Lapangan Sapuran, Wonosobo.

“Sekarang jam… Sial! Jamku mati.” Pemuda itu mengetuk-ngetuk jam tangannya. “Ah, keberuntungan benar-benar sedang menyertai kita.”

“Lihat!” seru gadis di sebelahnya.

Pemuda itu mendongak tepat saat balon-balon udara mulai dilepaskan. Seluruh penonton di lapangan tersebut bersorak riang, berdecak kagum, dan bertepuk tangan.

“Dengar,” ucap pemuda itu dengan suara yang sedikit dikeraskan. “Saat alarm jam tanganku berbunyi, kita harus segera berangkat.”

“Baiklah!”

Balon-balon udara itu kini memenuhi angkasa. Pola warna-warninya mengisi kekosongan langit dan menjadikannya jauh lebih berwarna, seperti suasana hati dua muda-mudi ini.

“Kau suka ini?” tanya sang pemuda.

“Ya,” jawab gadis itu. “kau?”

“Ya, aku suka ini. Dan… kurasa aku menyukaimu.”

Sang gadis nampak terkejut. Untuk sesaat keheningan menyelimuti keduanya meski teriakan para penonton lain jelas membahana.

“Aku juga menyukaimu,” ucap gadis itu akhirnya. Begitu pelan, hingga nyaris tersamarkan dengan riuh rendah di sekeliling mereka.

Alarm berbunyi. Pemuda itu mendekatkan jam tangannya ke telinga si gadis, memastikan ia juga mendengarnya.

“Kita harus berangkat sekarang.”

Mereka tak punya banyak waktu. Mungkin salah sendiri karena tak ikut pulang ke Jakarta besama rombongan travel kemarin malam. Tapi dua hari penuh menikmati pesona Dataran Tinggi Dieng bersama tidaklah cukup bagi mereka. Bahkan, dua puluh tahun kebersamaan mereka sebagai sahabat rasanya tak cukup. Keduanya ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama. Karena esok, mungkin akan berbeda.

Sesampainya di terminal Wonosobo.

“Jakarta, Pak! Bus yang berangkat sebelas lewat lima.”

“Sudah berangkat, Mas!”

“Apa?! Tapi..” pemuda itu menatap jam dinding besar di terminal itu. Sebelas lewat sepuluh. “Bagaimana bisa?”

“Jam tanganmu sempat mati saat di Sapuran tadi, ingat?” ujar gadis di sebelahnya.

“Ah, ya. Kenapa aku bisa sebodoh ini?! Bus selanjutnya berangkat jam berapa, Pak?”

“Bus selanjutnya berangkat malam. Jam delapan empat lima.”

Pemuda itu menggeleng. “Tak akan sempat.”

“Mungkin ini pertanda kalau…”

Gadis itu tertahan, tak berani untuk melanjutkan. Hingga kemudian, terdengar dering telepon.

“Dari siapa?” tanya pemuda itu.

“Revan.”

Pemuda itu tersenyum lemah. “Kalau begitu, ini bukanlah pertanda apapun. Kau harus pulang, besok hari besarmu. Jawab telepon calon suamimu itu, aku akan cari rental mobil terdekat.”

Advertisements

One thought on “Bukan Pertanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s