Entah sudah berapa lama aku menunggu. Rasanya lebih lama dari selamanya. Bukan, aku tak menghitung dengan satuan detik. Aku menakar dengan satuan rindu. Seberapa aku makin merindu kala aku terus menunggu.

Akhirnya datang juga. Ia masih sama cantiknya dengan ingatan terakhirku. Wajahnya yang minim polesan masih sama menariknya. Caranya memadupadankan pakaian berwarna pastel tetap menggoda dengan cara yang sama.

Tapi ia tak sendiri. Jemarinya saling tergenggam dengan seorang bocah perempuan. Sementara jemari lain si bocah pun tergenggam erat dengan jemari seorang lelaki tampan. Ah, aku seperti sedang menyaksikan iklan layanan masyarakat dalam mempromosikan program keluarga berencana.

Aku memperhatikan mereka dari sudut taman. Bahagia. Itulah yang terpancar dari wajah ketiganya saat ini. Terkadang, tak perlulah menghabiskan banyak dana untuk meraih kebahagiaan. Saat berkumpul bersama mereka yang kau cinta, sudah jauh lebih dari cukup.

Waktu terus berlalu. Rindu ini seakan tak terpuaskan. Aku ingin lebih lama lagi menatapnya. Lebih lama merasakan eksistensinya di sekitarku.

Namun akhirnya mereka berajak pergi meninggalkan taman. Aku mengikuti dari jarak aman agar tak tampak bagai penguntit. Kuberitahu kalian apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukan, aku bukan peramal atau semacamnya. Aku hanya pernah mengalaminya. Aku telah belasan kali menyaksikannya.

Wanita itu akan mati.

Ya, mati.

Setelah meninggalkan gerbang taman ini mereka harus menyebrang jalan. Saat sampai di seberang, angin akan tiba-tiba berhembus kencang dan menerbangkan topi si bocah perempuan. wanita itu akan refleks mengejar topi tersebut hingga kembali ke jalan. Saat itulah, pemuda ingusan yang mengendarai sepeda motor secara ugal-ugalan akan menabraknya. Saat itulah, wanita tersebut menghembuskan napas terakhirnya.

Satu kali, aku pernah coba berjalan di belakang mereka. Kutangkap topi si bocah tepat saat dihembus angin. Sang wanita selamat dari tabrakan dengan pengemudi ugal-ugalan itu. Tapi, tak jauh dari sana, ada perampokan sebuah toko swalayan. Pelaku membawa senjata api. Saat kabur, ia menembakkannya secara sembarang. Satu peluru nyasar menembus tubuh wanita itu.

Apapun usaha yang kulakukan, wanita itu akan tetap mati hari ini. Aku hanya bisa mengubah skenarionya, tapi tidak dengan hasil akhirnya.

Mereka sudah sampai di seberang. Dari depan pagar taman, kusaksikan topi si bocah terbang dihembus angin. Dan dari kejauhan kudengar suara deruan sepeda motor yang semakin mendekat.

Aku menutup mata.

***

Aku membuka mata. Semuanya putih. Kini, aku tengah berada dalam sebuah peti seukuran orang dewasa. Penutupnya terbuka. Kulihat wajah manis seorang gadis tengah menatapku. Wanita itu selamat? Ah, bukan. Mereka hanya mirip. Genetik, ibu dengan anaknya.

Gadis itu membantuku untuk duduk. Kepalaku begitu pusing dan aku terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. Gadis itu mengelap darah yang keluar dari mulutku dengan handuk lalu membantuku keluar dari peti.

“Ayah sudah puas sekarang?”

“Aku tak akan pernah puas, nak,” jawabku. “Hati ayahmu ini akan terus merindu.”

“Terserah!” gadis itu meninggikan volume suaranya. “Tubuh ayah tak lagi kuat untuk menembus waktu. Ayah harus merelakan ibu, mengerti?”

Ya, gadis itu benar. Aku harus merelakan istriku. Untuk beberapa hal, ada garis Tuhan yang tak bisa diubah. Sekeras apapun manusia berusaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s