Screenshot_2015-11-16-07-10-36

Artwork oleh @julialillardart – The Picnic

TOK! TOK! TOK!

Pria berkacamata itu membuka pintu lalu mengeluarkan kepalanya.

“Ada apa?” tanyanya. “Aku sedang sibuk di sini.”

“Kita akan pergi piknik,” ucapku sinis. “Kau sudah janji, kau ingat?”

“Benarkah?”

Belakangan, suamiku selalu mengurung diri di ruang kerjanya. Entah apa yang ia lakukan di dalam sana.

“Kau tak perlu tahu. Ini rahasia,” ucapnya tempo hari.

Ia hanya akan keluar untuk mengambil makanan dan pergi ke toilet. Tapi semalam, aku berhasil membujuknya untuk pergi piknik bersama. Ia sudah telalu lama tidak berinteraksi dengan anak kami.

“Sayang, tinggalkan benda itu dan bermainlah dengan anakmu!”

“Tapi..,” suamiku itu hendak memberi alasan namun urung setelah aku menatapnya tajam.

Dengan langkah gontai, ia menghampiri balita yang tengah bermain sendirian. Untuk beberapa waktu, pasangan ayah dan anak itu bermain bersama. Namun tiba-tiba saja, benda yang sedari tadi ditunggui suamiku berbunyi nyaring.

“Ada apa?” suamiku datang dengan menggendong anak kami.

“Entahlah, benda ini tiba-tiba saja seperti itu.”

“Tak apa, mungkin sudah waktunya,” ujarnya.

Ia pun menyerahkan anak kami lalu segera memeriksa benda tersebut. Setelah menekan salah satu tombol di sana, benda tersebut berhenti berbunyi. Kemudian ia membuka penutupnya. Asap putih keluar. Selanjutnya, tampaklah sebuah telur berukuran besar di dalam sana.

Ternyata benda tersebut adalah inkubator. Suamiku memang ilmuwan. Ia pernah bercerita tentang proyek rekayasa genetik yang melibatkan mamalia dan reptil.

Telur itu retak lalu keluarlah kepala ular dengan ukuran yang cukup besar dan lidah bercabang yang menjulur keluar. Suamiku lalu menyingkirkan pecahan-pecahan telur hingga tampaklah tubuh makhluk tersebut yang mirip bayi manusia.

“Kemarilah anakku!” ucap suamiku seraya menggendong makhluk tersebut.

“Kau menyebut makhluk itu anakmu?!” ujarku seraya memandang jijik pada makhluk yang dipegangnya. “Padahal bermain dengan anakmu sendiri saja kau harus kupaksa.”

“Aku yang menciptakan makhluk ini,” ucap suamiku sambil tersenyum. “Sedangkan anak itu? Jelas sekali wajahnya lebih mirip selingkuhanmu.”

Sial, ternyata ia tahu rahasiaku itu!

Advertisements

4 thoughts on “Rahasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s