Lampu padam dan film pun mulai diputar. Film laga seperti inilah keahlianku. Aktor seharusnya jago melakukan adegan action, bukan menangis di depan kamera. Ah, tak percuma aku beralih dari pekerjaan lamaku.

Film berakhir, seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan. Sang produser berjalan ke depan. Ia memegang mikrofon dan bersiap menyombongkan kesuksesan filmnya.

“Terima kasih!” ujar pria itu. “Sebelum saya berucap lebih jauh, marilah bersama kita mendoakan seorang sahabat yang telah meninggalkan kita dalam proses pembuatan film ini. Seorang Stuntman profesional, yang juga mantan atlet silat nasional.”

Aku tersenyum saat layar di depan mulai menunjukkan gambar wajahku.

Syukurlah, mereka masih mengingatku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s