Kami berdua berteriak. Tak satu pun yang mau mengalah. Tak ada adu fisik, tak pernah ada hal semacam itu di hubungan kami. Tapi ini lebih sakit.

Aku tak pernah membayangkan ini saat mengikat janji. Tak pernah tau ada sisi lain darinya yang muncul belakangan. Tapi kami terikat. Aku terlalu membutuhkannya dibanding mencintainya.

Dirinya tak berbohong. Hanya tak mengungkapkan kebenaran. Aku bahagia kala aku tak tahu. Bahagia saat yang ku tahu semua baik-baik saja. Persetan dengan kebenaran. Kebenaran itu menyakitkan.

“Lalu, kenapa kau masih di sini? Kenapa tak bermalam dengan istrimu yang lain, heh?”

“Kau.., jadi kau sudah tahu?”

Aku tak bangga jadi yang pertama. Karena harapku jadi satu-satunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s