Kau menatap mayat di depanmu. Pria bertubuh besar dengan otak sekecil udang. Hanya orang bodoh yang memilih palu sebesar itu sebagai senjata. Mengangkatnya saja sudah menghabiskan tenaga. Mengayunkannya pun butuh waktu, yang membuatmu dapat menghindar dengan mudah.

Kau melumpuhkannya dalam sekejap. Bermodalkan pisau, kau mengincar bagian penting tubuhnya. Sayatan di bisep dan pergelangan tangan membuatnya tak sanggup lagi mengangkat palu. Tusukan di paha dan belakang lutut membuatnya tak sanggup lagi berdiri.

Ia sempat sekarat. Tapi kompetisi sialan ini mengharuskan kau membunuh semua peserta lain hingga hanya dirimu yang tersisa. Maka tadi, kau tusukkan pisaumu tepat di jantung pria itu.

Seekor lalat terbang di depanmu. Kau tak menggubrisnya. Peraturan kompetisi ini melarangmu menghancurkan robot kecil itu. Kamera mikronya merekam semua tindakanmu dan peserta lain lalu menyiarkannya ke seluruh dunia. Tontonan dengan rating tertinggi.

Sebuah kembang api meledak di angkasa. Kau mendongak. Sinaran kembang api membentuk angka dua. Kau hanya perlu membunuh satu orang lagi.

Kau menekan tombol di jam tanganmu. Seketika muncul layar transparan yang menunjukkan peta sebuah pulau dengan dua titik warna merah. Orang itu ada di dekatmu, satu kilometer ke arah utara. Sepuluh detik kemudian layar tersebut lenyap.

Segera kau cabut pisaumu dari tubuh mayat itu. Mau bagimana lagi, hanya pisau itulah satu-satunya senjatamu.

***

“Ibu, apa itu?”

Di langit, tampak sebuah benda asing yang melayang. Besarnya sama dengan sebuah distrik. Dinaungi gelembung setengah lingkaran yang transparan.

“Negeri di Atas Awan,” jawab ibumu.

“Bisakah kita tinggal di sana?”

“Mungkin nanti, saat kau dewasa.”

Di bawah sini, semua orang harus melakukan pekerjaan kasar tak peduli berapa pun usianya, sehat atau sakit, siang dan malam. Tapi di dunia atas, mereka bisa seenaknya menikmati hasil dari pekerjaan orang-orang di bawah.

Begitulah pemerintahan era ini bekerja. Mereka yang pintar dalam bidang ilmiah, seni, komunikasi, dan psikologi tinggal di dunia atas. Bagai dewa, mereka mengatur pemerintahan dari atas sementara pekerjaan yang sesungguhnya dikerjakan di bawah.

Kau terus menanyai ibumu tentang Negeri di Atas Awan. Hingga akhirnya kau dijual. Kau tak dendam, kebanyakan anak sepertimu memang dijual oleh orang tua sendiri untuk menjadi buruh pabrik. Tapi keadaan justru menjadi lebih baik. Kau makan tiga kali sehari sekarang, hingga kau dewasa seperti saat ini.

***

Kau berlari sekencang yang kau bisa. Impianmu sebentar lagi akan terwujud. Hadiah utama kompetisi sialan ini, passport dunia atas. Kau akan menjadi warga resmi Negeri di Atas Awan.

Itu dia. Kau mempercepat larimu saat melihatnya. Namun ia juga melihatmu. Ia pun lantas berbalik dan berlari menjauh.

Pengecut. Senjatanya pasti sudah direbut peserta lain sebelumnya. Sungguh beruntung ia masih bisa hidup sampai sekarang.

Larimu lebih cepat. Jarak kalian sudah semakin dekat. Kau melompat, menabraknya, lalu kalian sama-sama terjatuh. Kau membalik badannya dan menodongkan pisaumu tepat di lehernya.

Seorang wanita. Hoodie-nya terlepas saat kalian terjatuh. Beberapa helai uban bertengger di rambutnya yang tergerai. Meski wajahnya kini dihiasi keriput, kau masih mengenalinya. Ia, Orang itu, Wanita itu, ibumu.

Kini, kau punya dua pilihan. Nyawa ibumu, atau Negeri di Atas Awan.

Manakah yang akan kau pilih?

Cepatlah, tanganmu yang menggenggam pisau mulai berkeringat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s