“Elo yakin, enggak apa-apa gue tinggal?”

“Iya. Udah, pulang sana!”

“Oke deh. Bye!”

Mira melangkahkan kakinya menuju elevator, meninggalkanku sendirian. Salahku sendiri mengambil enam hari sisa cuti hanya karena patah hati. Dan kini, aku harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

Aku menyeruput sisa kopi yang tinggal seteguk. Ini gelas ketiga malam ini. Segelas lagi? Bolehlah.

Aku bangkit dari kursi dan segera menuju pantry. Dalam perjalanan, aku melewati sebuah cermin besar yang diletakkan di tengah ruangan. Aku memutuskan untuk berhenti sebentar.

“Astaga!”

Bayanganku di cermin tampak seperti mayat hidup. Tubuhku kurus kering karena malas makan. Garis bawah mataku menghitam, hasil dari kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Rambutku kusut tak karuan. Dan wajahku dipenuhi tumpukan minyak.

Aku segera menyisir rambutku dengan jari lalu mengusap wajahku dengan tissue. Setelah merasa lebih baik, aku kembali melangkah menuju pantry.

Beberapa sendok kopi bubuk sudah kumasukkan ke dalam gelas, namun saat melangkah ke dispenser…

“Sial!”

Airnya habis. Jam segini, semua office boy tentu sudah pulang. Mana mungkin aku kuat mengangkat galon air sendirian?

“Habis, ya?”

Sebuah suara mengagetkanku. Suara pria. Dalam, dan… seksi. Aku menoleh. Randi. Aku tak tahu dia juga lembur hari ini. Mereka, bagian IT, memang punya ruangan sendiri yang terpisah. Dan, aku pun baru tahu Randi punya suara seseksi itu.

“Iya, nih. Kamu mau minum juga?”

Pertanyaan bodoh. Sudah jelas ia membawa botol minum kosong.

“Yup. Sebentar, ya!”

Ia meletakkan botol kosong tersebut di meja, lalu dengan cekatan mengganti galon kosong dengan yang baru. Aku mengamatinya dalam diam. Otot bisepnya menonjol saat ia mengangkat galon penuh air itu. Aku baru tau Randi sekekar itu. Seberapa sering ia pergi ke gym, ya?

“Kalau mau bikin kopi, tunggu airnya panas dulu, ya,” ucap Randi membuyarkan lamunanku.

“Oh, oke. Thanks, ya!”

Randi pun mengisi botol minumnya, sementara aku beranjak menuju sofa di sudut pantry. Setelah penuh, Randi tak langsung pergi. Ia malah duduk menemaniku.

“Kamu baik-baik saja?”

“Apa? Ya, airnya pasti panas sebentar lagi.”

“Bukan itu,” ucap Randi. “Maksudku tentang… mantanmu. Gosip menyebar cepat di sini, kau tahu?”

“Ah, ya.”

Aku menunduk. Bahkan Randi yang notabene hanya sebatas rekan kerja pun tahu masalahku. Padahal kami tak pernah membahas apapun selain masalah pekerjaan. Menyapapun hanya sekedarnya. Kami bekerja di tempat yang sama namun hidup di dunia berbeda. Seperti itulah.

“Kau baik-baik saja?” Randi mengulang pertanyaannya.

Aku menghela napas sebentar, lalu berkata, “Aku sudah menangis berhari-hari, tapi rasanya itu tak membantu. Sakitnya masih sama, mungkin hanya berkurang sedikit. Entahlah, mungkin aku sudah begitu mencintainya, atau terlalu begantung padanya. Perselingkuhannya benar-benar membunuhku, kau tahu?”

Randi tersenyum prihatin. “Kalau begitu, maafkan dia.”

Aku terbelalak. Apa aku tak salah dengar?!

“Sakit hati itu adalah masalah kita sendiri,” lanjut Randi sebelum aku bisa menolak argumennya. “Sebab mereka yang membuat kita sakit hati bisa saja tidak merasa atau tidak sadar kalau sudah berbuat salah. Jadi, kuasa untuk menentukan sakit hati atau tidak, ada pada diri kita sendiri. Bukan mereka.”

“Tapi…”

Aku tak punya apapun di kepalaku untuk menyangkal perkataannya. Randi benar. Aku sakit hati akibat perselingkuhan itu. Namun apakah aku akan sembuh jika mantan kekasihku meminta maaf? Tidak. Seperti kata Randi, kuasa untuk sakit hati atau tidak ada pada diri kita sendiri. Aku baru tahu ternyata Randi sebijak ini.

“Apakah dengan memaafkannya, sakit hatiku akan sembuh?” tanyaku.

“Ya. Memaafkan itu awal. Memaafkan, meski tidak diminta, akan membantu kau menerima kenyataan yang tak sesuai harapan. Maaf menyembuhkanmu dari dalam.”

Aku merenungkan kata-katanya sejenak, lalu mengangguk.

“Baiklah, aku akan coba memaafkannya.”

Randi tersenyum. Dan aku baru tahu Randi punya senyum semanis itu.

Advertisements

One thought on “Move On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s