“Lama banget, sih?!”

Mira, sahabat sehidup sematiku, menyelonong masuk saat aku membuka pintu.

“Yaa ampuun, Sasha! Ini flat lo udah macam kapal pecah, tau gak?!” keluh Mira. “Dan itu apaan sterofoam mie instan sampe numpuk gitu?! Kapan terakhir kali lo makan yg bener, hah?!”

“Eh, ini gue baru mau keluar beli makan kok.”

“Mau beli apa, lo? Mie instan lagi, kan?”

“Hehehe.”

“Sebentar,” ucap Mira seraya mengeluarkan smart phone dari sakunya. “Nah, gue udah pesen makanan yang layak via kurir online. Sekarang lo bantuin gue ngeberesin flat berantakan lo ini.”

“Njeh, Ndoro!”

Seminggu. Sudah seminggu aku putus dengan Mario. Seminggu pula aku cuti dari pekerjaanku. Seminggu penuh aku mengurung diri di dalam flat. Dan sudah seminggu lamanya aku hanya makan mie instan.

Darling, I’m so sorry about your ex,” ucap Mira usai kami membereskan seluruh flat. “Tapi lo nggak boleh kayak gini terus, life must go on. Keluarga lo butuh lo, perusahaan butuh lo, gue butuh lo.”

“Butuh temen gosip maksud lo?”

“Ya, plus temen shopping, temen ngecengin cowok kece, temen nyinyirin orang, de-el-el.”

“Dasar! Iya, besok gue gawe. Cuti gue juga udah abis kok.”

“Bagus deh, tapi lo sendiri gimana?”

Aku menghela napas.

“Masih sakit banget, Mir,” ucapku perlahan. “Setiap gue inget Mario, gue selalu jadi kepengen nangis.”

“Gitu, yah?”

Hening sejenak.

“Caraphernelia.”

“Eh, apa?”

“Caraphernelia. Kondisi saat seseorang pergi dari kamu namun dengan sengaja meninggalkan juga barang-barangnya yang kemudian membuatmu tersiksa dan baper to the max karena di barang-barang itu ada ingatan-ingatan yang menyesakkan,” Mira menjelaskan. “Lo harus buang semua barang-barang yang bikin lo inget Mario.”

“Gitu, yah?”

Kami pun mulai menyortir barang-barang yang berpotensi mengingatkanku pada Mario. Mulai dari bingkai foto kami berdua, boneka beruang yang pernah ia hadiahkan, hingga ke kaos couple yang sering kami pakai bersamaan.

“Apa lagi?”

Aku melirik power bank yang tergeletak di atas nakas. Aku masih membutuhkannya. Mungkin tak masalah jika aku menyisakan satu barang yang…

“Ini juga, yah?”

Sial!

“Tapi, Mir…”

“Nggak ada tapi-tapian,” ujar Mira seraya memasukkan power bank pemberian Mario ke dalam plastik sampah. “Udah semua?”

“Iya, udah,” sahutku.

“Oke, gue buang ini dulu,” ucap Mira. “Eh, itu kalender kok masih bulan Maret, sih? Ganti, lah!”

Aku berbalik. Ya, aku lupa menggantinya. Segera kuambil kalender tesebut, membalik halamannya, dan memasangnya kembali. Dan air mataku pun kembali jatuh.

“Lo kenapa?” tanya Mira.

Aku tak menjawab. Hanya menunjuk pada tanggal sepuluh yang diberi lingkaran serta tertulis ‘2nd Anniversary’ di atasnya.

 – 400 kata –

Berlanjut ke sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s