(Review) 20 Glenn Fredly oleh Moammar Emka, dkk – Refleksi Musik dan Lirik tentang Cinta

Adobe Photoshop PDF

Judul                     : 20 Glenn Fredly

Penulis                 : Moammar Emka, dkk.

Penerbit              : Entermedia

Tahun terbit       : Mei 2015

Jumlah hlmn      : 224 halaman

***

Buku ini adalah salah satu bagian dari peringatan 20 tahun Glenn Fredly berkarya di industri musik. Berisi dua belas kisah, yang ditulis oleh 12 penulis tanah air, dan diangkat dari tiga belas lagu milik Glenn. Kesemuanya bercerita tentang cinta, seperti kebanyakan tema lagu milik Glenn. Didominasi aura kesedihan dari cinta tak berbalas serta kisah patah hati, seperti halnya lagu-lagu milik Glenn.

“Kalau nggak bisa berkorban, namanya belum cinta. Kalau perlu sampai korban perasaan.”

(Akhir Cerita Cinta oleh Bernard Batubara)

Dan, tak ada satu manual book atau buku saku praktis pedoman cara-cara jatuh cinta yang baik dan benar.

(Romansa Lini Masa oleh Anggun Prameswari)

“Bukankah kita sudah berjalan beriring sekian lama? Tak cukupkah itu membuatmu mengeja setia dengan bernar?”

(Habis oleh Gita Romadhona)

Harapan yang ia tahu tidak akan ada akhirnya. Seolah bermimpi sangat indah, tapi kau tahu itu hanyalah sebuah mimpi. Kau harus bangun dan melanjutkan perjalananmu.

(Untuk Sebuah Nama oleh Sefryana Khairil)

“Janu, kita ini seperti bilangan prima, ya? Hanya habis kalau melawan keras kepala sendiri.”

(Nyali Terakhir oleh Adimas Immanuel)

“Patah hati, boleh. Asal jangan patah sayap.”

(Selamat Pagi Dunia oleh Mita M. Supardi)

“Saat kau jatuh cinta, kurangi takaran harapan dalam racikannya. Dengan begitu, kau akan selalu mendapatkan racikan yang bisa dibilang tepat‒untuk segala situasi. Untuk jawaban ya ataupun tidak.”

(Jejak Langkah oleh Widyawati Oktavia)

Kita masih bersama, Ka, sampai sekarang, tujuh tahun kemudian. Namun, bahkan ketika kita sedang bersama pun, aku sangat merindukanmu.

(Sabda Rindu oleh Jia Effendie)

“Padahal, telah kusiapkan pundakku untukmu menangis. Saying, kau terlanjur pergi bersama gerimis.”

(Kasih Putih oleh Kireina Enno)

Kalau memang sudah tak lagi bisa memcecap bahagia, mengapa harus terus memaksakan diri untuk terus bersama?

(Pengakuan Lelaki oleh Alexander Thian)

“Yang lain-lain bisa jadi nomor dua, tiga, bahkan sepuluh. Namun, ketika kita kehilangan waktu dari orang yang kita cintai, bukankah itu artinya kita kehilangan segalanya?”

(Cinta dan Rahasia oleh Robin Wijaya)

“Apakah air mata yang menetes dari bening matamu bukan penjelasan. Ada yang hilang di antara kita, cinta dan rindu. …”

(Di Sisi Hati Renjana oleh Moammar Emka)

***

Dari dua belas kisah di kumcer ini, aku hanya suka satu, Sabda Rindu dari Jia Effendie. Rasanya hanya cerpen satu ini yang ceritanya utuh. Ada cacat logika sebenarnya, tapi tak mengganggu jalan cerita. Kisah lain cenderung berisi monolog sang tokoh utama yang terasa dibuat tenggelam berlarut-larut dalam konflik. Tapi mungkin buku ini akan mudah disukai bagi penggemar puisi maupun quote hunter, bukan untukku yang suka fiksi karena plot ceritanya, bukan diksinya.

Meski begitu, salut untuk kedua belas penulis. Aku tahu susahnya menyusun cerita dari lagu. Pernah mendapat tantangan ini saat MFF Idol dan hasilnya dihina habis-habisan sama panel juri. Hiks.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Advertisements

(Review) The Boy Who Drew Monsters by Keith Donohue – Menerormu dengan Khayalan dan Kenyataan yang Berpadu

97906_f

Judul                     : The Boy Who Drew Monsters

Penulis                 : Keith Donohue

Penerjemah       : Maria Renata

Penerbit              : Qanita

Tahun terbit       : Cetakan pertama, Sept 2016

Jumlah hlmn      : 420 halaman

***

Holly merindukan anaknya sendiri, Jack Peter, atau mereka memanggilnya Jip. Jip yang sekarang bukanlah bayi mungilnya. Jip yang sekarang tidak butuh dirinya. Diperparah dengan sindrom Asperger yang dideritanya, membuat Holly makin untuk sulit masuk ke dalam dunia Jip.

“Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, Bapa. Saya takut akan anak saya sendiri, takut dengan apa yang mungkin akan dilakukannya kepada saya, kepada dirinya sendiri. …” (hlmn 114)

Jip menolak keluar rumah, dan segala upaya yang dilakukan Holly dan suaminya, Tim, justru memperkuat penolakan dari Jip. Ia terpaksa berhenti sekolah. Ia kehilangan semua temannya kecuali Nick, yang sering dititipkan di rumahnya dan mau tak mau harus bermain dengannya.

Tubuh-tubuh mereka tampak lembut  dan telanjang, wajah mereka dingin dan tidak tampak manusiawi, dan mata mereka hitam bagaikan lubang gelap. Salah satunya membuka mulutnya yang tak bergigi dan menangis keras seolah-olah diatur oleh mesin, dan ketika makhluk itu menjerit, Nick juga membalas dengan jeritan. (hlmn 256)

Jip hobi menggambar. Ia menggambar ayah-ibunya, menggambar Nick, dan belakangan menggambar monster-monster. Tak ada yang mempermasalahkan gambar Jip, hingga kemudian Tim mulai diganggu oleh sosok putih misterius yang selalu cepat menghilang saat dikejar, Holly mendengar suara-suara yang tak jelas dari mana asalnya, bahkan Nick yang mulai dihantui mimpi buruk tentang orang tuanya.

Dia telah menggambar ini sebelum makhluk-makhluk itu muncul. Kemudian dia merobek-robek gambar itu sebelum mereka menghilang. (hlmn 279)

Kemudian di suatu hari saat datang badai salju, Tim harus menjemput Holly dan meninggalkan Jip dan Nick di rumah. Nick merengek, tak mau ditinggal bersama Jip. Tapi Tim tak mungkin membawanya di tengah amukan badai, pun meninggalkan Jip sendirian. Akhirnya kedua bocah itu pun tinggal di rumah. Dan saat Tim dan Holly kembali, keduanya menghilang.

“… Apa angin bisa memutar gagang pintu? Apa angin bisa mengetuk jendela dapur? Ada sesuatu yang mencoba masuk, Tim. Ke dalam sini, ke dalam kehidupan kita. …” (hlmn 237)

***

Novel ini menyajikan kisah horor khas hollywood dengan makhluk seram, atau sekedar angin yang menggerakkan barang-barang, yang kerap muncul secara mengejutkan. Sayangnya, suasana mencekam, yang sering dibangun lewat musik latar dalam film, masih kurang berhasil disajikan oleh penulis. Adegan yang seharusnya terasa seram terkesan ditulis langsung begitu saja tanpa adanya latar suasana yang mendukung. Rasa takut para tokoh juga kurang didukung deskripsi dari efek yang muncul pada tubuh seperti gemetar, merinding, berkeringat dingin, dan lainnya.

Cerita pun berjalan dengan alur yang kurang bergejolak. Konflik-konflik yang muncul terbilang tanggung dan terpotong-potong. Pembaca benar-benar harus bersabar sampai bagian paling akhir novel untuk sampai pada puncak konflik. Untungnya, gaya penulisan novel ini cenderung mengalir meski menggunakan alur campuran antara masa lalu dan masa sekarang serta tidak membosankan dengan karakter para tokoh yang kuat bahkan untuk tokoh-tokoh pendukung sekalipun. Poin tambah lain terletak pada kejutan yang ditulis di kalimat-kalimat terakhir novel ini. Kejutan yang membuatku, dan mungkin juga kalian nanti saat membacanya, berharap Jip tak berhenti menggambar.

Tiga dari lima bintang.

(Review) Stasiun by Cynthia Febrina – Mengantarmu Menyusuri Jalur Istimewa Menuju Cinta

Judul : Stasiun

Penulis : Cynthia Febrina

Penerbit : PlotPoint Publishing

Tahun terbit : Cetakan pertama, Mei 2013

Tebal buku : 171 halaman

Cerita mengambil latar saat tiket commuter line masih berbentuk kertas. Harganya pun relatif mahal dibanding tiket kereta ekonomi yang jadi idaman kala itu meski berfasilitas seadanya. Namun keduanya berbagi satu jalur dan bertemu di satu titik bernama stasiun. Di tempat ini jugalah kisah antara pemuda pelanggan tetap kereta ekonomi bernama Ryan dan gadis anti kereta ekonomi bernama Adinda di mulai.

Sebaliknya, aku sih ogah berpanas-panasan di dalam kereta ekonomi. Kalau punya uang, untuk apa repot-repot naik kereta murah itu. (Hlmn 2)

Adinda memang tak terbiasa naik transportasi rakyat. Ia biasanya dimanja oleh Rangga dengan mobil pribadinya. Lalu kemudian mereka putus. Sejak itulah Adinda harus terpaksa membaur dengan hiruk pikuk stasiun Bogor di pagi hari demi mendatangi kantornya di Jakarta.

Benar-benar pemandangan pagi hari yang merusak suasana hati. Berbeda sekali jika aku pergi ke kantor dengan mobil, yang kulihat hanya pemandangan tol pagi yang lengang, …. , atau sesosok pria di sampingku yang asyik menyetir sambil bersiul. (Hlmn 4)

Lain halnya dengan Ryan. Pemuda satu ini sudah mengganggap berkendara dengan kereta adalah bagian dari hidup. Ia berkawan dengan penjual koran, penjaga kios buku bekas, dan pelukis jalanan yang ruang lingkup kerjanya memang berputar di stasiun.

Tak terbayang betapa membosankannya menghadapi kemacetan Jakarta sendirian. Bukan saya tidak pernah sendiri, justru karena saya terlalu sering sendiri. Saya mencari tempat yang bisa membuat saya bertemu banyak orang. (Hlmn 21)

Cerita mengambil sudut padang bergantian antara Ryan dan Adinda. Meski berporos pada mereka berdua, cerita juga diperlebar ke tokoh-tokoh lain yang sehari-harinya beraktivitas di stasiun. Contohnya Sasha, teman Adinda. Meski aku sangat menyayangkan kehadirannya yang sempat menghilang di bagian tengah cerita, namun kisah Sasha bersama seorang perempuan tua gila sukses menjadi konflik pertama yang membuatku jatuh cinta dengan novel ini.

Seorang petugas stasiun menghampiri Sasha. Salah satunya membawa pentungan. Sasha mulai terlihat khawatir. “Lepaskan perempuan itu atau Ibu saya pukul!” Salah satu petugas mengancam. (Hlmn 11)

Ah, belum lagi kisah manis sepasang suami istri yang menua bersama. Sang suami memaksa istrinya naik kereta khusus perempuan agar dapat tempat duduk, namun sang istri menolak. Ia ingin menunggu saja kereta selanjutnya agar mereka tetap bersama.

Sebelum kereta berangkat, keduanya sempat bertatapan. Mata keduanya sudah menua akibat usia namun tak membuatnya layu untuk menyatakan cinta. (Hlmn 76)

Novel ini dihiasi konflik-konflik kecil, lalu perlahan berakhir menjadi kisah manis yang mungkin sudah tertebak. Yup, bukan cerita dengan satu konflik yang dibahas berlarut-larut lalu kemudian terburu-buru diakhiri. Novel ini juga tak sekedar membahas cinta, antara Ryan dan Adinda, tapi juga kenangan masa lalu, pandangan hidup, hingga interaksi dengan orang-orang yang bersinggungan dengan keduanya.

Kuakhiri review ini dengan memberi 4,5 bintang dari semua bintang yang ada di atas sana. Eh, 4,5 dari 5 bintang maksudnya.

Thanks for reading 🙂

(Review) Resign oleh Almira Bastari – Memaksamu Lembur Bersama Roman Berbalut Canda

Judul : Resign

Penulis : Almira Bastari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2018

Jumlah hlmn : 288 halaman

***

Tigran semakin kejam. Titik dan koma saja dipermasalahkan. Berkali-kali hasil kerjaku direvisi. Dan kemarin puncaknya, kertas kerjaku dilempar! (hlmn 52)

Para cungpret, alias kacung kampret, yang terdiri dari Alranita, Carlo, Mbak Karen, dan Mas Andre, sudah kelewat muak menjadi bawahan Tigran. Tapi bos mereka itu selalu punya cara untuk menggagalkan rencana resign para kacungnya. Mulai dari memberikan pekerjaan secara overload, mendaftarkan training ke luar negeri, hingga tiba-tiba muncul saat sang karyawan sedang di-interview. Meski begitu, semangat para cungpret untuk resign tak jua padam, alih-alih mereka malah membuat sebuah kompetisi.

“Eh, by the way, gimana kalo kita buat taruhan resign?” Carlo tiba-tiba memberi ide. “Supaya semakin termotivasi.” (hlmn 12)

Alranita, sebagai cungpret yang paling lama bekerja pada Tigran, yang paling merasakan pederitaan. Tigran tak hanya menerornya untuk urusan pekerjaan, di luar kantor pun hidupnya seolah selalu direcoki oleh bos yang mau tak mau harus diakuinya ganteng itu. Mengekorinya ke bioskop, menjadi pendamping yang tak diharapkan saat kondangan, bahkan mengacaukan liburannya di Langkawi.

Tapi dia lihat lo? Tahu lo di langkawi? Dia stay di resort itu juga? Terus gimana? (hlmn 99)

Perlahan, Alranita merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Tigran. Di luar ketegasan dan kekejamannya sebagai bos, Tigran sering memberikan perhatian-perhatian kecil. Seperti kekhawatiran Tigran saat ia ‘kabur’ dari Langkawi, gaya acuhnya saat membukakan botol minum—atau saus—tanpa diminta, hingga ketidakengganan Tigran untuk turun dari mobil dan berbasa-basi dengan ayahnya saat menjemput kondangan.

”Kamu itu…” Aku terdiam sesaat karena terlalu banyak hal yang ada di pikiranku. “Kamu itu sengaja nyiksa saya banget: Bikin saya benci banget sama kamu. Terus kamu jadi baik banget. …” (hlmn 263)

Namun semua itu tidak meredupkan niat Alranita untuk resign. Semua sudah diatur sedemikian rupa. Ia datang ke kantor tanpa bedandan, memakai jaket tebal, bahkan berkali-kali mengelap kening meski tidak berkeringat. Interview-nya besok harus berhasil, untuk itu izin sakitnya harus tampak wajar. Tapi dewi fortuna mungkin memang membencinya, malam itu justru Tigran yang tiba-tiba pingsan saat hanya mereka berdua yang ada di kantor.

Sudah lewat tengah malam, dan ini jauh lebih buruk daripada lembur. Seketika rasanya aku ingin menangis. Entah bagaimana, aku jadi takut terjadi sesuatu pada Tigran. I know he’s an evil, tapi melihat dia menderita juga tidak membuatku senang. (hlmn 204)

***

Seperti warna sampulnya, novel bergenre komedi romantis ini menghadirkan kisah yang begitu segar. Penulis cukup apik mengolah cerita dengan sisipan humor yang pas pada tempatnya serta peralihan perasaan tokoh dari benci ke cinta yang sama sekali tak tampak dipaksakan. Pun cerita dibawakan oleh dua tokoh utama pada rentang usia ‘siap nikah’ dengan latar problematika pekerja kantoran yang membuat kisah dalam novel ini terasa begitu dekat dengan target pasarnya yaitu dewasa muda.

Minus narasi mendayu namun beralur cukup padat membuat novel ini dengan teganya membuang beberapa adegan meski kemudian diberi potongan pengisahan pada bab selanjutnya. Dan dengan narasi yang proporsional, didominasi dialog yang saling bersambut, serta sisipan obrolan dalam aplikasi chatting, tak hanya berhasil menghidupkan tokoh-tokoh dalam cerita tapi juga sukses menyajikan kisah yang begitu visual.

Meski cerita berpusat pada romansa Alranita dan Tigran, tapi kehadiran tokoh-tokoh sampingan dalam novel ini tak bisa disepelekan. Carlo yang kocak, Mbak Keren yang julid, Mas Andre yang kalem, bahkan Sandra si anak baru yang polos, tampil begitu berkarakter. Peran mereka pun jelas tak hanya sebagai pelengkap tapi memang punya andil masing-masing dalam memberi warna pada cerita.

Terakhir, untuk semua senyum yang kusunggingkan dan tawa yang pecah sepanjang membacanya, novel ini berhak mendapat lima bintang tanpa cela.

(Review) Waktu Pesta bersama Cinta oleh Intan Kirana, dkk – Manifestasi Cinta Lintas Entitas dan Generasi

Judul : Waktu Pesta bersama Cinta

Penulis : Intan Kirana, Rizal Iwan, Hendri Yulius, Agrita Widiasari

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tahun terbit : 2013

Jumlah hlmn : 263 halaman

Buku ini berisikan enam belas cerita pendek yang di bagi menjadi empat bab: Cinta pada masa kanakku; Cinta ketika remaja; Cinta dan kedewasaan; dan Cinta sang senja. Penggambaran cinta dalam antologi ini begitu luas, tak terbatas pada pasangan kekasih tapi juga orang tua, sahabat, dan lainnya, tak terikat hanya pada manusia tapi juga makhluk hidup lain, bahkan tak sesempit hanya pada mereka yang bernyawa tapi juga benda-benda yang dipersonifikasi.

Aku tidak tahu siapa Nina yang terbaring di tempat tidur rumah sakit itu, karena akulah Nina, dan aku di sini. Melihat semuanya. (hlmn 5)

Masing-masing bab dalam novel ini terdiri dari empat cerita pendek. Pada bab pertama, dua cerita awal (Nina Bobo dan Singgah) sudah langsung mengejutkanku karena menggunakan tokoh yang tak biasa. Keunikan tokoh juga muncul pada cerita terakhir di bab ini (Sierra), cerita kedua pada bab selanjutnya (Love Virtually), serta cerita kedua pada bab terakhir (Museum Roh). Cerita-cerita ini cukup berhasil meski terkadang para penulis terlalu lepas menggambarkan tokoh sebegitu mirip manusia dan nyaris lupa meletakkan petunjuk tentang wujud sebenarnya dari sang tokoh.

Dengan seenak udelnya, sang pencipta menekan tombol sebuah menu, lalu dalam seketika, aku langsung memeluk Robbie dan mencium pipi kanannya. Sungguh, sebenarnya aku tak ingin melakukannya. (hlmn 113)

Bab kedua mengambil tema remaja. Namun jangan berharap kalian akan mendapatkan cerita manis ala teenlit di sini. Alih-alih, bab ini dibuka oleh (Cinta (Cerita Pendek untuk Menyapa-Mu)) sebuah cerita tentang kegamangan seorang remaja memilih agama di usianya yang ke tujuh belas. Kemudian berlanjut pada kisah (Menjadi Empat Belas) tentang remaja yang ingin mendobrak stigma bahwa perempuan tak selamanya tak punya pilihan. Sementara dua cerita lain meski tak terlalu mencerminkan masa remaja namun memilki keunikan dari segi ide cerita (Love Virtually) dan penceritaannya (Ti).

Tapi aku tak lebih dari seorang remaja labil tujuh belas tahun yang merasa benar dengan pikirannya yang terlalu bebas dan terlalu banyak tapi berantakan. (hlmn 96)

Bab selanjutnya dibuka oleh cerita favoritku (Sayap Ibuku). Aku suka sekali dengan analogi yang digunakan Rizal pada cerita ini. Bidadari dengan penari, kepak sayap dengan tarian, serta bulu-bulu pada sayap yang meranggas kala sang tokoh berhenti menari. Cerita lain yang ditulis Rizal pada bab ini (Tutup) pun begitu menarik buatku. Kisah tentang pramusaji yang menunggui pelangan terakhir sebelum menutup toko. Aku menyukai cara Rizal mengaitkan ucapan terakhir sang pelanggan dengan kisah flashback yang sebelumnya dijabarkan. Dengan dua cerita ini serta Nina Bobo dan Museum Roh, kunobatkan Rizal sebagai penulis favoritku pada novel ini.

Sayap itu memang tidak kelihatan, tapi di cermin itu, aku bisa melihat bayangan Ibu sedang tepekur menghitungi jumlah bulu-bulu yang tersisa di sayapnya yang sudah mulai gersang. (hlmn 148)

Masih pada bab yang sama, ada (Kau dan Aku yang berbeda) sebuah kisah yang dikemas bak surat terbuka yang dibuat untuk seorang sahabat yang akan melepas masa lajangnya. Cerita ini terasa begitu intim yang nampaknya memang kisah nyata sang penulis. Terakhir, kita akan disuguhkan (Pada Hari Kedatanganmu) sebuah kisah dengan penggunaan sudut pandang orang pertama jamak. Dua orang bercerita dalam satu waktu. Out of the box!

Kelak Nak, apabila kau lahir, salah satu dari kami akan mendekapmu dalam pelukan, lantas menyusuimu sembari tersenyum haru, sementara salah satunya lagi akan mengumandangkan azan di telingamu. (hlmn 177)

Lalu empat cerita pada bab terakhir kompak menghadirkan kisah sendu sebagai penutup novel ini. Ada kisah yang mengangkat penyakit alzheimer (Kotak Kenangan Mnemosyne), kisah penjual barang antik beserta barang-barang koleksinya (Museum Roh), kisah seorang istri dari tentara yang gugur dalam peperangan (Dua Puluh Tahun Bayang-bayang), serta kisah pria berbeda yang kehilangan segalanya (Titik Kecil yang Pembangkang).

Detik ini menyadarkanku bahwa aku bukanlah pemenang, aku hanyalah titik kecil yang tidak mampu berjuang. Aku hanya melihat Dia di balik teralis. Kami tersenyum, miris. (hlmn 253)

Secara keseluruhan kuberi empat dari lima bintang untuk antologi cerita pendek ini.

Terima kasih sudah membaca 🙂

(Review) Misteri Patung Garam oleh Ruwi Meita – Persembahan Karya Seni Pembunuh Keji

Judul : Misteri Patung Garam

Penulis : Ruwi Meita

Penerbit : Gagas Media

Tahun terbit : Cetakan pertama, 2015

Jumlah hlmn : 278 halaman

***

Lia tiba di Surabaya dan langsung bergerak ke rumah Wina, sahabatnya. Sesampainya di sana, sayup-sayup terdengar suara piano dari lantai atas. Mendapati pintu tak terkunci, Lia bergegas naik. Di atas, ia justru disambut sahabatnya yang sudah tak bernyawa. Bahkan mayatnya terbilang dalam keadaan yang sungguh mengerikan, namun sekaligus artistik.

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam sehingga dia mirip patung garam.” (hlmn 10)

Tak lama berselang, kejadian yang sama kembali berulang. Leyla, seorang pelukis muda, ditemukan mati dalam keadaan yang sama. Terbalut garam, mengenakan wig merah terang, dan tanpa bola mata hingga hanya menyisakan lubang hitam yang gelap dan mengerikan. Ironisnya, Leyla diketahui tengah hamil muda sebelumnya.

Sesuatu menusuk-nusuk perutnya dan dia berada dalam ambang kehilangan kesadaran. Namun, tak ada yang lebih nyeri dari hatinya sebab dia tak bisa mempetahankan sebuah kehidupan. (hlmn 52)

Inspektuk Kiri Lamari, dibantu rekannya Inspektur saut, bertugas menyelidiki kasus ini. Petunjuk mengarah pada rekan sesama seniman tepatnya pematung. Dan tak sembarang patung, tapi patung yang terbuat dari media yang sama seperti yang membalut para korban. Garam.

Kiri menatap patung-payung abstrak yang berjajar rapi. Bentuknya lebih mirip gundukan garam. Kata orang, karya anak kecil dan karya seniman terkenal kadang tak bisa dibedakan. (hlmn 88)

Penyelidikan belum mendapati titik terang namun sang pembunuh justru terus bergerak. Korban ketiga berasal dari kota lain, Yogyakarta, dan ditemukan justru saat Kiri tengah berada di kota tersebut. Pembunuh itu begitu dekat tapi tetap tak tersentuh.

Dia harus memberi pelajaran kepada Kiri. Sebuah rencana indah sudah disusunnya untuk Kiri. Rencana yang akan menjadi mimpi buruk untuk Kiri. (hlmn 195)

Kiri mulai menerima teror. Kenes, pacarnya, terancam. Dan malam pameran fotografi karya Kenes menjadi puncaknya. Bersama Ireng, bocah mantan pencopet yang kini tinggal bersamanya, Kiri menghadiri pameran tersebut. Namun saat ponselnya berdering, Kiri makin gusar dan terpaksa meninggalkan tempat itu.

Kenes melambaikan tangannya saat masuk ke pintu taksi. Kiri segera masuk rumah saat taksi bergerak. Namun dia tak pernah tahu ada mobil lain dengan kaca gelap yang mengikuti taksi itu. (hlmn 107)

***

Penulis novel ini benar-benar tahu cara menarik minat pembaca sedari awal cerita dimulai. Tokoh yang dihadirkan juga begitu memikat. Awalnya aku merasa janggal dengan polisi yang gemar memasak dan berkebun serta fotografer travel yang menggemari stiletto, tapi seiring berjalannya cerita akan tampak garis merah yang menghubungkan karakter para tokoh dengan plot cerita itu sendiri. Oh, dan aku harus mengakui bahwa karakter Ireng di sini begitu adorable. Bocah ini benar-benar memberi warna berbeda dan menghidupkan cerita dengan caranya sendiri.

Apresiasi juga perlu diberikan untuk riset yang dilakukan penulis. Tak hanya tentang sifat-sifat garam itu sendiri serta kaitannya dengan ilmu forensik tetapi juga filosofi serta kepercayaan-kepercayaan di baliknya. Pun dengan penggambaran segala karya seni dalam novel ini, mulai dari patung, lukisan interior, hingga fotografi.

Kekurangan novel ini hanya pada cerita yang berjalan lurus. Biasanya novel-novel detektif-thriller seperti ini akan menghadirkan beberapa tersangka yang membuat pembaca menebak-nebak pembunuh sebenarnya. Tapi novel ini hanya menghadirkan satu tersangka tunggal, padahal ada tiga korban yang terbunuh dengan latar belakangnya masing-masing. Entahlah, mungkin penulis ingin fokus dan tidak memecah konsentrasi pembaca. Aku pun tak berani komplain karena cerita tetap menghadirkan twist yang tak terduga serta epilog yang cukup mengejutkan di akhir.

Kuberi 4.5 dari 5 bintang.

Terima kasih sudah membaca 🙂

(Review) Sudut Mati oleh Tsugaeda – Meyingkap Ketegangan Intrik Dua Korporasi Besar

Sudut Mati.jpg

Judul : Sudut Mati

Penulis : Tsugaeda

Penerbit : Penerbit Bentang

Tahun terbit : Cetakan pertama, September 2015

Jumlah hlmn : 344 halaman

***

Cerita bermula ketika Titan, putra ketiga dari pemilik Grup Prayogo, kembali ke Indonesia. Ia datang di saat grup tengah digrogoti krisis hingga terancam dibubarkan. Sementara kakaknya, Titok, sama sekali tak bisa diandalkan dan ayahnya sendiri terlalu sibuk dengan pencalonan dirinya sebagai presiden.

“Pada situasi seperti ini, ayahmu sibuk kampanye politik. Sementara itu, abangmu goblok, nggak bisa ngurusi bisnis.” (hlmn 13)

Ancaman lain juga datang dari kompetitor, Ares Inco, yang mulai bergerak dengan segala cara untuk menghancurkan Grup Prayogo. Ironisnya, anak bungsu keluarga Prayogo justru menikahi putra mahkota Ares Inco.

“Ya, Tiara. Dia sekarang ada di rumah Kevin. Dia menikah dengan putra tunggal Nando, bos Ares. Tiara tersandera di sana.” (hlmn 150)

Di sisi lain, Teno, putra kedua keluarga prayogo dibebaskan dari penjara secara diam-diam. Teno sedikit berbeda dengan saudara-saudaranya. Ia punya satu tujuan, yang pernah dituangkannya dalam sebuah manifesto, yakni membunuh ayahnya sendiri.

“Berengsek!” maki Ronny. “Kenapa Teno Prayogo bisa berkeliaran bebas?! Siapa yang melepaskannya?” (hlmn 213)

Lepasnya Teno juga diikuti dengan munculnya seorang pembunuh bayaran dengan kode ‘Si Dokter’. Meski sebelumnya hanya dianggap mitos, Si Dokter kini mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

“Si Dokter ini, siapa sebenarnya dia?” “Pembunuh professional. Tidak ada yang tahu identitasnya.…” (hlmn 84)

Keadaan pun mulai memanas ketika Titan diculik. Titok yang kemudian menyusulnya ke markas Ares Inco justru terperangkap ditengah perseteruan pihak ares dengan kepolisian.

Seluruh mobil yang ada di situ rusak berat diserbu amuk peluru. Ban-ban hancur ditembus dan kaca-kacanya pecah berserakan. Suara letusan dan desing peluru memekakkan telinga dan seolah tak ada akhirnya. (hlmn 260)

***

Novel ini menyuguhkan tema yang jarang digali penulis kebanyakan, thriller korporasi. Alurnya cepat dengan fragmen-fragmen cerita terdahulu disampaikan dalam bentuk kilas balik. Dari segi penokohan pun cukup kuat dengan beberapa villain potensial. Puntiran atau twist dalam cerita, yang sebenarnya muncul terlalu dini, juga cukup mengejutkan.

Dari segi cerita, novel ini mengambil cakupan yang luas. Mulai dari masa lalu keluarga prayogo hingga suksesnya Grup Prayogo sekarang, bisnis ilegal Ares Inco hingga tindak perdukunan, aksi satuan kepolisian hingga para pembunuh bayaran, juga keterlibatan agen rahasia hingga petinggi intelejen. Meski begitu, penulis cukup berhasil menyederhanakan semua itu dan menyuguhkan cerita yang mudah dipahami.

Sayangnya, kisah luar biasa yang disajikan tidak dibalut dengan penyampaian dialog yang sepadan. Beberapa dialog ditulis terlalu panjang hingga tak bisa dibedakan dengan narasi. Pilihan kata dalam dialog tiap-tiap tokoh pun sejenis, baik protagonis maupun antagonis, baik yang dikisahkan sebagai orang terpelajar maupun ‘preman pasar’. Bahkan, beberapa dialog yang seharusnya diungkapkan dengan penuh kemarahan terasa datar tanpa emosi.

Terlepas itu, aku tetap suka novel ini. Kuberi 4 dari 5 bintang.

Terima kasih sudah membaca 🙂