Kutunggu di gudang :*

Sebuah pesan dari lelakiku. Aneh, alih-alih mendatangiku di kamar, ia malah menyuruhku ke gudang. Didorong rasa penasaran, aku pun turun ke lantai bawah dan segera menuju gudang.

Tok! Tok! Tok!

Tak ada jawaban. Kuputar pegangan pintu lalu mendorongnya perlahan. Gelap. Kuraba dinding ruangan sempit itu lalu menekan tombol untuk menyalakan lampu. Seketika, nuansa oranye menyelimuti setiap sudut ruangan. Remang, tapi cukup membantu untuk melihat jelas.

“Hai, kemarilah!” ujar lelakiku.

Ruangan ini masih sama, dengan tumpukan barang yang bersandar pada dinding. Namun di tengah ruangan, yang luasnya tak seberapa, lelakiku tengah duduk di lantai di belakang meja yang berisikan hidangan untuk dua orang.

“Sebaiknya kau kunci pintunya,” ucap lelakiku setengah berbisik.

Aku menutup pintu lalu menguncinya. Dan bergegas duduk di sudut lain meja. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari bahwa barang-barang di ruangan ini kini tertumpuk rapi dan tak lagi berdebu.

“Apa ini?” tanyaku.

“Sebentar,” lelakiku mengambil korek api api lalu menyalakan empat batang lilin di sudut kiri dan kanan meja. “Ini yang orang-orang bilang Candle Light Dinner.”

Aku tersenyum. Tak menyangka lelakiku bisa seromantis ini. “Bukankah ini baru lewat satu dua jam dari waktu makan siang?”

“Aku tahu,” jawab lelakiku. “Tapi kita hanya punya waktu di siang hari seperti ini, bukan?”

“Ya,” jawabku getir. “Kita memang jarang punya waktu untuk berdua.”

“Maaf,” ucapnya seraya menggenggam tanganku.

“Tak apa, aku paham,” tuturku seraya menggenggam balik. “Dan sebenarnya kau pun tak perlu melakukan ini.”

“Aku memang bukan pria romantis,” ucapnya seraya menatapku dalam. “Tapi dirimu begitu mengagumi telenovela dan drama-drama sejenis. Aku tahu aku harus melakukan ini sesekali jika tak ingin kehilanganmu.”

Aku tersipu. Beruntung dengan minimnya cahaya di gudang berhasil menutupi wajahku yang mulai memerah. Kami pun mulai makan hidangan di meja. Tak banyak yang kami perbincangkan kala itu. Tapi gestur dan tatapan kami menunjukkan bahwa ini adalah waktu yang indah bagi kami berdua.

“Sudah jam empat, aku harus menjemput si Anj*ng.”

“Bisakah kau tidak memanggilnya dengan sebutan seperti itu?”

“Lalu, kau mau aku memanggilnya ‘Suamimu’?”

Aku cemberut.

“Hei, sudahlah. Jika semua berjalan sesuai rencana, pria itu tak akan lagi menghalangi cinta kita. Aku pun sudah lelah berpura-pura menjadi kacungnya.”

“Tapi..”

“Tak perlu khawatir,” ucapnya meyakinkanku. “Racun yang kuberikan padamu tak akan terlacak secara medis. Kau pun hanya memberikannya dalam dosis rendah setiap hari. Dalam beberapa minggu, kau tentunya sudah harus berpura-pura sedih akibat kematiannya.”

“Dan kita akhirnya bisa bersama.”

“Ya, dan rumah ini akan menjadi milik kita.”

Aku tersenyum membayangkan masa-masa indah yang akan datang itu.

Advertisements

2 thoughts on “Candle Light Dinner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s