Jika kasih ibu adalah melindungi kita dari kelamnya dunia, maka kasih sayang seorang ayah adalah mendorong kita untuk menguasai dunia itu. (hlmn 293)

***

evernote-975007650399568

Judul : Sepatu Terakhir
Penulis : Toni Tegar Sahidi
Penerbit : Republika
Tahun terbit : Cetakan I, November 2012
Jumlah hlmn : 310 halaman

Ini adalah buku pertama yang selesai kubaca di tahun 2018. Bercerita dari sudut pandang Alin, anak seorang ‘bapak sepatu’ di desa kecil di Blitar. Berawal dari surat sang ayah, Alin akhirnya pulang dari Jakarta. Ayahnya ingin pensiun membuat sepatu. Hanya itu. Beliau tak merasa perlu memberikan alasan maupun penjelasan lebih lanjut.

… Namun surat ini begitu membisu, jangankan satu halaman, satu paragrap saja tak sampai! (hlmn 5)

Tentunya, Alin tak habis pikir dengan keputusan sang ayah. Sebelumnya, meski kehilangan anak, kala ditinggal istri, atau bahkan hingga ditipu pegawai sendiri, ayahnya selalu bisa bangkit dan pantang menyerah sampai bisnis sepatunya bisa sesukses sekarang. Kesuksesan yang tak hanya dinikmati sendiri namun juga disebarluaskan hingga menjadikan tempat tinggal mereka sebagai desa penghasil sepatu. Pak Marwan, ayah Alin, pun tak jarang diundang ke seminar-seminar untuk berbagi kisah suksesnya.

“Dan sepatu kita kelak akan bersaksi bersama dengan kaki ini di hari perhitungan kelak,” tutur ayah menutup ceramah kewirausahaan di sebuah seminar. (hlmn 34)

Tekad Pak Marwan sudah bulat walau Alin tak sepenuhnya menerima. Meski mereka tak punya hubungan darah, Alin bisa merasakan kebahagiaan yang terenggut dari hidup ayahnya dengan keputusannya sendiri.

Aku ditemukan oleh Ayah di sebuah kardus di sudut peron terminal bus antar kota. Tak ada nama, tentunya tak ada alamat, hanya kardus dengan selimut jarik batik yang pesing oleh pipisku. (hlmn 15)

Bersama Pak Kus, Mas Slamet, dan Mbah Joy, tiga pegawai senior di pabrik sepatu milik ayahnya, Alin berusaha menggagalkan rencana pensiun sang ayah. Usaha mereka memang tak sepenuhnya berhasil, namun juga tak seutuhnya gagal. Pak Marwan, dengan beberapa syarat dan ketentuan, akhirnya bersedia membuat satu pasang sepatu terakhir.

Dan yang terpenting, dengan membuat sepatu “terakhir”-nya, aku tahu akan ada banyak senyum di wajah ayahku lagi. (hlmn 87)

Tak kurang dari empat ribu dua ratus dua puluh tujuh orang mendaftar sebagai penerima sepatu terakhir. Sepatu pamungkas, yang dibuat dengan bahan terbaik, yang akan membuka jalan bagi kisah-kisah luar biasa yang akan didengar pasangan ayah dan anak tersebut.

Kisah penjual balon keliling,

“… Keceriaan adalah hak setiap anak meski kemiskinan sering merampasnya.” (hlmn 179)

seorang pengajar di daerah terpencil,

“Enggak apa-apa, kalau minggu depan kamu kosong, mau ayah ajak naik gunung.” (hlmn 194)

hingga mantan preman pasar.

“… Meski saya nakal, tapi kalau ibu sudah ngomong sesuatu, saya pasti nutrut, Mas” kata dia. (hlmn 246)

***

Secara keseluruhan, novel ini terbagi ke dalam tiga bagian. Perkenalan tokoh, kisah pensiun sang ayah, dan cerita para pemakai sepatu terakhir. Alin, sang tokoh utama, hanya diposisikan sebagai penonton yang menyaksikan cerita yang berjalan. Karakternya sendiri kalah kuat dibanding tokoh-tokoh sampingan seperti Mbah Joy atau Pak Slamet.

Meski begitu, hubungan ayah-anak antara Alin dan Pak Marwan digambarkan dengan cukup apik. Perdebatan kecil hingga candaan antar keduanya memberikan kesan hangat saat membaca novel ini. Pun hubungan keduanya dengan ketiga pegawai setia Pak Marwan. Bolehlah dikatakan, ada nuansa kekeluargaan yang kental mesti tokoh-tokoh tersebut tak berbagi DNA satu sama lain.

Novel ini ditulis dengan plot yang rapi. Tak ada kejutan, apalagi konflik berdarah, dari awal hingga akhir. Kisah-kisah para pemakai sepatu terakhir pun, yang meski hanya sampingan tapi begitu sarat makna, tak bercampur aduk dengan kisah utama Alin dan ayahnya.

Kuberi 3 dari 5 bintang untuk buku ini.

Thanks for reading 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s