Kebebasan selalu layak dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

“Arabika, kopi bumi asli,” ujarnya pada pramusaji berbangsa Vulcan.

Harga segelas kopi dari bumi memang teramat mahal. Tapi kualitas selalu berbanding lurus dengan harga, bukan? Terlebih, kedai paling laris di galaksi bima sakti ini benar-benar memproses biji kopi dengan penggiling, bukan laser blu-ray.

Sambil menunggu pesanan, ia menekan tombol bertuliskan ‘Computer’ dan tombol lain bertuliskan ‘Internet’ di tepi meja. Seketika muncul layar dan keyboard virtual di depannya. Pria itu pun bergegas mencari informasi tentang keberadaan partner in crime-nya.

“Segelas kopi arabika asli bumi,” ujar seorang pramusaji bertangan empat seraya meletakkan cangkir kopi di meja. “Selamat menikmati!”

Pria itu menghentikan aktifitasnya sejenak demi menghirup aroma kopi asal planet bumi itu. Ah, entah sudah berapa lama ia tak menghirup wangi sepekat ini. Ia sudah berhenti menghitung hari sejak dipindahkan ke penjara di planet Lail, yang jaraknya terlampau jauh dari bintang terdekat hingga tak pernah mendapat cahaya sungguhan.

Didekatkan gelas itu ke bibirnya. Kemudian disesapnya air hitam itu sedikit demi sedikit. Ia begitu bernafsu hingga setengah gelas habis dalam sekejap. Setelah merasa cukup, ia meletakkan gelas itu dan kembali bergelut dengan komputer virtual didepannya.

Itu dia. Galaksi seberang, Andromeda. Tak terlampau jauh jika ditempuh dengan Galaxy Shinkansen 8000. Tapi cukup terpencil sebagai tempat persembunyian. Mantan partner in crime-nya memang masuk daftar pencarian orang setelah perbuatan mereka dulu. Terbilang beruntung, dibanding pria yang harus mendekap di penjara antar galaksi itu.

“Bersabarlah, sebentar lagi aku akan membalasmu,” ujar pria itu.

Tak lama, pria itu sudah dalam perjalanan menuju galaksi Andromeda dengan membawa sejumlah biji kopi yang sebelumnya ia minum. Jumlah kredit di money card-nya pasti berkurang banyak. Tapi setidaknya masih cukup untuk perjalanan ini.

***

Pintu di depannya terbuka. Kedua pasang mata itu saling bertemu.

“Hai! Aku ke sini untuk membalasmu,” sapa pria yang tadi mengetuk pintu.

“K-kau…”

“Ya, aku sudah bebas,” ucapnya sambil tersenyum. “Dan menurut undang-undang antar galaksi, tahun ini juga batas kadaluarsa kasus kita. Kau tak perlu lagi bersembunyi sekarang.”

“Ya, tapi…”

“Sudahlah, biarkan aku masuk ke dalam. Perjalanan lintas galaksi ini benar-benar melelahkan, kau tahu? Oh ya, aku juga membawa biji kopi arabika asli bumi,” ucapnya sambil mengangkat sekantung bungkusan. “Kau pernah mentraktirku ini, bukan? Kini biarkan aku membalasnya.”

“K-kau masih mengingatnya?”

“Tentu saja,” ujar pria itu. “Oh, aku lupa. Waktu sudah berlalu begitu lama. Kau tentu sudah punya kekasih sekarang.”

“Belum,” ucap wanita di depannya itu cepat-cepat.

“Benarkah?”

Wanita itu menunduk.

“Tentu saja,” jawabnya. “Karena aku menunggumu.”

END

 

*Vulcan: Spesies fiksional dalam dunia fiksional Star Trek (serial TV, novel, dan film) yang memiliki telinga lancip serta alis menghadap ke atas

** Paragraf pertama diambil dari cerpen ‘Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati’ karya Agus Noor

Advertisements

3 thoughts on “Berbalas Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s