Ibu baru saja meletakkan sebuah cermin di kamarku. Berbingkai kayu dengan nuansa etnik yang kental. Tingginya melebihi badanku. Diletakkan di pojok kamar menghadap ke ranjang.

Malam itu juga, aku mendengar ketukan dari dalam cermin baruku. Aku segera bangkit dari ranjang dan memeriksanya. Aneh, suara itu seketika hilang. Aku sempat mengira suara ketukan itu hanya khayalanku. Tapi hal yang sama terulang keesokan harinya.

Ketukan itu terdengar lagi dari dalam cermin di kamarku. Empat kali. Konstan dan makin tegas. Namun, ketika aku memeriksanya, ketukan itu hilang, dan yang tersisa di cermin cuma bayanganku. Entah mengapa, aku merasa ketukan itu adalah pesan untukku, bahwa ada dunia lain selain dunia tempatku hidup atau dunia setelah aku mati.

Belakangan, bayangan tentang dunia lain itu terus memadati kepalaku. Sering kali, aku tertangkap tengah melamun oleh Ibu. Dan, sebanyak itu pula ia mengatakan hal yang sama, “Laras, melamun bisa membuatmu diasingkan dunia.”

Aku tak sepenuhnya paham maksud perkataan ibu. Bagaimana mungkin dunia mengasingkanku? Ke mana aku akan diasingkan?

Hari berganti hari. Aku mulai terbiasa dengan suara ketukan dari dalam cermin. Aku tak lagi memeriksanya karena pasti akan hilang jika kulakukan. Ketukan yang awalnya hanya empat sampai enam kali kini berlanjut hingga aku terlelap. Meski makin lama makin tegas, suaranya tak pernah menggangguku bahkan membuatku semakin mudah terlelap.

Hingga suatu malam, aku bermimpi bertemu ibu. Tapi ada yang aneh dengannya. Seluruh tubuhnya seputih salju, bahkan nyaris transparan.

“Ibu, apa yang terjadi denganmu?”

Ibu membuka mulut dan mencoba mengatakan sesuatu. Tapi tak ada suara yang keluar. Kuperhatikan lekat-lekat gerakan bibirnya. Mencoba membaca yang tengah ia ucapkan.

PE-CAH-KAN-CER-MIN-I-TU

Pecahkan cermin itu?

Aku terbangun saat alarm berbunyi. Aku sadar baru saja bermimpi. Tapi mimpi tadi begitu terasa nyata.

Pecahkan cermin itu.

Kalimat itu bergema di kepalaku. Segera aku bangkit dari ranjang dan mencopot cermin tersebut dari penyangganya, lalu kubanting keras-keras. Cerminnya retak tapi tidak pecah. Tak habis akal, kuinjak berkali-kali cermin itu dengan kaki telanjangku. Namun alih-alih pecah, cermin tersebut justru memperbaiki dirinya sendiri. Dan kini cermin itu mulus seperti baru.

Tiba-tiba suara ketukan itu kembali lagi. Kali ini langsung terdengar nyaring bahkan memekakkan. Aku menutup kedua daun telingaku. Tapi suara ketukan itu terlalu kencang.

“Berhenti!” teriakku.

Seketika ketukan itu berhenti. Dan dari dalam cermin yang kini tergeletak di lantai aku dapat melihat bayangan diriku. Tapi…

“Hai!” sapa bayanganku di dalam cermin. “Kau pasti kebingungan.”

“K-kau… Kau siapa?”

“Aku adalah kamu. Atau, sebentar lagi menjadi kamu.”

“Apa?!”

“Tenanglah, sudah terlambat jika kau ingin memecahkan cermin ini sekarang. Aku sudah menyerap energi kehidupanmu dari setiap ketukan yang kubuat di portal ini.”

Tiba-tiba saja aku merasa begitu lemas lalu terjatuh berlutut.

“Nah, sudah tiba waktunya,” ucap bayanganku dari dalam cermin sebelum semuanya gelap.

***

Aku melihat bayanganku sendiri saat membuka mata. Tapi anehnya, bayanganku sedang berdiri sementara aku sekarang tengah berbaring. Atau, aku berada di dalam cermin yang tergeletak di lantai.

“Apa yang terjadi di sini?” tanya ibu yang baru saja masuk ke dalam kamar.

“Ibu!” seru bayanganku seraya menghambur ke arah ibu.

“K-kau anakku?”

Bayanganku mengangguk.

Aku terbelalak saat ibuku yang berada di seberang sana memeluk bayanganku sendiri dan berucap betapa bangganya ia pada anaknya itu karena bisa mengikuti jejaknya keluar dari cermin.

“Laras,” sapa sebuah suara dari belakangku.

Aku berbalik. Itu ibu. Meski tubuhnya nyaris transparan, aku tahu itu ibu. Ibuku yang asli.

“I-ibu, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kita terperangkap, Nak!” jawab ibu. “Kita tak akan pernah bisa kembali ke dunia kita. Maafkan ibu yang terlambat memperingatkanmu.”

“Tidak mungkin,” sanggahku. “Pasti ada cara untuk…”

Mendadak, ibu berteriak histeris. Aku pun berbalik dan mendapati bayanganku sendiri akan menginjak cermin ini. Cermin tempat aku dan ibuku kini tinggal.

***

* Pernah diikutkan dalam sambung FF yang diadakan oleh fiksimini(dot)gregetan(dot)com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s