(Review) Waktu Pesta bersama Cinta oleh Intan Kirana, dkk – Manifestasi Cinta Lintas Entitas dan Generasi

Judul : Waktu Pesta bersama Cinta

Penulis : Intan Kirana, Rizal Iwan, Hendri Yulius, Agrita Widiasari

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tahun terbit : 2013

Jumlah hlmn : 263 halaman

Buku ini berisikan enam belas cerita pendek yang di bagi menjadi empat bab: Cinta pada masa kanakku; Cinta ketika remaja; Cinta dan kedewasaan; dan Cinta sang senja. Penggambaran cinta dalam antologi ini begitu luas, tak terbatas pada pasangan kekasih tapi juga orang tua, sahabat, dan lainnya, tak terikat hanya pada manusia tapi juga makhluk hidup lain, bahkan tak sesempit hanya pada mereka yang bernyawa tapi juga benda-benda yang dipersonifikasi.

Aku tidak tahu siapa Nina yang terbaring di tempat tidur rumah sakit itu, karena akulah Nina, dan aku di sini. Melihat semuanya. (hlmn 5)

Masing-masing bab dalam novel ini terdiri dari empat cerita pendek. Pada bab pertama, dua cerita awal (Nina Bobo dan Singgah) sudah langsung mengejutkanku karena menggunakan tokoh yang tak biasa. Keunikan tokoh juga muncul pada cerita terakhir di bab ini (Sierra), cerita kedua pada bab selanjutnya (Love Virtually), serta cerita kedua pada bab terakhir (Museum Roh). Cerita-cerita ini cukup berhasil meski terkadang para penulis terlalu lepas menggambarkan tokoh sebegitu mirip manusia dan nyaris lupa meletakkan petunjuk tentang wujud sebenarnya dari sang tokoh.

Dengan seenak udelnya, sang pencipta menekan tombol sebuah menu, lalu dalam seketika, aku langsung memeluk Robbie dan mencium pipi kanannya. Sungguh, sebenarnya aku tak ingin melakukannya. (hlmn 113)

Bab kedua mengambil tema remaja. Namun jangan berharap kalian akan mendapatkan cerita manis ala teenlit di sini. Alih-alih, bab ini dibuka oleh (Cinta (Cerita Pendek untuk Menyapa-Mu)) sebuah cerita tentang kegamangan seorang remaja memilih agama di usianya yang ke tujuh belas. Kemudian berlanjut pada kisah (Menjadi Empat Belas) tentang remaja yang ingin mendobrak stigma bahwa perempuan tak selamanya tak punya pilihan. Sementara dua cerita lain meski tak terlalu mencerminkan masa remaja namun memilki keunikan dari segi ide cerita (Love Virtually) dan penceritaannya (Ti).

Tapi aku tak lebih dari seorang remaja labil tujuh belas tahun yang merasa benar dengan pikirannya yang terlalu bebas dan terlalu banyak tapi berantakan. (hlmn 96)

Bab selanjutnya dibuka oleh cerita favoritku (Sayap Ibuku). Aku suka sekali dengan analogi yang digunakan Rizal pada cerita ini. Bidadari dengan penari, kepak sayap dengan tarian, serta bulu-bulu pada sayap yang meranggas kala sang tokoh berhenti menari. Cerita lain yang ditulis Rizal pada bab ini (Tutup) pun begitu menarik buatku. Kisah tentang pramusaji yang menunggui pelangan terakhir sebelum menutup toko. Aku menyukai cara Rizal mengaitkan ucapan terakhir sang pelanggan dengan kisah flashback yang sebelumnya dijabarkan. Dengan dua cerita ini serta Nina Bobo dan Museum Roh, kunobatkan Rizal sebagai penulis favoritku pada novel ini.

Sayap itu memang tidak kelihatan, tapi di cermin itu, aku bisa melihat bayangan Ibu sedang tepekur menghitungi jumlah bulu-bulu yang tersisa di sayapnya yang sudah mulai gersang. (hlmn 148)

Masih pada bab yang sama, ada (Kau dan Aku yang berbeda) sebuah kisah yang dikemas bak surat terbuka yang dibuat untuk seorang sahabat yang akan melepas masa lajangnya. Cerita ini terasa begitu intim yang nampaknya memang kisah nyata sang penulis. Terakhir, kita akan disuguhkan (Pada Hari Kedatanganmu) sebuah kisah dengan penggunaan sudut pandang orang pertama jamak. Dua orang bercerita dalam satu waktu. Out of the box!

Kelak Nak, apabila kau lahir, salah satu dari kami akan mendekapmu dalam pelukan, lantas menyusuimu sembari tersenyum haru, sementara salah satunya lagi akan mengumandangkan azan di telingamu. (hlmn 177)

Lalu empat cerita pada bab terakhir kompak menghadirkan kisah sendu sebagai penutup novel ini. Ada kisah yang mengangkat penyakit alzheimer (Kotak Kenangan Mnemosyne), kisah penjual barang antik beserta barang-barang koleksinya (Museum Roh), kisah seorang istri dari tentara yang gugur dalam peperangan (Dua Puluh Tahun Bayang-bayang), serta kisah pria berbeda yang kehilangan segalanya (Titik Kecil yang Pembangkang).

Detik ini menyadarkanku bahwa aku bukanlah pemenang, aku hanyalah titik kecil yang tidak mampu berjuang. Aku hanya melihat Dia di balik teralis. Kami tersenyum, miris. (hlmn 253)

Secara keseluruhan kuberi empat dari lima bintang untuk antologi cerita pendek ini.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s