(Review) DEADLY FEAR – Menguak Ketakutan Terbesar yang Akan Membunuhmu

IMG_20170416_222506-01

Judul                     : Deadly Fear

Penulis                 : Cynthia Eden

Penerjemah       : Airien Kusumawardani

Genre                   : Romance Suspense

Penerbit              : Bukuné

Tahun terbit       : Cetakan pertama, Juni 2012

Jumlah halaman               : 532 halaman

***

Yay! Akhirnya bisa ikutan #MFFRC lagi. Di bulan april ini temanya adalah: ”Buku yang kamu dapat dari hasil diskonan!” Dan kebetulan buku ini kubeli di basement Gramedia Depok yang memang menjual buku-buku murah. Nggak tau juga seberapa besar diskonnya karena harga yang tertera langsung 24k yang tentunya adalah harga setelah diskon. Yaa biasanya novel terjemahan yang halamannya sampai 500an bisa hampir 100k, kan? Atau lebih?

Buku ini menceritakan divisi baru di FBI yaitu SSD, atau Serial Services Division, yang khusus menangani kasus pembunuhan berantai. Kisah dimulai ketika Luke Dante baru saja dipindahkan ke SSD dan menangani kasus pertamanya bersama Monica Davenport.

“Maksudku…, kita akan bekerja bersama, dan kita tidak bisa berpura-pura bahwa masa lalu kita tidak pernah terjadi…” (hlmn 33)

Yup, Luke dan Monica pernah menjalin asmara saat di akademi namun kemudian Monica menjauh. Ketika mereka bertemu kembali, Monica bukan lagi dirinya yang dulu. Selain telah menjadi salah satu profiler terbaik di SSD, Monica juga terkenal dengan reputasinya sebagai seorang wanita yang sedingin es. Si Nona Es, mereka menyebutnya.

“Dalam sepuluh tahun terakhir, kami hanya menemukan dua kasus pembunuhan di Jasper.” Jeda cukup lama. “Keduanya terjadi dalam dua minggu terakhir.” (hlmn 50)

Awalnya mereka meragukan bahwa kedua pembunuhan yang sedang diselidiki dilakukan oleh orang yang sama karena metodenya benar-benar berbeda. Tapi kemudian ada seorang gadis lain yang menghilang. Korban ketiga, yang akhirnya bisa selamat setelah Monica dan Luke menemukan gundukan tanah yang mencurigakan. Gadis itu, Laura Billings, yang menderita klaustrofobia dikubur hidup-hidup. Dari sinilah diketahui bahwa sang pembunuh menggunakan ketakutan terbesar para korbannya untuk menyiksa mereka sebelum akhirnya membunuhnya.

“Katakan padaku… apa yang membuatmu takut, Davenport?” Napas Monica tercekat. Bayangan akan darah dan lingkaran kegelapan berkelebat dalam pikirannya. (hlmn 118)

Keadaan mulai memanas ketika pembunuh yang mereka kejar mulai meneror Monica. Mengungkit masa lalu yang berhasil dikuburnya selama ini. Kemudian Laura benar-benar menjadi korban ketika si pembunuh mendatanginya di rumah sakit. Bahkan seorang agen SSD pun juga diculik. Sang pembunuh tahu terlalu banyak, ia seolah selalu ada di dekat mereka. Mengintai dalam kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk membawakan ketakutan terbesar yang mereka punya. Si Pengintai, mereka menjulukinya.

***

Ketegangan seolah menyelimutiku sepanjang membaca novel ini, suspence-nya dapet banget. Berbeda dengan novel detektif yang lebih membangkitkan curiosity pembacanya. Seolah sedang menyaksikkan film Hollywood dengan adegan baku tembak yang ada di dalamnya. Emosi kedua tokoh utama, Luke dan Monica, pun berhasil dieksplor dengan sangat baik. Kebencian mereka terhadap tindak kejahatan, keprihatinan pada para korban, ketakutan akan satu dan lain hal, dan tentunya ketertarikan terhadap satu sama lain. Ah ya, karena tokohnya memang sudah dewasa jadi tak heran kita akan menemukan nuansa roman menyerempet stensil di novel ini.

Untuk ending-nya, aku emang nggak bisa nebak siapakah Si Pengintai sebenarnya. Twist-nya berhasil dong? Enggak juga kayaknya. Menurutku penggambaran Si Pengintai di akhir cerita kurang disamakan dengan penokohan dirinya sebelumnya. Kalau film mungkin kita bisa lihat wajah yang sama, namun tak demikian dengan novel. Tapi untungnya nggak ada plot hole. Alasan utama Si Pengintai melakukan kejahatan pun terasa masuk akal, khas film-film FBI yang sering kutonton.

Terakhir, kuberi rating 3,5 dari 5 untuk ketegangan menyeluruh yang kurasakan sepanjang membaca novel ini. Iya, yang itu juga ikutan tegang, haha

Thanks for reading 😉

Advertisements

Begin Again

Begin Again

Ini hari kedua aku menatap punggungnya. Pria yang sama, di tempat itu juga. Tengah menatap hamparan laut di depannya.

“Pantai ini memang kalah pamor dibanding pantai sebelah,” tutur seorang penduduk lokal yang kutemui.

Namun hal itu justru sesuai dengan keinginanku. Aku butuh ketenangan untuk menulis fiksi terbaruku yang tak kunjung selesai. Untuk meredam ocehan penerbit yang tiada bosan menagih karya teranyar. Tak kusangka, aku akan mendapatkan lebih dari itu.

Menemukanmu.

***

Mentari mulai kembali ke peraduan, meninggalkan sinaran jingga merona di langit senja.

“Apa aku mengenalmu?” ucapnya dengan wajah penuh tanya.

“Entahlah,” jawabku. “Tapi yang pasti aku mengenalmu.”

Pria itu memberikan mimik mengingat-ingat. Cukup lama, bahkan hingga aku mulai berhenti berharap. Namun tiba-tiba…

“Adrian?”

Ia ingat. Meski nantinya akan kembali lupa. Tapi tak apalah, aku tetap bahagia.

“Ya?” kuberikan senyum terbaikku.

Pria itu lalu memelukku seraya menangis tersedu. Aku balik memeluknya, jauh lebih erat. Menikmati saat-saat terindah dalam hidupku.

Saat Rama memelukku..

Saat Rama mengingatku..

Saat Rama tahu bahwa aku pernah, sedang, dan akan selalu ada di hidupnya..

Tangis Rama berhenti sejalan dengan terlepasnya pelukan hangat dariku. Wajahnya berganti memberi tatapan kebingungan seiring sinaran langit jingga yang berganti kelabu.

“S-siapa kau?” gagapnya.

“Bukan siapapun, hanya orang yang kebetulan melintas di dekat sini,” jawabku seraya memaksakan senyum. “Aku hanya berniat menemanimu.”

“Oh,” ucapnya masih kebingungan. “Terima kasih kalau begitu.”

“Bukan masalah,” jawabku sambil menahan tetes air mata jatuh.

“Sudah malam,” ucapnya seraya berdiri. “Aku harus pulang.”

“Oh, aku akan mengantarmu,” ucapku juga ikut berdiri. “Sepedaku ada di situ.”

“Aku tak mau merepotkan.”

“Tak apa, kita searah.”

“Kau tahu di mana rumahku?”

Tentu saja aku tahu. Aku sudah mendatangi  tempat itu setiap hari dalam lima tahun ke belakang. Mengantarmu pada ayah dan ibumu. Menggantikan mereka mengawasimu setiap hari. Juga menemanimu tiap menjelang senja. Di tempat kita pertama bertemu. Di sini.

“Kau sudah bilang sebelumnya, kau lupa?”

“Benarkah?”

“Ya,” jawabku.  “Oh, aku Adrian. Salam kenal.”

Kuulurkan tanganku..

Mengulang semuanya..

Memulai kembali dari awal..

#FFKamis – Penghuni Malam

#FFKamis – Penghuni Malam

Hitam adalah sahabatku. Gelap selalu menemaniku. Dan malam adalah duniaku.

Malam membuat gerakku lebih leluasa. Malam menyingkirkan sinaran surya. Malam memudahkanku menyerang mangsa.

Aku bukan pemilih dalam urusan buruan. Tapi kebetulan saja manusia di depanku anak perempuan. Sudah terbayang tentu lezat tak karuan.

Kudekati mangsa teramat perlahan. Tanpa suara kuusahakan. Aroma darah yang mengalir di sekitar kerongkongan begitu memabukkan.

Kudekati mangsa dari satu sisi. Berjuang untuk tetap sunyi. Kusergap cepat tanpa bunyi.

Plok!

***

Plok!

“Mah, aku digigitin nyamuk,” rengek seorang bocah perempuan pada ibunya.

“Ssst! Jangan berisik! Nanti om satpol pepeknya denger. Lagian kamu kenapa nyusul mamah ke sini, sih?”

#FFKamis – Pemburu Malam

#FFKamis – Pemburu Malam

Kurapatkan jubah hangatku, mencoba menepis dinginnya malam. Sedari tadi, tak ada tanda dari makhluk buruanku. Aku hampir berniat pulang sebelum akhirnya sebuah lengkingan panjang terdengar.

Terlambat.

Kulihat seekor mamalia berbelalai teronggok. Di sampingnya, berdiri makhluk berkepala serigala dengan tubuh manusia berbulu.

Aku tak pernah melawan makhluk setingkat warewolf sebelumnya. Tapi seharusnya mudah saja, karena kulitnya tak setebal kulit goblin. Aku hanya perlu menembakkan peluru bius secepatnya.

Kena!

Makhluk itu meraung dan langsung berlari menerkamku. Aku menjerit tepat saat ia seketika jatuh tak sadarkan diri.

Biusnya bekerja.

Aku menghela napas seraya menatap bulu-bulu hitam legam yang mulai tumbuh di lenganku.

Sial!

(Review) Forgotten by Cat Patrick – Mengajakmu Memasuki Dunia Tanpa Kenangan

Bagaimana jika kamu terus melupakan masa lalu,

tapi mengetahui yang akan terjadi di masa depan?

***

IMG_20160821_203231

Judul Asli                   : FORGOTTEN

Judul Terjemahan   : FORGOTTEN

Author                        : Cat Patrick

Penerbit                     : Mizan Fantasi

Tahun terbit             : Cetakan I, Oktober 2012

Jumlah halaman      : 327 Halaman

***

Ini adalah review pertama yang saya tulis. Menjawab tantangan Reading Challenge bulan Agustus dari Monday Flashfiction yang bertema: “Buku yang sudah lama kamu punya, tapi selalu tertunda dibaca”. Saya  membeli buku berjudul Forgotten ini pada Desember tahun lalu saat ada diskon akhir tahun di mizanstore(dot)com. Dan novel ini saya pilih buat di-review karena sebelumnya sudah sempat baca beberapa halaman tapi enggak dilanjutin lagi, hehe..

Buku ini bercerita tentang seorang gadis bernama London Lane yang terus melupakan kejadian di hari kemarin. Terdengar seperti Alzheimer atau Demensia, yang memang menarik untuk dikisahkan seperti dalam film A Moment to Remember, The Notebook, ataupun 50 First Dates. Tapi London tak memiliki penyakit semacam itu.

Karena kita sudah pernah menemui seorang ahli syaraf. … dia sudah memeriksa otakmu dengan MRI, dan semuanya tampak wajar. Katanya, otakmu masih berfungsi dengan prima. Tidak ada bagian apapun yang ‘rusak’. (hlmn 156)

Setiap malam, London menuliskan hal-hal penting yang terjadi pada hari tersebut untuk dibacanya esok hari.

Bagiku, membaca adalah mengingat. (hlmn 251)

Selain pada catatan harian, London juga bergantung pada kemampuannya untuk mengetahui masa depan. Ya, London tahu bahwa Jamie Connor akan menjadi sahabatnya saat kuliah nanti dan seterusnya. London akan mengenali gadis itu saat bertemu di sekolah berkat ingatan masa depannya akan sosok Jamie yang lebih tua.

Suatu hari, London bertemu dengan murid pindahan bernama Luke Henry. London menyukainya tapi tak memiliki pengelihatan apapun tentang Luke di masa depan.

Dia tidak ada dalam ingatanku, yang berarti dia tidak ada di masa depanku. (hlmn 19)

Akhirnya, London hanya bisa mengandalkan catatan hariannya agar tetap mengingat Luke.

Menyadari bahwa Luke sepertinya tidak ada dalam kenanganku besok atau di masa depan, yang kuinginkan sekarang hanyalah membolos dan mengenalnya lebih jauh sebelum dia lenyap lagi. (hlmn 45)

Luke adalah tipe pria idaman dalam novel. Memiliki fisik sempurna dan sikap seorang gentleman. Kisah London dan Luke merupakan bagian manis yang ada di novel ini. Terlebih, dengan ingatan London yang terhapus tiap hari membuat pengalamannya bersama Luke selalu terasa bagaikan yang pertama.

Namun, berkat ingatanku yang payah, ini terasa seperti pengalaman pertama, dan aku menyukainya. (hlmn 128)

Di tengah kebahagiaannya bersama Luke, London mulai dihantui mimpi buruk. Mimpi tentang sebuah prosesi pemakaman. Ia yakin, mimpi tersebut akan menjadi kenyataan di masa depan. Tapi, ia tak dapat mengingat siapakah yang meninggal dalam mimpi tersebut. Ia tak dapat mengingat siapa yang ditangisi Mom, Dad, dan Granma dalam mimpi tersebut.

Mom menangis di kananku. Patung malaikat seram berdiri di kiriku. Di hadapan kami berdirilah para pelayat berpakaian hitam. (hlmn 67)

Untuk mengungkap misteri di balik mimpi tersebut, London pun bermaksud mencari keberadaan Dad yang sudah lama bercerai dengan Mom. Tapi ia tak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan Jamie. Sialnya, mereka tengah bertengkar. Dan dalam ingatan masa depannya, mereka tak akan berbaikan dalam waktu dekat.

***

Novel ini menggunakan alur maju yang sedikit lambat di awal. Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama dengan bahasa yang menyesuaikan usia sang tokoh utama. Jujur, andai saya berkesempatan bertemu dengan penulisnya, ingin sekali membahas mengenai usia tokoh London yang di buat masih duduk di bangku sekolah di sini. Karena seandainya London baru saja masuk kuliah atau lebih tua lagi, permasalahannya bisa dibuat lebih kompleks dan menarik lagi.

Tokoh yang ditonjolkan selain London dan Luke adalah Jamie dan Mom. Jamie tipe cewek populer yang selalu digoda, bukan dikencani, para cowok dan dibenci para cewek karenanya. Sementara Mom seorang single mother yang bekerja sebagai agen perumahan. Mom jarang berada di rumah, namun masih meluangkan waktunya untuk London.

Berbicara mengenai ending, yang bisa saya katakan adalah novel ini tak memberikan ending yang mendetail. Semua permasalahan memang sudah terselesaikan dan tak ada yang menggantung, namun rasanya ada satu bab yang hilang untuk mengakhiri cerita di novel ini sebelum akhirnya masuk ke epilog.

Terakhir, saya berikan rating 3,8 dari 5 untuk ide keren yang dieksekusi dengan baik oleh Cat Patrick. Worth to read banget kok dengan jalan cerita yang fokusnya berubah-ubah tapi pada akhirnya membawa ke suatu penyelesaian yang berkesinambungan.

Thanks for reading 🙂

Candle Light Dinner

Candle Light Dinner

Kutunggu di gudang :*

Sebuah pesan dari lelakiku. Aneh, alih-alih mendatangiku di kamar, ia malah menyuruhku ke gudang. Didorong rasa penasaran, aku pun turun ke lantai bawah dan segera menuju gudang.

Tok! Tok! Tok!

Tak ada jawaban. Kuputar pegangan pintu lalu mendorongnya perlahan. Gelap. Kuraba dinding ruangan sempit itu lalu menekan tombol untuk menyalakan lampu. Seketika, nuansa oranye menyelimuti setiap sudut ruangan. Remang, tapi cukup membantu untuk melihat jelas.

“Hai, kemarilah!” ujar lelakiku.

Ruangan ini masih sama, dengan tumpukan barang yang bersandar pada dinding. Namun di tengah ruangan, yang luasnya tak seberapa, lelakiku tengah duduk di lantai di belakang meja yang berisikan hidangan untuk dua orang.

“Sebaiknya kau kunci pintunya,” ucap lelakiku setengah berbisik.

Aku menutup pintu lalu menguncinya. Dan bergegas duduk di sudut lain meja. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari bahwa barang-barang di ruangan ini kini tertumpuk rapi dan tak lagi berdebu.

“Apa ini?” tanyaku.

“Sebentar,” lelakiku mengambil korek api api lalu menyalakan empat batang lilin di sudut kiri dan kanan meja. “Ini yang orang-orang bilang Candle Light Dinner.”

Aku tersenyum. Tak menyangka lelakiku bisa seromantis ini. “Bukankah ini baru lewat satu dua jam dari waktu makan siang?”

“Aku tahu,” jawab lelakiku. “Tapi kita hanya punya waktu di siang hari seperti ini, bukan?”

“Ya,” jawabku getir. “Kita memang jarang punya waktu untuk berdua.”

“Maaf,” ucapnya seraya menggenggam tanganku.

“Tak apa, aku paham,” tuturku seraya menggenggam balik. “Dan sebenarnya kau pun tak perlu melakukan ini.”

“Aku memang bukan pria romantis,” ucapnya seraya menatapku dalam. “Tapi dirimu begitu mengagumi telenovela dan drama-drama sejenis. Aku tahu aku harus melakukan ini sesekali jika tak ingin kehilanganmu.”

Aku tersipu. Beruntung dengan minimnya cahaya di gudang berhasil menutupi wajahku yang mulai memerah. Kami pun mulai makan hidangan di meja. Tak banyak yang kami perbincangkan kala itu. Tapi gestur dan tatapan kami menunjukkan bahwa ini adalah waktu yang indah bagi kami berdua.

“Sudah jam empat, aku harus menjemput si Anj*ng.”

“Bisakah kau tidak memanggilnya dengan sebutan seperti itu?”

“Lalu, kau mau aku memanggilnya ‘Suamimu’?”

Aku cemberut.

“Hei, sudahlah. Jika semua berjalan sesuai rencana, pria itu tak akan lagi menghalangi cinta kita. Aku pun sudah lelah berpura-pura menjadi kacungnya.”

“Tapi..”

“Tak perlu khawatir,” ucapnya meyakinkanku. “Racun yang kuberikan padamu tak akan terlacak secara medis. Kau pun hanya memberikannya dalam dosis rendah setiap hari. Dalam beberapa minggu, kau tentunya sudah harus berpura-pura sedih akibat kematiannya.”

“Dan kita akhirnya bisa bersama.”

“Ya, dan rumah ini akan menjadi milik kita.”

Aku tersenyum membayangkan masa-masa indah yang akan datang itu.

Sup Buah Favorit Kakak

Sup Buah Favorit Kakak

“Mau buat sup buah, Ma?” tanyaku melihat berbagai macam bahan yang terhampar di meja.

“Iya nih, sup buah  favoritnya kakakmu,” jawab mama semringah. “Kamu bantu Mama, ya?”

Kakak?

“Oke deh, Ma!” jawabku mantap. “Aku bantu apa dulu?”

“Nih, biji selasihnya direndam air hangat dulu ya, Dek!”

Aku pun mengambil mangkuk dan termos berisi air panas. Kutuang air panas dari termos ke mangkuk lalu kutaburkan biji selasih secukupnya ke sana.

“Sudah, ma.”

“Sekarang bantu Mama serut melon ya. Nih, udah mamah buang bijinya,” ujar mama sambil memberiku setengah buah melon. “Kamu serut pake baller ini ya, supaya bentuknya bulat-bulat.”

“Oke, ma!” seruku seraya mengambil baller yang disodorkan mama.

Aku pun mulai mencungkil daging melon menggunakan baller. hasilnya kukumpulkan di mangkuk stainless steel berukuran sedang. Sementara itu, Kulihat mama memotong buah apel, kiwi, dan buah naga menjadi berbentuk dadu.

“Eh, udah cukup Dek, nggak perlu semuanya diserut,” ujar mama usai memotong-motong buah. “Udah terlalu banyak itu. Kita ‘kan cuma mau buat empat porsi.”

Empat?

“Nah, sekarang kita buat supnya,” ucap mama seraya mengambil teko air. “Kamu keluarkan es batu dari freezer  ya.”

Akupun mengeluarkan tempat es batu dari freezer dan mengeluarkan potongan es batu dari tempatnya. Sementara itu, Mama mengambil air matang yang lalu dicampur dengan sirup cocopandan dan susu kental manis full cream. Terakhir, Mama mencampurkan biji selasih yang mengembang pasca direndam air tadi. Setelah semuanya diaduk secara merata, Mama kemudian mengambil sendok lalu mencicipinya.

“Kayaknya kurang manis deh,” ucap Mama. “Si Kakak ‘kan suka yang manis banget. Tambah susu kental manisnya deh.”

Lagi-lagi kakak.

Setelah dirasa Pas, Mama menambahkan es batu dan buah-buahan tadi ke dalam wadah lalu mengaduknya hingga rata.

“Nah, kamu bagi supnya jadi empat mangkuk ya dek,” ucap mama. “Mama mau ke kamar mandi dulu.”

Kenapa harus empat?

Aku pun mengambil empat mangkuk warna-warni dari lemari peralatan makan. Kuisi penuh tiga mangkuk tadi dengan sup buah yang baru saja dibuat. Lalu kutatap sisa sup buah di wadah. Cukup untuk satu mangkuk terakhir.

“Wah, adek bikin sup buah nih,” ujar Papa yang baru masuk dapur.

“Iya, Pa.”

“Ini kok ada satu mangkuk kosong.”

“Iya, Mama bilangnya bagi jadi empat mangkuk.”

“Eh, ada Papa,” ujar mama yang baru kembali kamar mandi. “Yuk Pa, makan sup buah buatan Mama sama Adek. Loh, kok satu mangkuk lagi masih kosong? Sini deh Mama aja yang isi, Adek panggil kakak aja ya.”

Kakak? Tapi kan…

Aku dan papa saling tatap.

“Loh, kok adek diam saja?” tanya Mama melihatku tak beranjak. “Panggil Kakak sana. Kita makan supnya bareng-bareng.”

“Ma, Kakak ‘kan sudah..” kata-kata Papa menggantung.

Meninggal.

“Sudah apa, Pa?”

“Ehm, Masa Mamah lupa,” ujar Papa. “Itu loh, Kakak ‘kan sudah berangkat study tour kemarin. Baru pulang besok.”

Bohong.

“Ah, masa sih?” Mama tampak meragukan Papa. “Iya kali yah, Mamah aja yang lupa. Yaudah kita makan dulu sup buahnya. Punya Kakak nanti Mama kasih tetangga aja.”