Tenggorokanku kering. Haus. Aku butuh minum dan aku mau sekarang.

“Tak bisa, Nak!” bentak ibu beberapa waktu lalu. “Kita harus tunggu sampai matahari terbenam.”

Aku tak tahan. Aku benar-benar haus. Aku akan keluar mencari minum sendiri.

“Ini demi kebaikanmu, Nak!” ucap ibu seraya mengurungku dalam kamar.

Ibu tak tahu, lubang udara di langit-langit kamarku berujung ke luar rumah. Perlahan, aku menyelinap keluar.

“Tunggu hingga gelap,” petuah ibu sejak pertama kali membawaku ke rumah ini. “Setelah itu kau boleh minum sepuasmu.”

Tapi sejak saat itu aku selalu haus. Kini aku tak peduli. Untuk pertama kalinya kuabaikan titah ibu.

“Nak!” panggil ibu yang diikuti suara pintu bergeser.

Kupercepat rangkakanku hingga tampak secercah cahaya. Silau. Kurasakan hangat di kulitku.

“Nak, di mana kau?”

Suara ibu terdengar semakin dekat. Nampaknya ia menyadari meja yang bergeser. Langit-langit yang menganga.

Aku segera membobol ventilasi. Keluar. Tak sabar berburu demi nafsu dahagaku.

Tapi dalam sekejap, diiringi gelegar teriakan ibu, sekujur tubuhku sudah terbakar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s