(Review) Sudut Mati oleh Tsugaeda – Meyingkap Ketegangan Intrik Dua Korporasi Besar

Sudut Mati.jpg

Judul : Sudut Mati

Penulis : Tsugaeda

Penerbit : Penerbit Bentang

Tahun terbit : Cetakan pertama, September 2015

Jumlah hlmn : 344 halaman

***

Cerita bermula ketika Titan, putra ketiga dari pemilik Grup Prayogo, kembali ke Indonesia. Ia datang di saat grup tengah digrogoti krisis hingga terancam dibubarkan. Sementara kakaknya, Titok, sama sekali tak bisa diandalkan dan ayahnya sendiri terlalu sibuk dengan pencalonan dirinya sebagai presiden.

“Pada situasi seperti ini, ayahmu sibuk kampanye politik. Sementara itu, abangmu goblok, nggak bisa ngurusi bisnis.” (hlmn 13)

Ancaman lain juga datang dari kompetitor, Ares Inco, yang mulai bergerak dengan segala cara untuk menghancurkan Grup Prayogo. Ironisnya, anak bungsu keluarga Prayogo justru menikahi putra mahkota Ares Inco.

“Ya, Tiara. Dia sekarang ada di rumah Kevin. Dia menikah dengan putra tunggal Nando, bos Ares. Tiara tersandera di sana.” (hlmn 150)

Di sisi lain, Teno, putra kedua keluarga prayogo dibebaskan dari penjara secara diam-diam. Teno sedikit berbeda dengan saudara-saudaranya. Ia punya satu tujuan, yang pernah dituangkannya dalam sebuah manifesto, yakni membunuh ayahnya sendiri.

“Berengsek!” maki Ronny. “Kenapa Teno Prayogo bisa berkeliaran bebas?! Siapa yang melepaskannya?” (hlmn 213)

Lepasnya Teno juga diikuti dengan munculnya seorang pembunuh bayaran dengan kode ‘Si Dokter’. Meski sebelumnya hanya dianggap mitos, Si Dokter kini mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

“Si Dokter ini, siapa sebenarnya dia?” “Pembunuh professional. Tidak ada yang tahu identitasnya.…” (hlmn 84)

Keadaan pun mulai memanas ketika Titan diculik. Titok yang kemudian menyusulnya ke markas Ares Inco justru terperangkap ditengah perseteruan pihak ares dengan kepolisian.

Seluruh mobil yang ada di situ rusak berat diserbu amuk peluru. Ban-ban hancur ditembus dan kaca-kacanya pecah berserakan. Suara letusan dan desing peluru memekakkan telinga dan seolah tak ada akhirnya. (hlmn 260)

***

Novel ini menyuguhkan tema yang jarang digali penulis kebanyakan, thriller korporasi. Alurnya cepat dengan fragmen-fragmen cerita terdahulu disampaikan dalam bentuk kilas balik. Dari segi penokohan pun cukup kuat dengan beberapa villain potensial. Puntiran atau twist dalam cerita, yang sebenarnya muncul terlalu dini, juga cukup mengejutkan.

Dari segi cerita, novel ini mengambil cakupan yang luas. Mulai dari masa lalu keluarga prayogo hingga suksesnya Grup Prayogo sekarang, bisnis ilegal Ares Inco hingga tindak perdukunan, aksi satuan kepolisian hingga para pembunuh bayaran, juga keterlibatan agen rahasia hingga petinggi intelejen. Meski begitu, penulis cukup berhasil menyederhanakan semua itu dan menyuguhkan cerita yang mudah dipahami.

Sayangnya, kisah luar biasa yang disajikan tidak dibalut dengan penyampaian dialog yang sepadan. Beberapa dialog ditulis terlalu panjang hingga tak bisa dibedakan dengan narasi. Pilihan kata dalam dialog tiap-tiap tokoh pun sejenis, baik protagonis maupun antagonis, baik yang dikisahkan sebagai orang terpelajar maupun ‘preman pasar’. Bahkan, beberapa dialog yang seharusnya diungkapkan dengan penuh kemarahan terasa datar tanpa emosi.

Terlepas itu, aku tetap suka novel ini. Kuberi 4 dari 5 bintang.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s