Saat aku sedang mencari kunci apartemenku, pria itu keluar dari pintu sebelah.

“Hai!” sapaku.

Pria tersebut tampak terkejut melihatku dan secepat kilat menyembunyikan lengannya ke balik punggung.

“Ehm… Hai!”

Suasana berubah ganjil. Aku belum lama pindah ke sini dan belum akrab dengan para tetanggaku. Untunglah tak lama aku menemukan kunciku. Langsung saja ku buka pintu lalu berhenti sejenak untuk menatapnya.

Ia masih berdiri di sana dengan satu lengan disembunyikan di punggung. Wajahnya kusut, sama seperti rambut dan kemejanya. Karena tak tahu harus mengatakan apa, Aku pun hanya menganggukkan kepala dan segera masuk.

Apakah benar apa yang ku lihat tadi? Ah, sudahlah. Mungkin tak seperti yang ku duga.

Usai mandi, ku putuskan untuk segera tidur. Aku pun segera mencari ear phone di dalam tas. Semenjak pindah ke apartemen ini, aku memang punya kebiasaan untuk memasang ear phone saat tidur. Ini karena dinding di kamarku begitu tipis. Dan hampir setiap malam, pasangan yang tinggal di sebelah sering kali bertengkar dan membuat kegaduhan.

Seluruh isi tas sudah ku keluarkan. Tapi ear phone-ku tak kunjung kelihatan.

Sial, pasti tertinggal. Tapi tunggu, kenapa keadaan begitu senyap?

Lama ku tatap dinding di kamarku. Aneh. Ku hampiri dinding itu lalu ku tempelkan telingaku untuk mendengar lebih jelas. Nihil. Tetap senyap.

Napasku memburu. Jantungku berdetak begitu keras hingga aku bisa mendengarnya di kesunyian yang mencekam ini.

Apakah dugaan ku benar? Apakah pria tadi..? Aku harus memastikannya sendiri.

Aku pun keluar dari apartemenku dan menuju pintu sebelah. Ku ketuk beberapa kali namun tak ada sahutan. Meski ragu ku coba untuk memutar kenop pintu. Dan ternyata tak terkunci. Gelap. Mereka mematikan lampu. Untunglah posisi tombol lampunya sama dengan di tempatku. Setelah menutup pintu, aku pun masuk lebih dalam.

Di sana. Kamar itu harusnya bersebelahan dengan kamarku. Pintunya tertutup tapi saat ku putar kenopnya lagi-lagi tak terkunci. Ku buka pintu itu perlahan. Lampunya menyala. Ku buka lebih lebar dan ku temukan tubuh seorang wanita bersimbah darah di atas ranjang.

***

“Jadi Anda yang menemukan mayatnya?”

“Ya,” jawabku.

Sudah dua jam berlalu sejak aku menemukan mayat wanita itu. Setelah menelepon polisi, aku segera kembali ke apartemenku dan tak melakukan apapun hingga mereka datang.

“Apa sebelumnya Anda melihat atau mendengar hal-hal yang mencurigakan?” tanya seorang polisi lain.

“Ya,” jawabku. “Pria itu. Pasangan wanita itu. Aku sempat melihat tangannya berlumuran darah. Dia pembunuhnya. Kalian harus menemukannya.”

Kedua polisi itu saling menatap. Sepertinya terheran dengan ceritaku.

“Kalian tak percaya padaku?”

“Tapi kami sudah menemukan pasangan wanita itu.”

“Bagus! Di mana kalian menemukannya?”

“Di kamar mandi. Dia juga sudah mati.”

“Apa?! Bagaimana..?”

“Apakah Anda sebelumnya pernah bertatap muka dengan tetangga Anda?”

“Ya, Saya pernah bertemu yang wanita,” jawabku seraya mengingat-ingat kembali. “Tapi belum dengan yang pria.”

“Kalau begitu, pria yang Anda lihat tadi bukanlah tetangga Anda. Tapi pembunuh tetangga Anda.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s