Namanya Olivia. Panggil saja ‘Liv’, pintanya. Senada dengan ‘Leap‘, katanya. Bukan tanpa alasan sebenarnya. Karena dirinya terlahir di tanggal 29 bulan dua. Di tahun kabisat tentunya.

Tanggal yang unik. Begitupun dengan Liv, si anak cantik. Polah tingkahnya selalu menarik. Pernah ada perundung bernama Taufik. Aku dihardik. Lalu Liv menghajarnya saat siang terik. Liv satu-satunya yang berani melawan si bocah tengik.

Bertahun setelahnya. Aku mulai mengenakan seragam berbeda. Namun aku dan Liv selalu bersama. Teringat saat masa orientasi siswa. Ia mencakari kakak kelas yang meneriakiku seenaknya.

Liv selalu begitu. Selalu ada di sisiku. Selalu jadi pelindungku. Namun waktu kian berlalu. Kami tak lagi bisa seperti itu. Akulah yang berubah lebih dulu. Aku yang bukan lagi aku yang dulu.

Sementara Liv terus jadi dirinya. Liv tetaplah Liv yang sama. Liv tetap anak cantik memesona. Tak pernah tumbuh badannya. Tak pula jadi makin dewasa.

Dan tepat dua sembilan bulan dua tahun kabisat. Di ulang tahun Liv yang ke empat. Meski usianya sudah empat kali lipat. Meski terasa sungguh berat. Aku mulai berhenti mengkhayalkannya sebagai sahabat.

Bye, Liv!

Advertisements

3 thoughts on “29 Februari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s