Kupungut sepasang kaki yang tergeletak di bawah ranjang. Kuambil sebatang jarum daganganku dan mulai menjahit. Kiri dan kanan. Dan akhirnya aku pun bisa berdiri.

Lelah, merangkak ke sana kemari. Menjajakan benda remehtemeh yang terkadang dilupakan hingga saatnya dibutuhkan. Teringat ucapan Nyonya berpakaian indah tadi, “Aku akan membeli jarummu. Nanti jika aku butuh. Mungkin saat gaun indahku sobek.”

Sempat terbersit merobek gaun indah si Nyonya, tapi aku belum sehina itu. Alhasil, kamar sempit ini jadi saksi, tak berkurang barang sebatang jarum-jarum itu dari pagi.

Kupungut empat daging implan dari bawah meja. Kuambil sebatang jarum daganganku dan mulai menjahit. Kiri dan kanan. Kiri dan kanan.

“Juallah benda lain. Yang menarik. Yang akan dibeli, butuh tak butuh!” ucap Tuan berparas tampan tadi.

Benarlah. Kala tak ada yang butuh, tak sebatang pun jarumku akan laku. Tak peduli meski tiap sudut kota kudatangi. Meski pergi pagi, pulang pagi.

Kupungut selembar wajah dari bawah kursi. Kuambil sebatang jarum daganganku dan mulai menjahit. Sisi kiri, dan terus melingkar ke sisi kanan.

Tak pernah kuberniat menjadikan semua ini komoditas. Tapi perut harus tetap terisi. Nasi harus tetap dibeli.

Kupatut tubuhku di cermin. Kaki jenjang dan dada menggelembung. Bokong penuh dan wajah cantik menggoda.

Dagangan baruku pasti akan laku.

-200 kata-

*Pernah diikutkan dalam #MFFIDOL3 babak Crossbattle Stage

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s