Aku hidup di dunia pasca kiamat. Sepuluh tahun lalu, hujan meteor melenyapkan hampir sembilan puluh persen populasi manusia di bumi. Sebagian besar jenis hewan dan tumbuhan pun punah. Dan mereka yang bertahan harus hidup dengan keterbatasan sumber daya yang tersisa.

Belakangan, muncul rumor bahwa bumi akan kembali dihujani meteor. Dan secara mengejutkan, pemerintah pasca kiamat mengumumkan bahwa mereka menemukan sebuah planet layak huni dan mulai membangun sebuah space ship untuk mengangkut kami ke sana.

Aku tengah dalam perjalanan menuju lapangan lepas landas saat tiga orang pria menghadangku. Bandit. Kumpulan orang yang tak percaya akan datangnya hujan meteor kedua. Mereka memilih tinggal di bumi dengan mengandalkan apapun yang mereka rampas dari orang lain.

Kurogoh saku celana lalu mengambil kantung kecil di sana dan melemparkannya ke pria yang paling besar. Ia nampak tak puas saat mengeluarkan isinya.

“Hanya ini?!”

“Lihatlah Aku? Apa yang membuatmu berpikir Aku memiliki lebih?”

“Kau pikir kami bodoh? Kau mengarah ke lapangan lepas landas space ship di sana, kan? Itu artinya paling tidak kau memiliki sepuluh kali lipat dari ini.”

“Apa maksudmu? Aku hanya tunawisma yang berjalan tanpa tujuan .”

“Bohong!”

Aku terlambat menyadari bahwa salah satu dari mereka sudah bergerak memutariku. Pria itu memegangi tubuhku sementara dua yang lain mendekat. Aku berontak, mencoba melepaskan pegangan pria di belakangku. Percuma. Salah satu pria di depanku meluncurkan pukulan pertamanya tepat di wajahku. Kurasakan darah mengalir di sudut bibirku.

Setelah beberapa pukulan di dada dan juga perut, Aku pun tak sanggup lagi berdiri. Mereka berhenti dan melemparkanku begitu saja ke tanah. Selanjutnya semua menjadi gelap.

***

Aku terbangun dengan masih merasakan sakit akibat dipukuli tadi. Anehnya, kini Aku terduduk di kursi yang cukup empuk dengan sabuk pengaman yang terpasang erat.

“Kita baru saja meninggalkan bumi,” ucap pria yang duduk di sebelahku. “Sebentar lagi Presiden pasca kiamat akan memberikan pidatonya.”

Pria itu Chris, sahabatku.  Ia pasti sudah menggotong tubuhku, membelikanku tiket, dan mendudukkanku di salah satu kursi space ship ini. Aku baru saja akan mengucapkan terima kasih saat layar besar di depan kami menyala, menampakkan wajah berwibawa seorang pria tua.

“Kawan-kawanku, penumpang space ship tercinta. Kami ucapkan selamat, karena dengan ini kalian terhindar dari bencana hujan meteor untuk kedua kalinya. Harus Saya katakan, di bumi, kami sudah membangun bunker bawah tanah yang kami harap dapat menyelamatkan sisa umat manusia. Tapi seperti yang kita ketahui, sumber daya terbatas jumlahnya. Kami putuskan untuk membiarkan hanya orang-orang terpilih yang akan masuk bunker. Dan sisanya, orang-orang yang sudah kehilangan harapan hidup seperti kalian, kami beri harapan palsu. Planet baru layak huni yang kami janjikan tak lebih dari sekedar kebohongan. Kebohongan yang membuat kalian terus bercocok tanam, terus berburu hewan, terus menjala ikan, dan terus berdagang. Kalian terus hidup untuk mengumpulkan kepingan uang agar bisa ikut dalam perjalanan ini. Dan di sinilah kalian, di dalam space ship yang tak cukup bahan bakar untuk pulang. Tapi tenang, dalam beberapa hari ke depan kalian akan mendapatkan oksigen dan makanan yang cukup. Namun setelah itu… Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik.”

Advertisements

2 thoughts on “Pasca Kiamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s