Bu Lan adalah Nek Darsih. Kau tahu itu. Entah bagaimana, ia bagai memutar waktu dan menjadi muda kembali. Ia mungkin bisa membohongi segenap warga kampung. Tapi tidak denganmu. Kau tahu gaya bicara mereka persis sama. Kau betul-betul paham garis wajah itu sama lekuknya. Kau pun menyadari fakta bahwa Nek Darsih menghilang tepat saat bu Lan datang.

“Kau harus menunjukkannya padaku,” ancammu saat mendatanginya dengan paparan bukti yang kau punya.

Kemudian kau di bawa bu Lan ke tanah lapang. Tepat tengah malam, saat purnama tengah terang-terangnya. “Kau berdiri saja di situ,” titah bu Lan hanya padamu karena tiada manusia lain di sini.

Kau menurut, sementara bu Lan berjalan kian ke tengah. Ia pun mulai merapal mantra. Perlahan, rembulan makin dan makin terang. Bu Lan terus merapal mantra. Sorot sinar rembulan kemudian seolah mengerucut, menerangi lebih banyak pada sosok paruh baya di depanmu. Mantra bu Lan makin cepat temponya. Kau pun mulai sadar, bahkan takjub dibuat, saat sosok di depanmu tiada tampak bagai bu Lan lagi saat ini.

Lalu semua kembali normal. Rembulan masih terang namun kini lebih wajar. Bu Lan -eh, iyakah dia masih bu Lan?- berhenti merapal mantra. Pandangan tajamnya terarah tepat pada manik matamu. “Terima kasih, anak muda!” ujar gadis itu membuka suara. “Hmm, kau sudah tua rupanya.”

Ingin kauberkata kasar melihat lenganmu yang mengeriput. Ah, wajahmu juga rupanya. Seluruh permukaan kulitmu bahkan mengendur sekarang. Dan rambutmu -oh tidak, jangan rambut indah kebanggaanmu- kini mengabu dan tampak rapuh.

“Sial!” rutukmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s