​Mereka sudah menguasai kota. Makhluk asing sialan itu masuk ke tubuh manusia, lalu menjadi benalu yang menguasai inangnya. Kami, manusia yang masih steril, terjebak di sebuah gedung tua untuk berlindung.

“Mereka adalah satu kesatuan. Jika kita membunuh induknya, mereka semua mati.”

Begitulah teori dari pria tua berkacamata bundar. Kami memanggilnya ‘Profesor’, meski tak ada yang benar-benar tahu latar belakang pendidikannya.

“Halo?”

Aku pasti bermimpi. Bukankah itu suara istriku?

Nyatanya mataku memang sedang terpejam saat menjadi petugas jaga di pintu masuk utama gedung perlindungan.

“Halo?”

Aku membuka mata. Menyadari bahwa suara itu bukanlah khayalanku. Aku bangkit dari duduk dan memandangi pintu baja di depanku lekat-lekat.

“Hei!” ucapku sedikit keras.

“Halo? Ada orang di dalam?”

“Ya.”

“Rr-Robert?”

Hatiku tergolak mendengar namaku disebut. Satu pertanyaan memenuhi benakku. Apakah ia istriku atau makhluk asing sialan yang mencuri tubuhnya?

“Robert, biarkan aku masuk,” pintanya. “Kumohon..”

Aku mempertimbangkan sejenak. Siapapun itu, wanita di luar sana pasti datang sendirian karena tak ada reaksi dari para sniper di lantai dua. Rasanya tak salah jika aku keluar sebentar menemuinya. Memastikan bahwa istriku benar masih hidup meski harapannya tipis.

“Aku akan membuka pintu, jadi mundurlah!” perintahku.

“Baik,” ucapnya diselingi jeda. “Sudah. Keluarlah Rob.”

Aku membuka pintu dan menemukan sosok istriku tak jauh dari sana. Ia kemudian tersenyum dalam tangis. Sudut hatiku yang sebelumnya gelap perlahan mulai mendapat sinarnya.

“Rob, benarkah itu kau?”

“Stop!” cegahku saat melihatnya melangkah. “Aku yang akan menghampirimu.”

Setelah beberapa langkah kutengok ke lantai dua, tempat para sniper berjaga. Kuberikan tanda bahwa keadaan aman meskipun tak sepenuhnya yakin.

Aku lanjut mendekati istriku yang sudah berhenti menangis. Ia hanya tersenyum sekarang. Membuatku bertanya, bisakah makhluk asing mencuri senyum indah itu?

 “Mary?” ucapku setelah kami hampir tak berjarak.

Ia mengangguk. Aku pun memeluknya erat. Melupakan kemungkinan bahwa tubuh yang kupeluk bukanlah milik istriku lagi. Melepaskan rindu pada sosok yang kupikir sudah di surga.

“Biarkan aku masuk,” ucap Mary. “Mereka.. makhluk itu.. sungguh mengerikan.”

Aku tak terlalu mendengarkan perkataanya. Air mataku jatuh karena telampau bahagia.

“I love you,” ucapku lirih.

Mary tersenyum. “Love you too,” balasnya.

Aku pun terbelalak. Menyadari bahwa kebohongan hanya indah saat kita tak tahu sedang dibohongi.

Kuambil pisau yang tergantung dipinggang dan segera menancapkannya tepat di jantung Mary. Ia memekik. Bukan dengan suara manusia tapi campuran suara jangkrik dan radio rusak. Dari mulutnya keluar benda asing berbuku-buku mirip kaki tarantula. Hitam legam dan tak manusiawi.

Kucabut pisau dari jantungnya tepat saat tubuh makhluk asing sialan itu mulai keluar dari mulut istriku yang sudah robek. Kukeluarkan seluruh tenagaku untuk mengayunkan pisau itu kembali. Kutikam tubuh alien jelek itu beberapa kali hingga suara lengkingannya tak lagi terdengar.

 “You never love me,” ucapku pada tubuh Mary yang tergeletak dengan alien jelek di atasnya.

Sang benalu bisa menguasai ingatan, tapi tidak dengan perasaan inangnya. Mary biasanya membalas ‘I know’ alih-alih ‘Love you too’.

“Rob!” panggil sebuah suara.

Aku berbalik dan menemukan Stuart, pria berbadang tegap yang ditunjuk sebagai kepala keamanan, berdiri di depan pintu dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Masuklah!” ujarnya. “Profesor menemukan cara untuk membunuh sang induk.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s