(Review) Stasiun by Cynthia Febrina – Mengantarmu Menyusuri Jalur Istimewa Menuju Cinta

Judul : Stasiun

Penulis : Cynthia Febrina

Penerbit : PlotPoint Publishing

Tahun terbit : Cetakan pertama, Mei 2013

Tebal buku : 171 halaman

Cerita mengambil latar saat tiket commuter line masih berbentuk kertas. Harganya pun relatif mahal dibanding tiket kereta ekonomi yang jadi idaman kala itu meski berfasilitas seadanya. Namun keduanya berbagi satu jalur dan bertemu di satu titik bernama stasiun. Di tempat ini jugalah kisah antara pemuda pelanggan tetap kereta ekonomi bernama Ryan dan gadis anti kereta ekonomi bernama Adinda di mulai.

Sebaliknya, aku sih ogah berpanas-panasan di dalam kereta ekonomi. Kalau punya uang, untuk apa repot-repot naik kereta murah itu. (Hlmn 2)

Adinda memang tak terbiasa naik transportasi rakyat. Ia biasanya dimanja oleh Rangga dengan mobil pribadinya. Lalu kemudian mereka putus. Sejak itulah Adinda harus terpaksa membaur dengan hiruk pikuk stasiun Bogor di pagi hari demi mendatangi kantornya di Jakarta.

Benar-benar pemandangan pagi hari yang merusak suasana hati. Berbeda sekali jika aku pergi ke kantor dengan mobil, yang kulihat hanya pemandangan tol pagi yang lengang, …. , atau sesosok pria di sampingku yang asyik menyetir sambil bersiul. (Hlmn 4)

Lain halnya dengan Ryan. Pemuda satu ini sudah mengganggap berkendara dengan kereta adalah bagian dari hidup. Ia berkawan dengan penjual koran, penjaga kios buku bekas, dan pelukis jalanan yang ruang lingkup kerjanya memang berputar di stasiun.

Tak terbayang betapa membosankannya menghadapi kemacetan Jakarta sendirian. Bukan saya tidak pernah sendiri, justru karena saya terlalu sering sendiri. Saya mencari tempat yang bisa membuat saya bertemu banyak orang. (Hlmn 21)

Cerita mengambil sudut padang bergantian antara Ryan dan Adinda. Meski berporos pada mereka berdua, cerita juga diperlebar ke tokoh-tokoh lain yang sehari-harinya beraktivitas di stasiun. Contohnya Sasha, teman Adinda. Meski aku sangat menyayangkan kehadirannya yang sempat menghilang di bagian tengah cerita, namun kisah Sasha bersama seorang perempuan tua gila sukses menjadi konflik pertama yang membuatku jatuh cinta dengan novel ini.

Seorang petugas stasiun menghampiri Sasha. Salah satunya membawa pentungan. Sasha mulai terlihat khawatir. “Lepaskan perempuan itu atau Ibu saya pukul!” Salah satu petugas mengancam. (Hlmn 11)

Ah, belum lagi kisah manis sepasang suami istri yang menua bersama. Sang suami memaksa istrinya naik kereta khusus perempuan agar dapat tempat duduk, namun sang istri menolak. Ia ingin menunggu saja kereta selanjutnya agar mereka tetap bersama.

Sebelum kereta berangkat, keduanya sempat bertatapan. Mata keduanya sudah menua akibat usia namun tak membuatnya layu untuk menyatakan cinta. (Hlmn 76)

Novel ini dihiasi konflik-konflik kecil, lalu perlahan berakhir menjadi kisah manis yang mungkin sudah tertebak. Yup, bukan cerita dengan satu konflik yang dibahas berlarut-larut lalu kemudian terburu-buru diakhiri. Novel ini juga tak sekedar membahas cinta, antara Ryan dan Adinda, tapi juga kenangan masa lalu, pandangan hidup, hingga interaksi dengan orang-orang yang bersinggungan dengan keduanya.

Kuakhiri review ini dengan memberi 4,5 bintang dari semua bintang yang ada di atas sana. Eh, 4,5 dari 5 bintang maksudnya.

Thanks for reading 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s