Dimana?

Kantor. Masih kerja.

Pulangnya mampir, kan? Atau nginep aja sekalian? đŸ˜‰

Liat nanti.

Sempetin yaa, aku kangen :*

Kumasukkan smart phone ke saku. Apakah aku juga merindukannya? Tidakkah rindu terlalu mewah untuk kami yang hanya bertemu untuk urusan selangkangan? Tapi masa bodoh, lah! Bercumbu dengannya lebih baik dibanding bergelut dengan laporan membosankan ini.

Kumatikan komputer dan segera berkemas. Seharusnya jam segini jalanan sudah lebih lenggang. Tapi aku ingat harus mampir ke swalayan. Membeli pengaman.

Dan, di sinilah aku. Di depan pintu kamar indekosnya. Haruskah ku ketuk? Atau sebaiknya aku berbalik dan pulang menemui istriku?

Untuk apa? Untuk mendengarnya berteriak marah-marah? Untuk dilempari barang-barang olehnya?

Akhirnya kuketuk pintu di depanku. Tak lama, perempuan berpakaian minim membukanya. Beberapa menit kemudian, kami sudah saling memeluk dan berpagut. Bibir dengan bibir. Dada dengan dada. Perut dengan perut. Sampai ke bagian paling intim kami berdua.

Desahan menggema di ruangan sempit ini. Bulir-bulir keringat membasahi kulit kami berdua. Berbagai gaya dan posisi kami peragakan. Tak ada sudut kamar yang terlewat kami jajahi. Semua demi menuntaskan rindu, demi memuaskan nafsu.

Permainan berakhir. Kami terkapar di ranjang. Kelelahan. Tapi setelah bisa mengatur napas, aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh.

“Menginaplah,” bujuknya saat aku keluar kamar mandi.

“Tak bisa,” jawabku sambil mengenakan celana dalam.

“Tapi aku masih kangen,” ucapnya merajuk.

“Aku harus pulang,” kataku seraya memungut celanaku di lantai.

“Untuk apa kau pulang? Tak ada yang menunggumu di sana, bukan?”

Aku membisu meski tanganku tetap cekatan memasangkan pakaian ke tubuh. Sementara ia terdiam menunggu jawabanku. Di atas kasur itu, tubuhnya diposisikan sedemikian rupa hingga tampak begitu menggoda. Ah, celanaku mulai sempit lagi.

“Sayang, untuk apa kau pulang?”

Ia mengulang pertanyaan yang belum kujawab. Kini, aku sudah berpakaian lengkap. Tas sudah di punggung. Kaus kaki pun sudah terpasang. Hanya sepatu yang masih kujinjing.

“Maaf, aku hanya harus pulang,” kataku.

Aku berbalik lalu bergegas menuju pintu.

“Besok mampir lagi ya, sayang,” teriaknya dari belakang.

***

“Ibu sudah tidur, Bik?” tanyaku pada Bik Sulis.

“Sudah, Pak! Barusan saja.”

“Tadi Ibu kambuh?”

“Ehmm,” Bik Sulis tampak ragu. “Tadi sih si Ibu marah-marah dan ngebentak saya, Pak. Tapi, untungnya nggak sampai mecahin barang kayak tempo hari.”

Untungnya?

“Ya, sudah. Saya ke kamar dulu, Bik!”

“Iya, Pak!”

Kutinggalkan Bik Sulis lalu segera menuju kamar. Saat membuka pintu, ku lihat istriku tengah berbaring di ranjang sambil mendekap sesuatu. Kuhampiri dia. Matanya terpejam. Wajahnya sungguh terlihat damai saat tertidur.

Perlahan, kuangkat lengannya untuk mengambil benda yang ia peluk. Syukurlah ia tak sampai terbangun. Benar dugaanku. Ia memeluk bingkai foto anak kami. Almarhum anak kami.

Enam bulan lalu, kami mengalami kecelakaan dan anak kami meninggal. Sejak saat itu istriku jadi begini. Pandangannya seringkali kosong. Omongannya melantur tak karuan. Ia sering menangis dan marah tanpa sebab. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa ia tak bisa menerima kenyataan bahwa kami telah kehilangan anak kami. Ia terlampau merindukannya.

Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku yang kehilangan dua orang di sini? Aku kehilangan anakku. Aku juga kehilangan istriku yang dulu. Bukankah aku yang seharusnya paling merindu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s