Nadia baru saja masuk ke apertemen kecilnya. Tempat paling nyaman baginya karena bisa menjadi dirinya sendiri. Ia pun menutup mata dan mulai berkonsentrasi. Perlahan, dari balik punggungnya, muncul sepasang sayap berwarna putih.

Detik itu juga, Nadia menyadari keganjilan di apartemennya. Sayapnya tak bisa digerakkan. Dan kemudian, terdengar tawa dari sudut ruangan.

“Kau bisa menyembunyikan sayapmu,” ucap sebuah suara. “Pantas saja kau bisa berbaur di sini.”

Dari sudut matanya, Nadia melihat sesosok wanita yang muncul entah dari mana. Bersamaan dengan itu, di setiap penjuru ruangan tiba-tiba saja dipenuhi benang tipis sejenis jaring laba-laba.

Kemampuan menghasilkan jaring dan menjadi transparan.

“Kau generasi kedua?” tanya Nadia pada wanita yang kini sudah berada di depannya.

“Ya,” Wanita itu memamerkan jemarinya yang masing-masing hanya berjumlah empat jari kurus dan panjang. “Kau sendiri? Apa kemampuan revolutif-mu?”

“Aku mutan evolutif,” jawab Nadia yang kini tak bisa bergerak karena sekujur tubuh dan sayapnya terlilit jaring.

Wanita itu mengulurkan lengannya. Dan dari bagian telapak tangan muncul jaring yang langsung saja melilit leher  Nadia. Ia tercekik. Dan sayapnya rasanya akan patah. Ia ingin berteriak, tapi tak ingin mengundang perhatian kaum orisinil.

Tak lama, jeratan jaring itu mengendur. Nadia terbatuk.

“Kami butuh kemampuan para generasi kedua,” ucap wanita tersebut. “Bergabunglah bersama kami untuk menghancurkan kaum orisinil.”

“Aku mutan evolutif,” ulang Nadia.

“Informanku tak mungkin salah,” ucap wanita itu. “Meski sayangnya ia sudah mati.”

Wanita itu tersenyum. Butuh beberapa detik hingga Nadia menyadari sesuatu.

Ibunya mati tercekik.

Kerinduan menjalar seiring gambaran wajah ibunya yang muncul bersamaan. Ibunya yang sedang tersenyum. Ibunya yang sedang menangis.

Jaring.

Ibunya yang mati tercekik jaring.

“K-kau..,” Nadia tercekat.

“Ya, aku yang membunuh ibumu.”

Pengakuan wanita itu membuat amarah Nadia meledak. Perlahan permukanan kulitnya tampak kemerahan. Lalu asap tipis muncul dari pori-pori di kulitnya.

“Sial, kau ternyata..”

Wanita itu tak sempat melindungi diri saat tubuh dan sayap Nadia sudah sepenuhnya berubah menjadi api. Jaring yang melilitnya hangus seketika. Dan bola api yang keluar dari telapak tangannya dilemparkan ke lawan satu-satunya diruangan itu.

Lawannya  terkena bola api pertama. Sebagian tubuhnya mengalami luka bakar. Ia sempat melawan saat bola api kedua menyerang. Tapi jaring-jaringnya dengan mudah terbakar.

Nadia menghampiri wanita yang tengah terkapar itu. Ia akan menghantamkan bola api di tangannya saat tiba-tiba saja memori itu masuk ke kepalanya.

Tawa ibu dan anak.

Nadia memadamkan api di tubuhnya.

“Kau punya anak?”

Wanita yang sudah sekarat itu mengangguk.

“Tidak!” jerit Nadia.

Ia harus menyelesaikannya di sini. Jika ia membunuh wanita ini mungkin saja anak yang dilihatnya tadi akan membalas dendam. Nyawa di balas nyawa. Jika begitu terus maka tak ada yang tersisa.

Nadia pun berlari ke arah jendela. Ia melompat dan menabrak jendela itu hingga pecah berkeping-keping. Sayapnya berkibar dan ia pun terbang menjauh.

Ia harus pergi. Rahasianya sebagai mutan generasi kedua sudah terbongkar akibat perkelahian barusan. Tapi ada satu hal yang mengganggunya.

Memori milik wanita itu.

Mengapa ia bisa membaca memori orang lain? Bukankah kemampuan seperti itu hanya milik mutan astral? Jika benar, apakah berarti ia memiliki tiga kemampuan? Apakah ini menjadikannya satu-satunya mutan generasi ketiga?

-497 Kata-

 

Kaum Orisinil – Manusia yang tidak bermutasi.

Mutan Evolutif – Mutan yang mengalami perubahan atau penambahan organ tubuh. Perbedaan mereka cukup terlihat dibanding kaum orisinil sehingga sulit berbaur. Namun ada beberapa mutan evolutif yang dapat menyembunyikan bagian tubuhnya yang bermutasi.

Mutan Revolutif – Mutan yang bermutasi hingga ke tingkatan dasar secara genetik. Mereka bisa mengubah tubuhnya menjadi transparan, api, metal, bahkan menjadi orang lain. Bisa membaur, meski terkadang perubahan mereka tak bisa dikendalikan seperti saat sedang marah.

Mutan Astral – Mutan yang memiliki kemampuan yang kasat mata seperti membaca memori, telekinesis, memanipulasi pikirian, dan sebagainya. Mereka mudah membaur dengan kaum orisinil asal tak secara terang-terangan menunjukkan kemampuannya.

Mutan Generasi Kedua – Mutan dengan dua kemampuan. Lahir dari pasangan mutan yang kawin secara silang. Tak banyak jumlahnya. Kebanyakan mati di usia amat muda.

Mutan Generasi Ketiga – Data tidak ditemukan. Belum pernah ada mutan yang memiliki tiga kemampuan.

Advertisements

2 thoughts on “Mutant War

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s