“You look beautiful, Ma’am,” puji Miranda.

“Benarkah?” ucap Claire dengan nada gusar. “Tidakkah gaun ini terlalu ketat di pinggul?”

Miranda memutar mata. Setelah payet yang teralu banyak, tiara yang terlalu kekanakan, dan heels yang terlalu tinggi, mungkin selanjutnya Claire akan mengeluhkan langit yang terlalu cerah hari ini.

“Tentu saja tidak,” jawabnya sembari tersenyum lelah. “Gaun itu membalut sempurna tubuhmu, Ma’am.”

Claire tak menjawab. Ia masih sibuk mematut diri di depan cermin. Mencari celah dari pantulan yang tersaji di hadapannya. Perpaduan gaun model mermaid dengan hasil diet sehat (bukan ketat) dan kunjungan rutin ke pusat kebugaran di sela hiruk pikuk pekerjaan. Didukung dengan hasil sulap sang make up artist yang membuat Claire bagai melintas waktu ke beberapa tahun ke belakang.

“Hmm, tidakkah rambutku terlalu pirang?” ujar Claire sambil berbalik. “Haruskah kita mewarnainya ulang?”

Retoris sebenarnya. Janji suci akan diucapkan sebentar lagi. Tak ada waktu untuk mewarnai ulang rambut hanya karena alasan ‘terlalu pirang’. It’s not even blonde, it’s called highlight!

“Ma’am, you’re just overthinking,” ujar Miranda penuh kesabaran. “You’re gorgeous like I said before.”

“Nope, you said beautiful earlier,” koreksi Claire. “Harusnya aku berhenti di warna hitam, nggak sih?”

Miranda membentuk kata ‘whatever’ dengan mulutnya tanpa suara. Rasanya, ia ingin segera keluar dari bride’s room agar tak perlu lagi mendengar keluhan lain dari bosnya. Beruntung, baru saja ponselnya bergetar. Ia bisa izin keluar untuk mengangkatnya.

Oh, bukan, ponsel Claire rupanya. Sial!

“Ma’am, you got a phone call,” ujar Miranda.

“Apa? Siapa itu?” tanya Claire panik. Ia sudah mewanti-wanti Miranda untuk menjauhkannya dari pekerjaan hari ini. Ponsel terlalu identik dengan pekerjaan untuknya.

“You’re BFF, Gloria,” ujar Miranda seraya menyerahkan ponsel milik Claire.

“Oh, give it to me,” ujar Claire cepat. Glo is her best friend from high school. Mereka sempat kuliah bersama di Amerika, namun Glo berhenti di tahun kedua dan memilih kembali ke Indonesia untuk menikah. “Hei, hei, Glo! Whats’ goin on, darling?”

“Claire,” panggil suara di seberang sana. “I don’t think I can do this.”

“What?” tanya Claire seraya bergerak ke arah bangku. Ini akan panjang, pikirnya. Kaki jenjangnya tak akan mampu bertahan. “Nggak bisa apa maksudnya?”

“I’m shaking.” Yup, her voice sounds shaking. “Bagaimana jika aku gugup dan terbata di atas sana? Atau bagaimana kalau aku gak bisa bicara seucap pun? Oh, bagaimana kalau aku pingsan nanti? For god’s sake! I can’t do this, Claire.”

“Oh, you talk about that speech, huh?” ujar Claire menyadarinya. “Glo, honey, of course you CAN do that! Kau sudah menghapal isi pidatomu di luar kepala sejak seminggu lalu, bukan?”

“Tapi di sini ramai sekali Claire, aku tak yakin aku…”

“Kau pasti bisa,” potong Claire. “All is well! Say our spell!”

“All is well,” bisik Glo.

“I CAN’T HEAR YOU!”

Terdengar helaan napas. “All is well!”

“That’s good, Glo sayang,” puji Claire. “Kau hanya perlu ke atas sana, ambil waktu untuk menenangkan diri, lalu mulai mengulang hapalanmu sekali lagi.”

Hening sejenak.

“Ya, kau benar,” ujar Glo meski tak yakin. “Andai kau ada di sini. Oh, aku masih tak percaya akan melewatkan resepsimu.”

“Oh, Beib, aku juga berharap bisa menemanimu sekarang,” ujar Claire sama kecewanya. “But you’re gonna be here tonight. We’re gonna do after party together, right?”

“Yup.”

“Oke.”

Hening lagi

“Are you oke now?”

“I guess.”

“Just remember that all is well, oke Sweety?”

“Thanks, Claire,” ucap Glo dengan lebih ceria. “Ah, I think I must go.”

“Oke, good luck to you!”

“Thanks again. Bye, Claire!”

“Bye, Glo!”

Claire mengembalikan ponselnya pada Miranda yang langsung menanyakan, “Bagaimana keadaan Mrs. Gloria, Ma’am?”

“She’s fine. Cuma gugup aja dengan pidatonya.”

“What speech?”

“Pidato kelulusan,” jawab Claire. “As the oldest graduate on that university. Bayangkan, ia lulus berbarengan dengan cucu tertuanya.”

“Wow,” ujar Miranda takjub. “Anak muda di sana perlu mencontoh semangat Mrs. Glo.”

“Kau benar,” ujar Claire. “Aku benar-benar terkejut saat ia memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. I mean, dengan semua anak dan cucunya saat ini? Ah, sementara aku baru saja akan menikah.”

“Oh, ya, setelah berulang-ulang kali menunda rencana pernikahan sebelumnya,” ujar Miranda seraya memutar bola mata.

“But, that would be ain’t perfect if it’s still goin,” balas Claire.

“But, noone ever be perfect in your eyes Ma’am,” debat Miranda.

“That’s not true! This wedding is gonna be.”

Miranda diam saja. She’s waiting…

“Andai saja Glo tak diwisuda saat…, ups!”

“See?”

“Oke, you’re right,” aku Claire. “Well, after all, setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, bukan? Ada yang memilih cepat berkeluarga, ada yang sibuk mengejar karir saat masih muda, dan ada yang sanggup mengerjakan keduanya sekaligus. All is well.”

Miranda mengangguk. Dalam hati, ia berharap tak akan mengikuti jejak Claire untuk urusan pernikahan. Kembali terbayang pernikahan kakaknya tahun lalu beserta rentetan pertanyaan dari keluarga besarnya kala itu. Kapan nyusul? Mana calonnya? Kok pendampingnya nggak kelihatan?

Meh!

“Permisi!” seru sebuah suara. “Sudah waktunya calon mempelai naik ke altar.”

“What! Tapi aku belum siap! Bagaimana dengan riasanku?” tanya Claire panik.

“Tak berubah sedikitpun, Ma’am,” jawab Miranda.

“Tunggu, ke mana sepatuku?”

“Kau sudah memakainya, Ma’am,” ujar Miranda mulai jengah.

“Oh, ya,” ucap Claire pelan. “Hmm, but something feels wrong. Haruskah kita menunda pernikahan ini?”

“NO F*CKING WAY!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s