“Sayang, puisi kamu bagus.”
“Eh, apa?”
“Puisi yang kamu selipkan di notes aku itu loh. Puitis banget. Aku suka.”
“Oh, iya dong sayang. Aku ‘kan nulisnya pakai hati.”
Ini sudah kesian kalinya kekasihku mendapatkan kiriman dari seseorang namun ia menganggap barang tersebut pemberianku. Aku tak sanggup untuk menjelaskan bahwa bukan Aku yang mengiriminya boneka beruang, bunga mawar, dan puisi itu. Ia sungguh menyukai barang-barang tersebut dan aku tak ingin mengecewakannya.
***
“Aldo, apa yang..?”
Aku memergoki Aldo tengah menyelipkan sekotak coklat ke dalam tas Amira. Ternyata Aldolah yang selama ini mengirimkan hadiah-hadiah itu.
“Apa maksud semua ini?”
Aldo menunduk, tak berani menatapku.
“Aldo?! Apa maksud semua ini, hah?!”
“Aku muak dengan dia, Rama! Aku muak dengan Amira!” Aldo tak dapat menahan emosinya. “Aku ingin membuatmu cemburu. Aku ingin hubungan kalian berakhir.”
Aku menggeleng, benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Aldo.
“Aldo,” kataku lembut. “Aku mencintaimu. Tak pernah ada, dan tak kan pernah ada yang menggantikanmu dalam hatiku. Tapi kita tak mungkin bersatu. Dan saat ini, Aku sudah dijodohkan dengan Amira. Aku mohon kamu terima itu. Ini pun juga berat bagiku.”
Aku lantas memeluk Aldo yang mulai sesungukkan.
“Kalau begitu…,” bisik Aldo dalam tangisnya. “Salah satu dari kita harus mati.”

Advertisements

4 thoughts on “Tak Kan Pernah Ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s