“Tolong!”

Suara itu berasal dari lubang di sela-sela akar pohon yang tumbuh di halaman belakang. Meski takut, Surya mencoba menghampirinya.

“Kumohon… tolong…”

Suara itu terdengar putus asa. Surya pun mengumpulkan segenap keberanian untuk merangkak ke dalamnya. Lubang tersebut semacam terowongan dengan cahaya di ujungnya. Surya terus merangkak hingga sampai ke ujung.

Surya tak mempercayai pengelihatannya. Ia baru saja keluar dari lubang di pohon yang mirip dengan yang ada di belakang rumahnya. Namun ini bukan tempat yang sama. Rerumputan di sini berbeda. Dan, rumah kayu di depan jelas bukanlah rumahnya.

“Hei, tolong aku!”

Surya mendongak. Di atas sana, seorang gadis tengah bergelantungan pada sebuah sapu yang melayang.

“Melompatlah! Raih kakiku!”

Surya masih bingung dengan yang sebenarnya terjadi, namun ia tetap melompat. Tak sampai. Surya mengambil ancang-ancang, bersiap melompat lebih tinggi. Hap!

Beban yang semakin berat membuat sapu tersebut melayang lebih rendah. Setelah surya menapakkan kaki ke tanah, ia menarik sang gadis.

“Terima kasih!” ucap gadis itu saat kakinya sudah menyentuh tanah. “Aku memang tak seharusnya bermain-main dengan sapu terbang ibuku.”

“Bagaimana ibumu bisa punya sapu terbang?”

“Semua penyihir dewasa memilikinya. Orang tuamu tentu punya satu, bukan?”

“Tidak. Ayahku tak punya sapu seperti itu.”

“Benarkah? Bagaimana dengan ibumu?”

“Entahlah, ia meninggal saat melahirkanku.”

“Maaf. Ayahku juga meninggal sebelum aku lahir.”

“Surya!” panggil sebuah suara.

“Itu ayahku. Aku harus kembali.”

Surya berbalik dan bergegas menuju lubang keluar tadi. Saat sampai di sana, ia menengok.

“Hei, siapa namamu?”

“Mentari.”

Nama yang bagus, batin Surya.

Surya masuk ke dalam terowongan. Ia terus merangkak hingga keluar dari lubang di pohon belakang rumahnya.

“Ayah!” Surya berteriak sambil berlari ke arah rumah.

Ia sampai di pintu belakang tepat saat ayahnya membuka pintu.

“Surya, dari mana saja kau?”

“Ayah, aku baru saja bertemu penyihir. Aku memang tak melihatnya melakukan sihir atau membaca mantra apapun. Tapi ibunya punya sapu terbang dan…”

“Di mana lubangnya?”

“Di sana!”

Surya menarik ayahnya ke sana. Namun lubang tadi telah tertutup akar pohon dan gundukan tanah. Seolah tak pernah ada lubang di sana.

“Tapi tadi…”

“Lubangnya sudah tertutup, Nak.”

“Apa?”

“Lubang yang menghubungkan dunia kita dan dunia ibu beserta saudarimu. Mentari. Saudari kembarmu bernama Mentari.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s