(Review) Resign oleh Almira Bastari – Memaksamu Lembur Bersama Roman Berbalut Canda

Judul : Resign

Penulis : Almira Bastari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2018

Jumlah hlmn : 288 halaman

***

Tigran semakin kejam. Titik dan koma saja dipermasalahkan. Berkali-kali hasil kerjaku direvisi. Dan kemarin puncaknya, kertas kerjaku dilempar! (hlmn 52)

Para cungpret, alias kacung kampret, yang terdiri dari Alranita, Carlo, Mbak Karen, dan Mas Andre, sudah kelewat muak menjadi bawahan Tigran. Tapi bos mereka itu selalu punya cara untuk menggagalkan rencana resign para kacungnya. Mulai dari memberikan pekerjaan secara overload, mendaftarkan training ke luar negeri, hingga tiba-tiba muncul saat sang karyawan sedang di-interview. Meski begitu, semangat para cungpret untuk resign tak jua padam, alih-alih mereka malah membuat sebuah kompetisi.

“Eh, by the way, gimana kalo kita buat taruhan resign?” Carlo tiba-tiba memberi ide. “Supaya semakin termotivasi.” (hlmn 12)

Alranita, sebagai cungpret yang paling lama bekerja pada Tigran, yang paling merasakan pederitaan. Tigran tak hanya menerornya untuk urusan pekerjaan, di luar kantor pun hidupnya seolah selalu direcoki oleh bos yang mau tak mau harus diakuinya ganteng itu. Mengekorinya ke bioskop, menjadi pendamping yang tak diharapkan saat kondangan, bahkan mengacaukan liburannya di Langkawi.

Tapi dia lihat lo? Tahu lo di langkawi? Dia stay di resort itu juga? Terus gimana? (hlmn 99)

Perlahan, Alranita merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Tigran. Di luar ketegasan dan kekejamannya sebagai bos, Tigran sering memberikan perhatian-perhatian kecil. Seperti kekhawatiran Tigran saat ia ‘kabur’ dari Langkawi, gaya acuhnya saat membukakan botol minum—atau saus—tanpa diminta, hingga ketidakengganan Tigran untuk turun dari mobil dan berbasa-basi dengan ayahnya saat menjemput kondangan.

”Kamu itu…” Aku terdiam sesaat karena terlalu banyak hal yang ada di pikiranku. “Kamu itu sengaja nyiksa saya banget: Bikin saya benci banget sama kamu. Terus kamu jadi baik banget. …” (hlmn 263)

Namun semua itu tidak meredupkan niat Alranita untuk resign. Semua sudah diatur sedemikian rupa. Ia datang ke kantor tanpa bedandan, memakai jaket tebal, bahkan berkali-kali mengelap kening meski tidak berkeringat. Interview-nya besok harus berhasil, untuk itu izin sakitnya harus tampak wajar. Tapi dewi fortuna mungkin memang membencinya, malam itu justru Tigran yang tiba-tiba pingsan saat hanya mereka berdua yang ada di kantor.

Sudah lewat tengah malam, dan ini jauh lebih buruk daripada lembur. Seketika rasanya aku ingin menangis. Entah bagaimana, aku jadi takut terjadi sesuatu pada Tigran. I know he’s an evil, tapi melihat dia menderita juga tidak membuatku senang. (hlmn 204)

***

Seperti warna sampulnya, novel bergenre komedi romantis ini menghadirkan kisah yang begitu segar. Penulis cukup apik mengolah cerita dengan sisipan humor yang pas pada tempatnya serta peralihan perasaan tokoh dari benci ke cinta yang sama sekali tak tampak dipaksakan. Pun cerita dibawakan oleh dua tokoh utama pada rentang usia ‘siap nikah’ dengan latar problematika pekerja kantoran yang membuat kisah dalam novel ini terasa begitu dekat dengan target pasarnya yaitu dewasa muda.

Minus narasi mendayu namun beralur cukup padat membuat novel ini dengan teganya membuang beberapa adegan meski kemudian diberi potongan pengisahan pada bab selanjutnya. Dan dengan narasi yang proporsional, didominasi dialog yang saling bersambut, serta sisipan obrolan dalam aplikasi chatting, tak hanya berhasil menghidupkan tokoh-tokoh dalam cerita tapi juga sukses menyajikan kisah yang begitu visual.

Meski cerita berpusat pada romansa Alranita dan Tigran, tapi kehadiran tokoh-tokoh sampingan dalam novel ini tak bisa disepelekan. Carlo yang kocak, Mbak Keren yang julid, Mas Andre yang kalem, bahkan Sandra si anak baru yang polos, tampil begitu berkarakter. Peran mereka pun jelas tak hanya sebagai pelengkap tapi memang punya andil masing-masing dalam memberi warna pada cerita.

Terakhir, untuk semua senyum yang kusunggingkan dan tawa yang pecah sepanjang membacanya, novel ini berhak mendapat lima bintang tanpa cela.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s