“Enggak ada matcha latte, mba?”

“Maaf kak, tidak ada.”

Aku begitu antusias melihat kafe langgananku dulu kembali dibuka. Namun seketika kecewa karena sebenarnya kafe ini hanya mengambil tempat yang sama namun dengan manajemen yang berbeda. Untung saja mereka mempertahankan meja kecil di sudut yang jadi favoritku.

Hot Cappuccino deh, mba,” ujarku seraya mengembalikan buku menu.

“Oke kak, ditunggu pesanannya ya!” jawab pramusaji itu.

Segera kunyalakan laptop, memasang headset, lalu memutar playlist favoritku. Dalam sekejap aku sudah terisolasi dengan dunia luar. Sebagai seorang penulis lepas, aku terbiasa pindah dari satu kafe ke kafe lain untuk menyelesaikan pekerjaan atau pun bertemu dengan klien.

Fokusku sedikit terganggu saat makhluk berbulu dengan mata nyalang muncul dari balik laptop. Dengan pongahnya ia naik ke atas meja dan menenggerkan wajah berkumisnya di atas layar komputer lipatku.

Aku baru hendak memanggil pramusaji saat pemandangan di dalam kafe menyadarkanku. Makhluk berbulu dan bermata nyalang itu tak hanya satu tapi banyak. Dengan bulu beraneka warna dan ukuran tubuh yang berbeda-beda.

Kudongakkan kepala menatap papan nama kafe yang sedari tadi kuabaikan.

KITTEN KAFE

“Miaww!”

Apa hari ini aku libur saja dan bermain dengan mereka, ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s