“Mau buat sup buah, Ma?” tanyaku melihat berbagai macam bahan yang terhampar di meja.

“Iya nih, sup buah  favoritnya kakakmu,” jawab mama semringah. “Kamu bantu Mama, ya?”

Kakak?

“Oke deh, Ma!” jawabku mantap. “Aku bantu apa dulu?”

“Nih, biji selasihnya direndam air hangat dulu ya, Dek!”

Aku pun mengambil mangkuk dan termos berisi air panas. Kutuang air panas dari termos ke mangkuk lalu kutaburkan biji selasih secukupnya ke sana.

“Sudah, ma.”

“Sekarang bantu Mama serut melon ya. Nih, udah mamah buang bijinya,” ujar mama sambil memberiku setengah buah melon. “Kamu serut pake baller ini ya, supaya bentuknya bulat-bulat.”

“Oke, ma!” seruku seraya mengambil baller yang disodorkan mama.

Aku pun mulai mencungkil daging melon menggunakan baller. hasilnya kukumpulkan di mangkuk stainless steel berukuran sedang. Sementara itu, Kulihat mama memotong buah apel, kiwi, dan buah naga menjadi berbentuk dadu.

“Eh, udah cukup Dek, nggak perlu semuanya diserut,” ujar mama usai memotong-motong buah. “Udah terlalu banyak itu. Kita ‘kan cuma mau buat empat porsi.”

Empat?

“Nah, sekarang kita buat supnya,” ucap mama seraya mengambil teko air. “Kamu keluarkan es batu dari freezer  ya.”

Akupun mengeluarkan tempat es batu dari freezer dan mengeluarkan potongan es batu dari tempatnya. Sementara itu, Mama mengambil air matang yang lalu dicampur dengan sirup cocopandan dan susu kental manis full cream. Terakhir, Mama mencampurkan biji selasih yang mengembang pasca direndam air tadi. Setelah semuanya diaduk secara merata, Mama kemudian mengambil sendok lalu mencicipinya.

“Kayaknya kurang manis deh,” ucap Mama. “Si Kakak ‘kan suka yang manis banget. Tambah susu kental manisnya deh.”

Lagi-lagi kakak.

Setelah dirasa Pas, Mama menambahkan es batu dan buah-buahan tadi ke dalam wadah lalu mengaduknya hingga rata.

“Nah, kamu bagi supnya jadi empat mangkuk ya dek,” ucap mama. “Mama mau ke kamar mandi dulu.”

Kenapa harus empat?

Aku pun mengambil empat mangkuk warna-warni dari lemari peralatan makan. Kuisi penuh tiga mangkuk tadi dengan sup buah yang baru saja dibuat. Lalu kutatap sisa sup buah di wadah. Cukup untuk satu mangkuk terakhir.

“Wah, adek bikin sup buah nih,” ujar Papa yang baru masuk dapur.

“Iya, Pa.”

“Ini kok ada satu mangkuk kosong.”

“Iya, Mama bilangnya bagi jadi empat mangkuk.”

“Eh, ada Papa,” ujar mama yang baru kembali kamar mandi. “Yuk Pa, makan sup buah buatan Mama sama Adek. Loh, kok satu mangkuk lagi masih kosong? Sini deh Mama aja yang isi, Adek panggil kakak aja ya.”

Kakak? Tapi kan…

Aku dan papa saling tatap.

“Loh, kok adek diam saja?” tanya Mama melihatku tak beranjak. “Panggil Kakak sana. Kita makan supnya bareng-bareng.”

“Ma, Kakak ‘kan sudah..” kata-kata Papa menggantung.

Meninggal.

“Sudah apa, Pa?”

“Ehm, Masa Mamah lupa,” ujar Papa. “Itu loh, Kakak ‘kan sudah berangkat study tour kemarin. Baru pulang besok.”

Bohong.

“Ah, masa sih?” Mama tampak meragukan Papa. “Iya kali yah, Mamah aja yang lupa. Yaudah kita makan dulu sup buahnya. Punya Kakak nanti Mama kasih tetangga aja.”

Advertisements

2 thoughts on “Sup Buah Favorit Kakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s