Meski tak lagi digunakan, lonceng tua di menara sekolah kami tetap dibiarkan pada tempatnya. Awalnya tak ada yg mempermasalahkan, hingga suatu hari bunyi lonceng tersebut terdengar pada pukul dua pagi. Kemudian satu teman asrama kami ditemukan mati.

“Aku menghitungnya, lonceng itu berdentang tiga belas kali,” ujar Cahyo penuh keyakinan.

“Erik meninggal sekitar tengah malam, bukan?” tanya Rami. “Apa setelah itu sang pembunuh lalu membunyikan lonceng?”

“Kenapa si pembunuh melakukan itu?” Aku balik bertanya. “Bukankah itu akan menarik perhatian dan menyebabkan ia ketahuan?”

Kematian Erik benar-benar mengubah suasana di asrama jadi mencekam. Ditambah beredarnya desas-desus bahwa pembunuh Erik adalah orang dalam. Dengan kata lain, pengurus asrama atau justru salah satu dari kami para siswa.

Seminggu kemudian.

Aku masih terjaga kala lonceng itu berbunyi. Tiga belas kali, tepat seperti yang diucapkan Cahyo tempo hari. Kulirik Rami yang masih lelap di ranjang, tak terganggu sedikit pun dengan bunyi lonceng di luar sana.

Aku memilih untuk tetap terjaga hingga pagi. Kuraih novel yang kemarin kupinjam di perpustakaan lalu mulai membacanya.

Beberapa jam kemudian Rami terbangun.

“Pagi!” sapanya.

“Pagi!” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buku. “Ngomong-ngomong, semalam lonceng berbunyi lagi. Tiga belas kali. Tepat pukul dua pagi.”

Belum sempat Rami menanggapi, pintu kamar kami tiba-tiba saja didobrak. Segerombol petugas asrama bergegas masuk lalu dalam sekejap meringkusku yang tengah asyik membaca. Sial, padahal aku hampir sampai lembar terakhir.

“Bagaimana kalian bisa tahu?” tanyaku.

“Kami memasang CCTV,” jawab kepala asrama yang berdiri di depan pintu.

Ah, my bad.

“Ada apa ini?” tanya Rami kebingungan.

“Dia membunuh Cahyo,” ujar kepala asrama dingin. “Bawa dia ke kantor!”

Dua petugas asrama kemudian menyeretku dengan kasar. Aku manut saja karena percuma juga berontak. Tapi aku masih sempat mendengar pertanyaan Rami pada kepala asrama.

“Bukan dia,” jawab pria paruh baya itu. “Rekaman CCTV menunjukkan bahwa lonceng itu berbunyi sendiri, tak ada yang menyentuhnya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s