Hari ini adalah hari pertama bulan pertama di tahun yang baru pada penanggalan Tionghoa. Untuk memperingati tahun baru Imlek ini, keluarga besar kami selalu berkumpul di rumahku. Eh, rumah ayahku maksudnya.

“Ah, Thomy! Sini, sini! Belum merit ya? Nih, Kukuh kasih angpao biar lancar jodoh.”

“Makasih, Kuh! Gong xi, Gong xi!”

Itu tadi Kuh Chandra, adiknya Mama. Beliau punya toko handphone di glodok, roxy, mangga dua, dan beberapa tempat lain yang tak bisa kusebutkan semuanya karena FF ini dibatasi 500 kata. Eh, apasih?

“Thomy! Thomy!” ini A-em Tika, istrinya Ape Hendra, Kokohnya Papa. “Belum melit juga lu olang yah? Udah umul belapa lu sekalang, hah? Umur belapa lu?”

Aih, A-em Tika tuh ngomongnya lucu. Cadel-cadel gitu.

“Ehmm… Dua enam, A-em,”

“Ya ampun, dua enam belum melit lu? Ah, Sini lu! Gue bagi angpao supaya cepet melit lu, yak!”

“Iya, A-em. Makasih yaa! Gong xi, Gong Xi!”

Jujur, malu sebenarnya di umur segini masih menerima angpao. Kenapa gak ditransfer aja sih? Hehe.

“Kukuh, Kukuh! Bagi angpao dong!”

Nah, yang ini Ivan, keponakanku. Anaknya Cici Erin.

“Ehm, nih! Tapi nggak pake angpao ya,” ujarku seraya menyerahkan lembaran uang.

“Aduh, aduh, Thomy! Lu orang ngapain?!” ini Ci Erin. “Elu tuh yak belom merit, nggak boleh ngasih angpao. Nanti lu jauh jodoh.”

“Tapi, Ci…”

“Nggak ada tapi-tapi lu yak!  Mau lu jadi… Apaan tuh? Ehm… Jones, yah? Iyah itu, jones. Jomblo gemes. Eh, jomblo ngenes maksudnya. Hah? Mau lu?”

Hah?! Hanya karena belum menikah, masa iya nggak boleh berbagi?!

“Eh, Thomy! Masih belum merit juga lu orang? Hah?” tanya Acek Sony, adiknya Papa.

“Belum, Cek,” jawabku malu-malu.

“Homo lu, yak? Maho-maho kayak anak jaman sekarang? Demen main belakang lu, yak?”

“Enggak lah, Cek! Dih, amit amit!” sanggahku.

“Ya kalau enggak, carilah pacar!” ujar Ci Erin sambil menabok punggungku. Ya, MENABOK bukan menepuk. “Merit lu orang buruan!”

“Iya, Ci. Lagi PDKT, doain aja!”

“Eh, kok Yeni nggak tau Kokoh lagi pedekate, sih?” tanya Yeni, adikku yang paling nyebelin. “Kirain belom bisa move on dari Bellina.”

Bellina cinta pertama sekaligus pacar pertamaku. Aku butuh bertahun-tahun untuk bisa move on darinya.

“Eh, nggak semua urusan pribadi gua harus diceritain ke elu, kan?”

“Nah, gitu dong,” Acek sony menambahkan. “Imlek tahun depan udah bawa gandengan lu, yak? Kalau perlu lu orang nikahin deh tuh, yak? Biar mulai bagi-bagi angpao tahun depan lu, hah?”

Beep. Smartphone-ku bergetar.

Aku gak bisa. Terlalu banyak perbedaan diantara kita. Maaf. Lebih baik kita ambil jalan masing-masing. Setidaknya kita masih bisa berteman. You will always be inside my heart..

“Heh, HP mulu lu orang mainin. Jawab tuh Acek lu!”

“Eh, apa?”

Aku terlalu fokus membaca pesan dari Aisyah, gebetanku.

“Tahun depan bisa bawa gandengan lu, yak?”

Aku harus jawab apa?

“Ehm…”

Kenapa semua mata jadi tertuju padaku sekarang? Aku bukan miss universe loh!

Hei, otak! Pikirkan sebuah jawaban!

“Amin.”

Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s