Ini hari kedua aku menatap punggungnya. Pria yang sama, di tempat itu juga. Tengah menatap hamparan laut di depannya.

“Pantai ini memang kalah pamor dibanding pantai sebelah,” tutur seorang penduduk lokal yang kutemui.

Namun hal itu justru sesuai dengan keinginanku. Aku butuh ketenangan untuk menulis fiksi terbaruku yang tak kunjung selesai. Untuk meredam ocehan penerbit yang tiada bosan menagih karya teranyar. Tak kusangka, aku akan mendapatkan lebih dari itu.

Menemukanmu.

***

Mentari mulai kembali ke peraduan, meninggalkan sinaran jingga merona di langit senja.

“Apa aku mengenalmu?” ucapnya dengan wajah penuh tanya.

“Entahlah,” jawabku. “Tapi yang pasti aku mengenalmu.”

Pria itu memberikan mimik mengingat-ingat. Cukup lama, bahkan hingga aku mulai berhenti berharap. Namun tiba-tiba…

“Adrian?”

Ia ingat. Meski nantinya akan kembali lupa. Tapi tak apalah, aku tetap bahagia.

“Ya?” kuberikan senyum terbaikku.

Pria itu lalu memelukku seraya menangis tersedu. Aku balik memeluknya, jauh lebih erat. Menikmati saat-saat terindah dalam hidupku.

Saat Rama memelukku..

Saat Rama mengingatku..

Saat Rama tahu bahwa aku pernah, sedang, dan akan selalu ada di hidupnya..

Tangis Rama berhenti sejalan dengan terlepasnya pelukan hangat dariku. Wajahnya berganti memberi tatapan kebingungan seiring sinaran langit jingga yang berganti kelabu.

“S-siapa kau?” gagapnya.

“Bukan siapapun, hanya orang yang kebetulan melintas di dekat sini,” jawabku seraya memaksakan senyum. “Aku hanya berniat menemanimu.”

“Oh,” ucapnya masih kebingungan. “Terima kasih kalau begitu.”

“Bukan masalah,” jawabku sambil menahan tetes air mata jatuh.

“Sudah malam,” ucapnya seraya berdiri. “Aku harus pulang.”

“Oh, aku akan mengantarmu,” ucapku juga ikut berdiri. “Sepedaku ada di situ.”

“Aku tak mau merepotkan.”

“Tak apa, kita searah.”

“Kau tahu di mana rumahku?”

Tentu saja aku tahu. Aku sudah mendatangi  tempat itu setiap hari dalam lima tahun ke belakang. Mengantarmu pada ayah dan ibumu. Menggantikan mereka mengawasimu setiap hari. Juga menemanimu tiap menjelang senja. Di tempat kita pertama bertemu. Di sini.

“Kau sudah bilang sebelumnya, kau lupa?”

“Benarkah?”

“Ya,” jawabku.  “Oh, aku Adrian. Salam kenal.”

Kuulurkan tanganku..

Mengulang semuanya..

Memulai kembali dari awal..

Advertisements

2 thoughts on “Begin Again

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s