahnya, merentangkan lenganku selebar yang ku bisa untuk mencoba meraihnya. Tapi terlambat, Malek, satu-satunya manusia di sini selain aku, baru saja terjatuh bersama longsoran salju dari puncak gunung tertinggi ini.

***

Ada yang bilang, hipotermia adalah cara terindah untuk mati. Kau tak akan merasakan sakit. Hanya terlalu lelah untuk terus membuka mata, hingga akhirnya terlelap. Dan tanpa kau sadari, perlahan ragamu tak lagi berisi.

Tapi tak ada yang indah dari mati sendirian dalam kantung tidur di sebuah tenda yang di pasang asal-asalan. Di luar, meskipun tak sedang badai, dinginnya sungguh terasa sampai ke tulang. Kini pun aku tak bisa merasakan kakiku.

Nasibku pasti tak akan begini jika saja Malek masih hidup. Ia yang bisa memasang tenda, ia yang mampu menyalakan api, ia yang bisa melacak jejak dan tahu jalan mana yang harus diambil. Dan ia, bedebah busuk itu, yang memaksaku naik pada jam yang tak wajar ini. Sekarang siapa yang harus aku mintai pertanggungjawaban, hah?

***

Ada yang bilang, hipotermia adalah cara terindah untuk mati. Kau tak akan merasakan sakit. Hanya terlalu lelah untuk terus membuka mata, hingga akhirnya terlelap. Dan tanpa kau sadari, perlahan ragamu tak lagi berisi. Mati.

***

“Di sana! Itu pasti tendanya.” Seru seseorang dari dalam helikopter seraya menunjuk ke tenda yang tampak sekali dibuat secara serampangan.

Segera saja heli tersebut menukik turun dan mendarat di daratan yang lebih datar. Dua orang petugas bergegas menghampiri tenda yang tak perlu susah payah untuk di bongkar. Di sana mereka mendapati sesosok tubuh berbalut jaket tebal sedang bergelung dalam kantung tidur. Wajahnya pucat, seolah tak ada darah yang mengalir.

Satu petugas yang lebih muda segera melepaskan resleting kantung tidur pemuda tersebut, membuka syal yang membalut lehernya lalu mengecek denyut nadinya. Hanya perlu beberapa detik untuk memastikan bahwa tak ada tanda kehidupan di sana. Ia pun menggeleng pada petugas yang lainnya.

“Adrian!”

Pemuda itu turun dari helikopter dan dengan susah payah menghampiri kedua petugas dengan tongkat di kedua lengannya untuk membantunya berjalan. Seorang petugas lain, yang merangkap pilot, tampak berjaga di belakang sekiranya pemuda tersebut jatuh. Dan benar saja, pemuda itu jatuh tersungkur sekitar satu meter dari jasad yang mereka temukan. Ketiga petugas serempak menghampiri dan membantunya berdiri.

“Adrian?” Tanya pemuda itu pada kedua petugas tadi.

“I’m so sorry, brother Malek! We’ve lost your friend.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s