Lampu jalan di perempatan menyala merah. Bus kami pun berhenti. Naiklah seorang kakek tua berpakaian compang-camping. Rambut ubannya lusuh. Kulit keriputnya dekil tak terawat. Kakinya berjalan tanpa alas.

Tak ada yang menarik dari kakek itu kecuali benda yang dibawanya. Sebuah gitar akustik merek ternama. Seandainya Aku tak salah ingat, gitar itu hanya diproduksi sepuluh buah. Desainnya futuristik. Keadaannya pun masih bagus. Mulus, tanpa gores barang sebiji.

Setelah berucap salam ala kadarnya, Sang Kakek mulai memetik gitar. Aku sungguh menikmati suguhan melodis tersebut hingga akhirnya Sang Kakek mulai bernyanyi. Itu pun jika teriakan melengking tak karuan sudah masuk dalam kategori olah suara.

Bunyi klakson menyalak nyaring, tanda lampu telah menghijau. Lengkingan Sang Kakek makin menjadi mengiringi roda bus kami yang kembali menggelinding.

Penumpang yang tengah berhibernasi lantas terbangun mendengar Sang Kakek bernyanyi. Beberapa yang lain, yang sepertinya memang sensitif, mulai mengeluarkan darah dari telinga mereka. Kaca jendela bus pun mulai bergetar. Dan sepertinya akan segera pecah berkeping andai lengkingan Sang Kakek tak berhenti sekarang.

Ajaibnya semua baik-baik saja hingga nyanyian berakhir. Tak ada yang pecah. Tak ada makhluk hidup yang kehilangan nyawanya. Bahkan pasangan suami istri yang duduk di kursi depan pun urung bercerai. Semua cukup tangguh menahan siksaan barusan.

Setelah membungkuk bak dirigen pemandu simfoni, Sang kakek mengeluarkan bungkusan kecil yang lalu diedarkannya ke masing-masing penumpang. Satu persatu penumpang bus mengisi bungkusan Sang Kakek dengan harta sekedarnya dari kantung pribadi mereka.

Kulihat Bang Rizal, anggota satuan pengamanan di salah satu bank swasta itu, yang bekerja dua belas jam sehari dan delapan hari seminggu tengah memasukkan segepok rupiah ke dalam bungkusan sang kakek. Aih Bang, bukankah uang itu lebih berarti untuk ketiga belas anakmu?

Selain Bang Rizal, ku lihat pula Mbak Retno menjatuhkan segenggam emas begitu saja ke dalam bungkusan kecil Kakek tua itu. Demi Tuhan, tetanggaku itu, janda yang anaknya terbelakang mental itu, bahkan harus bekerja membersihkan jamban di pusat perbelanjaan. Kenapa pula ia menyia-nyiakan logam mulia seperti itu?

Akhirnya, Sang Kakek tiba di deretan kursi paling belakang. Bungkusan kecil yang sekarang sudah menggembung itu pun disodorkannya padaku.

Aku menggeleng. “Maaf,” kataku.

Sang Kakek terbelalak, dan dengan suara cemprengnya berkata, “Bocah gendeng! Dandanan saja boleh borjouis, ponsel pun segede gaban, tapi untuk memberi pengamen tua sepertiku saja tak ada. Huh!”

Aku menunduk seraya menyembunyikan tablet produksi Tiongkok milikku.

Advertisements

2 thoughts on “PENGAMEN TUA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s