(Review) ORB oleh Galang Lufityanto – Telaah Sebuah Kisah Tak Kasat Mata

Judul : ORB

Penulis : Galang Lufityanto

Penerbit : Tiga Serangkai

Tahun terbit : Cetakan pertama, Desember 2008

Jumlah hlmn : 416 halaman

***

Semua orang membenci Seno, atau paling tidak tak mau berurusan dengannya. Ayahnya tak mengakuinya, ibunya berharap tak pernah melahirkan bocah itu. Seno tak punya teman. Bahkan sanak saudaranya tutup mata kala rumah keluarga Seno habis dilalap sang jago merah sehingga menewaskan seisi rumah kecuali Seno seorang.

Bahkan, jika ia menyapa seseorang dengan senyumnya yang paling ramah pun, yang didapatnya balik adalah senyum kecut atau cibiran. Reaksi paling positif yang pernah diberikan orang terhadapnya adalah pura-pura tidak melihatnya. (hlmn 12)

Tanpa disengaja, seseorang memotret momen Seno menerobos kobaran api saat kebakaran berlangsung. Gambar tersebut kemudian membuat geger situs Ghost Hunter Society karena tampak jelas adanya keterlibatan orb di sana. Hingga akhirnya, Genuine Haunting, sebuah biro perjalanan wisata mistis di Amerika, mengirimkan tim peneliti untuk mengamati langsung spirit tersebut.

“…, orb adalah sejenis bola energi yang diduga sebagi inti dari makhluk gaib. Seperti halnya jika sel adalah pertikel terkecil dari tubuh manusia, orb adalah sel bagi spirit. Beberapa orang menyebut orb sebagai bola spirit. Orb biasanya tidak kasat mata dan hanya bisa ditangkap oleh jenis kamera tertentu, …” (hlmn 74-75)

Tim yang terdiri dari seorang leader, fotografer, teknisi, cenayang, psikolog, dan penerjemah ini pun terbang ke Indonesia menemui Seno. Dibantu oleh Roni, sang fotografer yang menangkap gambar Seno bersama orb sebelumnya, mereka perlahan mempelajari hubungan antara bocah kecil itu dengan spirit yang berperan sebagai pelindungnya.

“Ada anggota CIA yang menyusup ke dalam tim kalian. Aku belum tahu siapa. Tapi, ada baiknya kalian waspada dengan apa yang mungkin akan mereka lakukan terhadap kalian.” (hlmn 177)

Penelitian sama sekali tak berjalan dengan mulus. Di awali dengan diserangnya sang penerjemah, yang kemudian mundur dari tim, oleh spirit saat tengah sendirian di kamar hotel. Berlanjut konflik internal saat kabar keterlibatan CIA dalam penelitian mulai bocor, hingga adanya pihak yang diam-diam berencana menculik Seno.

“… Kau pikirkan saja cara menculik anak itu. Nanti biar aku yang mengurus kelanjutannya. Yang penting kita jangan sampai kehilangan anak itu, oke?” (hlmn 365)

***

Membahas spirit, yang secara tradisional lebih kita kenal dengan nama hantu, dengan cara bertutur selayaknya kisah fiksi ilmiah tentu tidak mudah. Serangkaian logika perlu dipaparkan agar cerita tak kehilangan ke-masuk-akal-annya. Tapi novel ini tak hanya mengeksekusinya dengan baik, lebih dari itu juga berhasil menciptakan suasana menegangkan di bagian-bagian krusial pada cerita.

Cerita sebenarnya tidak hanya berfokus pada sang spirit, tapi juga menghadirkan sub plot tentang kisah masa lalu dari masing-masing anggota tim peneliti dan korelasinya dengan sikap mereka saat menjalankan misi tersebut. Setiap bagain flashback terasa begitu personal dan bagai menelanjangi karakter tiap-tiap tokoh. Terlepas dari itu, plot utama tetap tak kehilangan pesonanya, terlebih ditutup dengan amukan kekuatan tak kasat mata hingga adegan tembak-tembakan di atas tebing.

Terakhir, karena berhasil membuatku terkesima, kuberi 4.9 dari 5 bintang. Minus pada penggunaan rata kiri, alih-alih justified, yang membuat tulisan sedikit kurang enak dipandang.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s