Aku menunggu hingga tetanggaku menjauh. Aku tak ingin pria itu tahu bahwa aku tak mengunci pintu unit rumah susunku. Aku tak terlalu mengenalnya, selain bahwa pria tersebut tinggal sendirian.

Aku sengaja tak mengunci pintu. Aku sungguh berharap istriku akan kembali. Aku ingin menegaskan bahwa pintu kami selalu terbuka untuknya. Bahwa aku selalu bersedia menerimanya kembali.

Aku masuk dengan perasaan hampa. Tak ada lagi sapaan manisnya. Tak ada lagi sambutan hangatnya. Bahkan aku bohong jika bilang tak merindukan ocehannya saat melihat sepatuku tak diletakkan di rak. Tapi aku melakukannya. Kuletakkan sepatuku di rak, persis disebelah sepatu kets yang tak ia bawa. Aku ingin menunjukkan bahwa aku sudah berubah agar ia tak ragu kembali padaku.

Sebaiknya kuceritakan dari awal. Kami berpacaran saat SMA. Setelah lulus ia melanjutkan kuliah sementara aku memilih bekerja di sebuah supermarket. Semula hubungan kami berjalan lancar hingga dua tahun kemudian orang tuanya berencana untuk menjodohkan dirinya dengan seorang pria yang lebih mapan.

Kami panik mendengar ini. Setelah mencoba bernegosiasi yang akhirnya malah memperparah hubunganku dengan orang tuanya, kami memutuskan untuk kawin lari. Kami menikah, pindah kota, dan bekerja serta menyicil sebuah unit rumah susun bersama.

Aku membuka lemari pendingin. Nampaknya banyak yang harus kubuang. Bodoh memang membeli persediaan makanan untuk dua orang. Tapi aku ingin saat ia kembali ia bisa langsung memasak makanan untuk kami berdua. Aku ingin ia tak perlu meneriakiku untuk pergi berbelanja seperti dulu.

Selesai makan aku segera mandi lalu bersiap untuk tidur. Aku benar-benar ingin hari ini segera berakhir. Aku layaknya mayat hidup tanpanya. Hidup memang, namun tak ada semangat. Tak ada gairah.

Begitulah. Semenjak kepindahan kami ke kota ini, kami terpaksa hidup mandiri. Saling bergantung satu sama lain. Hanya ada kami berdua. Keadaan kami serba kekurangan. Kami jadi lebih sensitif dan sering beradu argumen. Tapi meski begitu, aku bersumpah tak pernah menyakitinya secara fisik.

Tapi kemudian dia pergi. Tak banyak barang yang ia bawa. Beberapa setelan, hampir semua pakaian dalam, dompet, serta semua kosmetik miliknya. Selain itu, semua ditinggalkan. Termasuk aku.

Aku sudah mencoba mengontak keluarganya. Tapi nihil. Ia tak kembali ke sana.

***

Kami membuka pintu bersamaan. Tetanggaku yang kemarin. Untunglah ia nampak terburu-buru pergi. Aku masih ingin membiarkan pintu tak terkunci. Aku masih berharap istriku kembali.

Hari ini seperti biasa, aku bekerja tanpa gairah. Dan saat tengah hari, ponselku berdering. Nomor tak dikenal.

“Halo?”

Suara di seberang menyebutkan namaku.

“Ya, benar. Ini dari mana?”

“Kami dari kepolisian, Pak,” jawabnya.

Aku memang sudah menghubungi polisi perihal kepergian istriku. Aku juga sudah menceritakan tentang pernikahan kami yang tak direstui dan pertengkaran-pertengkaran kecil yang selama ini terjadi.

“Bagaimana, Pak? Apa ada kabar terbaru tentang istri saya?”

“Ya, kami sudah menemukan istri bapak.”

“Alhamdulillah! Di mana dia sekarang, Pak? Bagaimana keadaannya?”

“Jadi, ternyata selama ini ia diculik dan disekap oleh tetangga Anda sendiri. Mulutnya dibungkam jadi kita tak bisa mendengar teriakannya. Dan keadaannya… sebaiknya Anda datang kemari, yang jelas istri Anda masih trauma karena perlakuan penculiknya.”

Aku mematung. Kukepalkan tangan hingga jari-jariku sakit. Bayangan wajah tetanggaku itu muncul sekelebat dalam pikiran.

Aku akan membunuhnya, batinku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s