Gadis itu men-shut down komputernya, meredupkan tampilan layar dengan background foto sang kekasih yang begitu ia sayang. Sudah pukul lima sore, saatnya bermacet-macet ria menuju rumah. Usai merapikan meja kerjanya, meluruskan bingkai foto yang menampakkan dirinya bersama sang kekasih saat berlibur ke Bali tahun lalu, serta memasukkan barang-barang ke dalam tas, ia pun bergegas menuju lift. Sesampainya di lantai bawah, smart phone miliknya berdering. Taksi daring pesanannya tiba.

Di dalam mobil, sang gadis kemudian sibuk menekuri berbagai aplikasi pada smart phone miliknya yang lagi-lagi ber-wallpaper-kan foto sang kekasih. Paling banyak waktu dan kuotanya habis untuk instagram. Cuci mata, judging, stalking, serta membalas komentar-komentar pada foto yang kemarin ia unggah. Foto dirinya bersama sang kekasih sebelum menonton film horor yang sedang booming.

Hingga beberapa waktu berselang, taksi daring tumpangannya tak tampak menjangkau jarak yang berarti. Entah, tapi beginilah jalanan Jakarta jika esok masuk akhir pekan. Kala bosan dengan smart phone juga pemandangan di luar yang tampak tak menarik, sang gadis mencoba memandangi tiap sudut dalam mobil. Langsung saja perhatiannya tertuju pada selembar foto yang ditempatkan di dashboard. Dengan sedikit rasa penasaran, ia pun bertanya pada sang supir yang tampak hanya beberapa tahun lebih tua darinya, “Itu foto siapa, Mas?”

“Foto Ibuk saya, Mbak!”

“Kenapa di taruh di situ?” tanyanya lagi. “Emang Mas gak punya pacar yah? Kan lebih bagus kalau taruh foto pacar Mas?”

Sang supir tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Ia lalu menjawab, “Saya punya pacar kok, Mbak. Tapi yaa… statusnya masih pacaran gitu-gitu aja. Saya malu kalau ngelamar dia sekarang, saya belum jadi apa-apa. Belum punya apa-apa.” Ia berhenti sejenak. “Dan saya pasang foto Ibuk saya di sini karena dialah alasan saya mau bekerja keras seperti sekarang, Mbak. Pengorbanan Ibuk ngebesarin saya dan adik-adik saya, bikin saya malu kalau di saat saya udah gede begini gak bisa bahagiain dia.”

Gadis tersebut merasa tersindir, padahal jelas tak sedikit pun ucapan sang supir tersebut ditujukan padanya. Lagi pula, apa salahnya memasang foto kekasih di berbagai tempat? Kecuali…

Ia harus mencopot, mengganti, dan menghapus semuanya jika mereka putus nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s