(Review) 20 Glenn Fredly oleh Moammar Emka, dkk – Refleksi Musik dan Lirik tentang Cinta

Adobe Photoshop PDF

Judul                     : 20 Glenn Fredly

Penulis                 : Moammar Emka, dkk.

Penerbit              : Entermedia

Tahun terbit       : Mei 2015

Jumlah hlmn      : 224 halaman

***

Buku ini adalah salah satu bagian dari peringatan 20 tahun Glenn Fredly berkarya di industri musik. Berisi dua belas kisah, yang ditulis oleh 12 penulis tanah air, dan diangkat dari tiga belas lagu milik Glenn. Kesemuanya bercerita tentang cinta, seperti kebanyakan tema lagu milik Glenn. Didominasi aura kesedihan dari cinta tak berbalas serta kisah patah hati, seperti halnya lagu-lagu milik Glenn.

“Kalau nggak bisa berkorban, namanya belum cinta. Kalau perlu sampai korban perasaan.”

(Akhir Cerita Cinta oleh Bernard Batubara)

Dan, tak ada satu manual book atau buku saku praktis pedoman cara-cara jatuh cinta yang baik dan benar.

(Romansa Lini Masa oleh Anggun Prameswari)

“Bukankah kita sudah berjalan beriring sekian lama? Tak cukupkah itu membuatmu mengeja setia dengan bernar?”

(Habis oleh Gita Romadhona)

Harapan yang ia tahu tidak akan ada akhirnya. Seolah bermimpi sangat indah, tapi kau tahu itu hanyalah sebuah mimpi. Kau harus bangun dan melanjutkan perjalananmu.

(Untuk Sebuah Nama oleh Sefryana Khairil)

“Janu, kita ini seperti bilangan prima, ya? Hanya habis kalau melawan keras kepala sendiri.”

(Nyali Terakhir oleh Adimas Immanuel)

“Patah hati, boleh. Asal jangan patah sayap.”

(Selamat Pagi Dunia oleh Mita M. Supardi)

“Saat kau jatuh cinta, kurangi takaran harapan dalam racikannya. Dengan begitu, kau akan selalu mendapatkan racikan yang bisa dibilang tepat‒untuk segala situasi. Untuk jawaban ya ataupun tidak.”

(Jejak Langkah oleh Widyawati Oktavia)

Kita masih bersama, Ka, sampai sekarang, tujuh tahun kemudian. Namun, bahkan ketika kita sedang bersama pun, aku sangat merindukanmu.

(Sabda Rindu oleh Jia Effendie)

“Padahal, telah kusiapkan pundakku untukmu menangis. Saying, kau terlanjur pergi bersama gerimis.”

(Kasih Putih oleh Kireina Enno)

Kalau memang sudah tak lagi bisa memcecap bahagia, mengapa harus terus memaksakan diri untuk terus bersama?

(Pengakuan Lelaki oleh Alexander Thian)

“Yang lain-lain bisa jadi nomor dua, tiga, bahkan sepuluh. Namun, ketika kita kehilangan waktu dari orang yang kita cintai, bukankah itu artinya kita kehilangan segalanya?”

(Cinta dan Rahasia oleh Robin Wijaya)

“Apakah air mata yang menetes dari bening matamu bukan penjelasan. Ada yang hilang di antara kita, cinta dan rindu. …”

(Di Sisi Hati Renjana oleh Moammar Emka)

***

Dari dua belas kisah di kumcer ini, aku hanya suka satu, Sabda Rindu dari Jia Effendie. Rasanya hanya cerpen satu ini yang ceritanya utuh. Ada cacat logika sebenarnya, tapi tak mengganggu jalan cerita. Kisah lain cenderung berisi monolog sang tokoh utama yang terasa dibuat tenggelam berlarut-larut dalam konflik. Tapi mungkin buku ini akan mudah disukai bagi penggemar puisi maupun quote hunter, bukan untukku yang suka fiksi karena plot ceritanya, bukan diksinya.

Meski begitu, salut untuk kedua belas penulis. Aku tahu susahnya menyusun cerita dari lagu. Pernah mendapat tantangan ini saat MFF Idol dan hasilnya dihina habis-habisan sama panel juri. Hiks.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s