#FFKamis – Pemburu Malam

#FFKamis – Pemburu Malam

Kurapatkan jubah hangatku, mencoba menepis dinginnya malam. Sedari tadi, tak ada tanda dari makhluk buruanku. Aku hampir berniat pulang sebelum akhirnya sebuah lengkingan panjang terdengar.

Terlambat.

Kulihat seekor mamalia berbelalai teronggok. Di sampingnya, berdiri makhluk berkepala serigala dengan tubuh manusia berbulu.

Aku tak pernah melawan makhluk setingkat warewolf sebelumnya. Tapi seharusnya mudah saja, karena kulitnya tak setebal kulit goblin. Aku hanya perlu menembakkan peluru bius secepatnya.

Kena!

Makhluk itu meraung dan langsung berlari menerkamku. Aku menjerit tepat saat ia seketika jatuh tak sadarkan diri.

Biusnya bekerja.

Aku menghela napas seraya menatap bulu-bulu hitam legam yang mulai tumbuh di lenganku.

Sial!

(Review) Forgotten by Cat Patrick – Mengajakmu Memasuki Dunia Tanpa Kenangan

Bagaimana jika kamu terus melupakan masa lalu,

tapi mengetahui yang akan terjadi di masa depan?

***

IMG_20160821_203231

Judul Asli                   : FORGOTTEN

Judul Terjemahan   : FORGOTTEN

Author                        : Cat Patrick

Penerbit                     : Mizan Fantasi

Tahun terbit             : Cetakan I, Oktober 2012

Jumlah halaman      : 327 Halaman

***

Ini adalah review pertama yang saya tulis. Menjawab tantangan Reading Challenge bulan Agustus dari Monday Flashfiction yang bertema: “Buku yang sudah lama kamu punya, tapi selalu tertunda dibaca”. Saya  membeli buku berjudul Forgotten ini pada Desember tahun lalu saat ada diskon akhir tahun di mizanstore(dot)com. Dan novel ini saya pilih buat di-review karena sebelumnya sudah sempat baca beberapa halaman tapi enggak dilanjutin lagi, hehe..

Buku ini bercerita tentang seorang gadis bernama London Lane yang terus melupakan kejadian di hari kemarin. Terdengar seperti Alzheimer atau Demensia, yang memang menarik untuk dikisahkan seperti dalam film A Moment to Remember, The Notebook, ataupun 50 First Dates. Tapi London tak memiliki penyakit semacam itu.

Karena kita sudah pernah menemui seorang ahli syaraf. … dia sudah memeriksa otakmu dengan MRI, dan semuanya tampak wajar. Katanya, otakmu masih berfungsi dengan prima. Tidak ada bagian apapun yang ‘rusak’. (hlmn 156)

Setiap malam, London menuliskan hal-hal penting yang terjadi pada hari tersebut untuk dibacanya esok hari.

Bagiku, membaca adalah mengingat. (hlmn 251)

Selain pada catatan harian, London juga bergantung pada kemampuannya untuk mengetahui masa depan. Ya, London tahu bahwa Jamie Connor akan menjadi sahabatnya saat kuliah nanti dan seterusnya. London akan mengenali gadis itu saat bertemu di sekolah berkat ingatan masa depannya akan sosok Jamie yang lebih tua.

Suatu hari, London bertemu dengan murid pindahan bernama Luke Henry. London menyukainya tapi tak memiliki pengelihatan apapun tentang Luke di masa depan.

Dia tidak ada dalam ingatanku, yang berarti dia tidak ada di masa depanku. (hlmn 19)

Akhirnya, London hanya bisa mengandalkan catatan hariannya agar tetap mengingat Luke.

Menyadari bahwa Luke sepertinya tidak ada dalam kenanganku besok atau di masa depan, yang kuinginkan sekarang hanyalah membolos dan mengenalnya lebih jauh sebelum dia lenyap lagi. (hlmn 45)

Luke adalah tipe pria idaman dalam novel. Memiliki fisik sempurna dan sikap seorang gentleman. Kisah London dan Luke merupakan bagian manis yang ada di novel ini. Terlebih, dengan ingatan London yang terhapus tiap hari membuat pengalamannya bersama Luke selalu terasa bagaikan yang pertama.

Namun, berkat ingatanku yang payah, ini terasa seperti pengalaman pertama, dan aku menyukainya. (hlmn 128)

Di tengah kebahagiaannya bersama Luke, London mulai dihantui mimpi buruk. Mimpi tentang sebuah prosesi pemakaman. Ia yakin, mimpi tersebut akan menjadi kenyataan di masa depan. Tapi, ia tak dapat mengingat siapakah yang meninggal dalam mimpi tersebut. Ia tak dapat mengingat siapa yang ditangisi Mom, Dad, dan Granma dalam mimpi tersebut.

Mom menangis di kananku. Patung malaikat seram berdiri di kiriku. Di hadapan kami berdirilah para pelayat berpakaian hitam. (hlmn 67)

Untuk mengungkap misteri di balik mimpi tersebut, London pun bermaksud mencari keberadaan Dad yang sudah lama bercerai dengan Mom. Tapi ia tak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan Jamie. Sialnya, mereka tengah bertengkar. Dan dalam ingatan masa depannya, mereka tak akan berbaikan dalam waktu dekat.

***

Novel ini menggunakan alur maju yang sedikit lambat di awal. Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama dengan bahasa yang menyesuaikan usia sang tokoh utama. Jujur, andai saya berkesempatan bertemu dengan penulisnya, ingin sekali membahas mengenai usia tokoh London yang di buat masih duduk di bangku sekolah di sini. Karena seandainya London baru saja masuk kuliah atau lebih tua lagi, permasalahannya bisa dibuat lebih kompleks dan menarik lagi.

Tokoh yang ditonjolkan selain London dan Luke adalah Jamie dan Mom. Jamie tipe cewek populer yang selalu digoda, bukan dikencani, para cowok dan dibenci para cewek karenanya. Sementara Mom seorang single mother yang bekerja sebagai agen perumahan. Mom jarang berada di rumah, namun masih meluangkan waktunya untuk London.

Berbicara mengenai ending, yang bisa saya katakan adalah novel ini tak memberikan ending yang mendetail. Semua permasalahan memang sudah terselesaikan dan tak ada yang menggantung, namun rasanya ada satu bab yang hilang untuk mengakhiri cerita di novel ini sebelum akhirnya masuk ke epilog.

Terakhir, saya berikan rating 3,8 dari 5 untuk ide keren yang dieksekusi dengan baik oleh Cat Patrick. Worth to read banget kok dengan jalan cerita yang fokusnya berubah-ubah tapi pada akhirnya membawa ke suatu penyelesaian yang berkesinambungan.

Thanks for reading 🙂

Candle Light Dinner

Candle Light Dinner

Kutunggu di gudang :*

Sebuah pesan dari lelakiku. Aneh, alih-alih mendatangiku di kamar, ia malah menyuruhku ke gudang. Didorong rasa penasaran, aku pun turun ke lantai bawah dan segera menuju gudang.

Tok! Tok! Tok!

Tak ada jawaban. Kuputar pegangan pintu lalu mendorongnya perlahan. Gelap. Kuraba dinding ruangan sempit itu lalu menekan tombol untuk menyalakan lampu. Seketika, nuansa oranye menyelimuti setiap sudut ruangan. Remang, tapi cukup membantu untuk melihat jelas.

“Hai, kemarilah!” ujar lelakiku.

Ruangan ini masih sama, dengan tumpukan barang yang bersandar pada dinding. Namun di tengah ruangan, yang luasnya tak seberapa, lelakiku tengah duduk di lantai di belakang meja yang berisikan hidangan untuk dua orang.

“Sebaiknya kau kunci pintunya,” ucap lelakiku setengah berbisik.

Aku menutup pintu lalu menguncinya. Dan bergegas duduk di sudut lain meja. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari bahwa barang-barang di ruangan ini kini tertumpuk rapi dan tak lagi berdebu.

“Apa ini?” tanyaku.

“Sebentar,” lelakiku mengambil korek api api lalu menyalakan empat batang lilin di sudut kiri dan kanan meja. “Ini yang orang-orang bilang Candle Light Dinner.”

Aku tersenyum. Tak menyangka lelakiku bisa seromantis ini. “Bukankah ini baru lewat satu dua jam dari waktu makan siang?”

“Aku tahu,” jawab lelakiku. “Tapi kita hanya punya waktu di siang hari seperti ini, bukan?”

“Ya,” jawabku getir. “Kita memang jarang punya waktu untuk berdua.”

“Maaf,” ucapnya seraya menggenggam tanganku.

“Tak apa, aku paham,” tuturku seraya menggenggam balik. “Dan sebenarnya kau pun tak perlu melakukan ini.”

“Aku memang bukan pria romantis,” ucapnya seraya menatapku dalam. “Tapi dirimu begitu mengagumi telenovela dan drama-drama sejenis. Aku tahu aku harus melakukan ini sesekali jika tak ingin kehilanganmu.”

Aku tersipu. Beruntung dengan minimnya cahaya di gudang berhasil menutupi wajahku yang mulai memerah. Kami pun mulai makan hidangan di meja. Tak banyak yang kami perbincangkan kala itu. Tapi gestur dan tatapan kami menunjukkan bahwa ini adalah waktu yang indah bagi kami berdua.

“Sudah jam empat, aku harus menjemput si Anj*ng.”

“Bisakah kau tidak memanggilnya dengan sebutan seperti itu?”

“Lalu, kau mau aku memanggilnya ‘Suamimu’?”

Aku cemberut.

“Hei, sudahlah. Jika semua berjalan sesuai rencana, pria itu tak akan lagi menghalangi cinta kita. Aku pun sudah lelah berpura-pura menjadi kacungnya.”

“Tapi..”

“Tak perlu khawatir,” ucapnya meyakinkanku. “Racun yang kuberikan padamu tak akan terlacak secara medis. Kau pun hanya memberikannya dalam dosis rendah setiap hari. Dalam beberapa minggu, kau tentunya sudah harus berpura-pura sedih akibat kematiannya.”

“Dan kita akhirnya bisa bersama.”

“Ya, dan rumah ini akan menjadi milik kita.”

Aku tersenyum membayangkan masa-masa indah yang akan datang itu.

Sup Buah Favorit Kakak

Sup Buah Favorit Kakak

“Mau buat sup buah, Ma?” tanyaku melihat berbagai macam bahan yang terhampar di meja.

“Iya nih, sup buah  favoritnya kakakmu,” jawab mama semringah. “Kamu bantu Mama, ya?”

Kakak?

“Oke deh, Ma!” jawabku mantap. “Aku bantu apa dulu?”

“Nih, biji selasihnya direndam air hangat dulu ya, Dek!”

Aku pun mengambil mangkuk dan termos berisi air panas. Kutuang air panas dari termos ke mangkuk lalu kutaburkan biji selasih secukupnya ke sana.

“Sudah, ma.”

“Sekarang bantu Mama serut melon ya. Nih, udah mamah buang bijinya,” ujar mama sambil memberiku setengah buah melon. “Kamu serut pake baller ini ya, supaya bentuknya bulat-bulat.”

“Oke, ma!” seruku seraya mengambil baller yang disodorkan mama.

Aku pun mulai mencungkil daging melon menggunakan baller. hasilnya kukumpulkan di mangkuk stainless steel berukuran sedang. Sementara itu, Kulihat mama memotong buah apel, kiwi, dan buah naga menjadi berbentuk dadu.

“Eh, udah cukup Dek, nggak perlu semuanya diserut,” ujar mama usai memotong-motong buah. “Udah terlalu banyak itu. Kita ‘kan cuma mau buat empat porsi.”

Empat?

“Nah, sekarang kita buat supnya,” ucap mama seraya mengambil teko air. “Kamu keluarkan es batu dari freezer  ya.”

Akupun mengeluarkan tempat es batu dari freezer dan mengeluarkan potongan es batu dari tempatnya. Sementara itu, Mama mengambil air matang yang lalu dicampur dengan sirup cocopandan dan susu kental manis full cream. Terakhir, Mama mencampurkan biji selasih yang mengembang pasca direndam air tadi. Setelah semuanya diaduk secara merata, Mama kemudian mengambil sendok lalu mencicipinya.

“Kayaknya kurang manis deh,” ucap Mama. “Si Kakak ‘kan suka yang manis banget. Tambah susu kental manisnya deh.”

Lagi-lagi kakak.

Setelah dirasa Pas, Mama menambahkan es batu dan buah-buahan tadi ke dalam wadah lalu mengaduknya hingga rata.

“Nah, kamu bagi supnya jadi empat mangkuk ya dek,” ucap mama. “Mama mau ke kamar mandi dulu.”

Kenapa harus empat?

Aku pun mengambil empat mangkuk warna-warni dari lemari peralatan makan. Kuisi penuh tiga mangkuk tadi dengan sup buah yang baru saja dibuat. Lalu kutatap sisa sup buah di wadah. Cukup untuk satu mangkuk terakhir.

“Wah, adek bikin sup buah nih,” ujar Papa yang baru masuk dapur.

“Iya, Pa.”

“Ini kok ada satu mangkuk kosong.”

“Iya, Mama bilangnya bagi jadi empat mangkuk.”

“Eh, ada Papa,” ujar mama yang baru kembali kamar mandi. “Yuk Pa, makan sup buah buatan Mama sama Adek. Loh, kok satu mangkuk lagi masih kosong? Sini deh Mama aja yang isi, Adek panggil kakak aja ya.”

Kakak? Tapi kan…

Aku dan papa saling tatap.

“Loh, kok adek diam saja?” tanya Mama melihatku tak beranjak. “Panggil Kakak sana. Kita makan supnya bareng-bareng.”

“Ma, Kakak ‘kan sudah..” kata-kata Papa menggantung.

Meninggal.

“Sudah apa, Pa?”

“Ehm, Masa Mamah lupa,” ujar Papa. “Itu loh, Kakak ‘kan sudah berangkat study tour kemarin. Baru pulang besok.”

Bohong.

“Ah, masa sih?” Mama tampak meragukan Papa. “Iya kali yah, Mamah aja yang lupa. Yaudah kita makan dulu sup buahnya. Punya Kakak nanti Mama kasih tetangga aja.”

Mutant War

Mutant War

Nadia baru saja masuk ke apertemen kecilnya. Tempat paling nyaman baginya karena bisa menjadi dirinya sendiri. Ia pun menutup mata dan mulai berkonsentrasi. Perlahan, dari balik punggungnya, muncul sepasang sayap berwarna putih.

Detik itu juga, Nadia menyadari keganjilan di apartemennya. Sayapnya tak bisa digerakkan. Dan kemudian, terdengar tawa dari sudut ruangan.

“Kau bisa menyembunyikan sayapmu,” ucap sebuah suara. “Pantas saja kau bisa berbaur di sini.”

Dari sudut matanya, Nadia melihat sesosok wanita yang muncul entah dari mana. Bersamaan dengan itu, di setiap penjuru ruangan tiba-tiba saja dipenuhi benang tipis sejenis jaring laba-laba.

Kemampuan menghasilkan jaring dan menjadi transparan.

“Kau generasi kedua?” tanya Nadia pada wanita yang kini sudah berada di depannya.

“Ya,” Wanita itu memamerkan jemarinya yang masing-masing hanya berjumlah empat jari kurus dan panjang. “Kau sendiri? Apa kemampuan revolutif-mu?”

“Aku mutan evolutif,” jawab Nadia yang kini tak bisa bergerak karena sekujur tubuh dan sayapnya terlilit jaring.

Wanita itu mengulurkan lengannya. Dan dari bagian telapak tangan muncul jaring yang langsung saja melilit leher  Nadia. Ia tercekik. Dan sayapnya rasanya akan patah. Ia ingin berteriak, tapi tak ingin mengundang perhatian kaum orisinil.

Tak lama, jeratan jaring itu mengendur. Nadia terbatuk.

“Kami butuh kemampuan para generasi kedua,” ucap wanita tersebut. “Bergabunglah bersama kami untuk menghancurkan kaum orisinil.”

“Aku mutan evolutif,” ulang Nadia.

“Informanku tak mungkin salah,” ucap wanita itu. “Meski sayangnya ia sudah mati.”

Wanita itu tersenyum. Butuh beberapa detik hingga Nadia menyadari sesuatu.

Ibunya mati tercekik.

Kerinduan menjalar seiring gambaran wajah ibunya yang muncul bersamaan. Ibunya yang sedang tersenyum. Ibunya yang sedang menangis.

Jaring.

Ibunya yang mati tercekik jaring.

“K-kau..,” Nadia tercekat.

“Ya, aku yang membunuh ibumu.”

Pengakuan wanita itu membuat amarah Nadia meledak. Perlahan permukanan kulitnya tampak kemerahan. Lalu asap tipis muncul dari pori-pori di kulitnya.

“Sial, kau ternyata..”

Wanita itu tak sempat melindungi diri saat tubuh dan sayap Nadia sudah sepenuhnya berubah menjadi api. Jaring yang melilitnya hangus seketika. Dan bola api yang keluar dari telapak tangannya dilemparkan ke lawan satu-satunya diruangan itu.

Lawannya  terkena bola api pertama. Sebagian tubuhnya mengalami luka bakar. Ia sempat melawan saat bola api kedua menyerang. Tapi jaring-jaringnya dengan mudah terbakar.

Nadia menghampiri wanita yang tengah terkapar itu. Ia akan menghantamkan bola api di tangannya saat tiba-tiba saja memori itu masuk ke kepalanya.

Tawa ibu dan anak.

Nadia memadamkan api di tubuhnya.

“Kau punya anak?”

Wanita yang sudah sekarat itu mengangguk.

“Tidak!” jerit Nadia.

Ia harus menyelesaikannya di sini. Jika ia membunuh wanita ini mungkin saja anak yang dilihatnya tadi akan membalas dendam. Nyawa di balas nyawa. Jika begitu terus maka tak ada yang tersisa.

Nadia pun berlari ke arah jendela. Ia melompat dan menabrak jendela itu hingga pecah berkeping-keping. Sayapnya berkibar dan ia pun terbang menjauh.

Ia harus pergi. Rahasianya sebagai mutan generasi kedua sudah terbongkar akibat perkelahian barusan. Tapi ada satu hal yang mengganggunya.

Memori milik wanita itu.

Mengapa ia bisa membaca memori orang lain? Bukankah kemampuan seperti itu hanya milik mutan astral? Jika benar, apakah berarti ia memiliki tiga kemampuan? Apakah ini menjadikannya satu-satunya mutan generasi ketiga?

-497 Kata-

 

Kaum Orisinil – Manusia yang tidak bermutasi.

Mutan Evolutif – Mutan yang mengalami perubahan atau penambahan organ tubuh. Perbedaan mereka cukup terlihat dibanding kaum orisinil sehingga sulit berbaur. Namun ada beberapa mutan evolutif yang dapat menyembunyikan bagian tubuhnya yang bermutasi.

Mutan Revolutif – Mutan yang bermutasi hingga ke tingkatan dasar secara genetik. Mereka bisa mengubah tubuhnya menjadi transparan, api, metal, bahkan menjadi orang lain. Bisa membaur, meski terkadang perubahan mereka tak bisa dikendalikan seperti saat sedang marah.

Mutan Astral – Mutan yang memiliki kemampuan yang kasat mata seperti membaca memori, telekinesis, memanipulasi pikirian, dan sebagainya. Mereka mudah membaur dengan kaum orisinil asal tak secara terang-terangan menunjukkan kemampuannya.

Mutan Generasi Kedua – Mutan dengan dua kemampuan. Lahir dari pasangan mutan yang kawin secara silang. Tak banyak jumlahnya. Kebanyakan mati di usia amat muda.

Mutan Generasi Ketiga – Data tidak ditemukan. Belum pernah ada mutan yang memiliki tiga kemampuan.

Cinta yang Berbeda

Cinta yang Berbeda

“Dad, aku mencintai Mary.”

Daddy terbelalak mendengar pengakuanku. Sebuah rahasia yang selama ini berhasil kututup rapat darinya. Jalinan kasih yang selama ini kami samarkan dengan kisah persahabatan.

“Apa kau sudah gila?”

Ya, mungkin aku sudah gila. Bagaimana aku bisa mencintai ia yang tak mungkin kunikahi? Mengapa aku tak bisa mencintai saja mereka yang berkali-kali dijodohkan Daddy?

“Tuhan tak akan mengizinkan kalian bersama.”

Benarkah? Bukankah Tuhan yang menciptakan cinta ini? Ataukah Tuhan hanya mempermainkan kami?

“Tidakkah kau baca kitab suci yang memerintahkanmu untuk mencintai sesama, hah? Kita berbeda dengan Mary, kau tahu itu?”

Lagi. Kitab suci. Selalu lembaran puitis itu yang menghalangi kami. Tidakkah bisa jadi isinya sudah lama diubah manusia? Atau tidakkah firman Tuhan butuh penyesuaian setiap perubahan zaman?

“Berhentilah mengatakan hal bodoh semacam itu!” ucap Daddy dengan nada sedikit lebih tinggi.

Aku berdiri.

“Tak bisa Dad. Kami saling mencintai. Dan kami sudah memutuskan untuk menghabiskan hidup kami bersama. Sekalipun kami tidak bisa menikah.”

Daddy pun berdiri, dan menamparku pada detik yang sama.

“Terkutuklah kau, Nak! Cinta yang kau bilang itu nafsu! Kalian lebih rendah dari binatang, kau tahu?!” Daddy meluapkan kemarahannya. “Tidakkah kau baca dalam kitab suci bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk berkembang biak? Dan bahwa cinta hanya ada antara sesama laki-laki dan sesama perempuan, hah?”

“Sudahlah, Mas. Semua bisa dibicarakan baik-baik,” ucap Papi menengahkan.

“Dad, kumohon,” ucapku seraya berlutut di depan mereka. “Aku benar-benar mencintai Mary.”

“Baiklah, terserah,” ujar Daddy seraya mendengus. “Pergilah padanya dan jangan pernah kembali ke sini. Jangan pernah lagi memanggilku Daddy!”

***

Ditulis tanpa maksud apapun terkecuali diikutkan dalam Prompt #111 – Dunia yang Sebaliknya yang diselenggarakan oleh Monday Flash Fiction

Caraphernelia

Caraphernelia

“Lama banget, sih?!”

Mira, sahabat sehidup sematiku, menyelonong masuk saat aku membuka pintu.

“Yaa ampuun, Sasha! Ini flat lo udah macam kapal pecah, tau gak?!” keluh Mira. “Dan itu apaan sterofoam mie instan sampe numpuk gitu?! Kapan terakhir kali lo makan yg bener, hah?!”

“Eh, ini gue baru mau keluar beli makan kok.”

“Mau beli apa, lo? Mie instan lagi, kan?”

“Hehehe.”

“Sebentar,” ucap Mira seraya mengeluarkan smart phone dari sakunya. “Nah, gue udah pesen makanan yang layak via kurir online. Sekarang lo bantuin gue ngeberesin flat berantakan lo ini.”

“Njeh, Ndoro!”

Seminggu. Sudah seminggu aku putus dengan Mario. Seminggu pula aku cuti dari pekerjaanku. Seminggu penuh aku mengurung diri di dalam flat. Dan sudah seminggu lamanya aku hanya makan mie instan.

Darling, I’m so sorry about your ex,” ucap Mira usai kami membereskan seluruh flat. “Tapi lo nggak boleh kayak gini terus, life must go on. Keluarga lo butuh lo, perusahaan butuh lo, gue butuh lo.”

“Butuh temen gosip maksud lo?”

“Ya, plus temen shopping, temen ngecengin cowok kece, temen nyinyirin orang, de-el-el.”

“Dasar! Iya, besok gue gawe. Cuti gue juga udah abis kok.”

“Bagus deh, tapi lo sendiri gimana?”

Aku menghela napas.

“Masih sakit banget, Mir,” ucapku perlahan. “Setiap gue inget Mario, gue selalu jadi kepengen nangis.”

“Gitu, yah?”

Hening sejenak.

“Caraphernelia.”

“Eh, apa?”

“Caraphernelia. Kondisi saat seseorang pergi dari kamu namun dengan sengaja meninggalkan juga barang-barangnya yang kemudian membuatmu tersiksa dan baper to the max karena di barang-barang itu ada ingatan-ingatan yang menyesakkan,” Mira menjelaskan. “Lo harus buang semua barang-barang yang bikin lo inget Mario.”

“Gitu, yah?”

Kami pun mulai menyortir barang-barang yang berpotensi mengingatkanku pada Mario. Mulai dari bingkai foto kami berdua, boneka beruang yang pernah ia hadiahkan, hingga ke kaos couple yang sering kami pakai bersamaan.

“Apa lagi?”

Aku melirik power bank yang tergeletak di atas nakas. Aku masih membutuhkannya. Mungkin tak masalah jika aku menyisakan satu barang yang…

“Ini juga, yah?”

Sial!

“Tapi, Mir…”

“Nggak ada tapi-tapian,” ujar Mira seraya memasukkan power bank pemberian Mario ke dalam plastik sampah. “Udah semua?”

“Iya, udah,” sahutku.

“Oke, gue buang ini dulu,” ucap Mira. “Eh, itu kalender kok masih bulan Maret, sih? Ganti, lah!”

Aku berbalik. Ya, aku lupa menggantinya. Segera kuambil kalender tesebut, membalik halamannya, dan memasangnya kembali. Dan air mataku pun kembali jatuh.

“Lo kenapa?” tanya Mira.

Aku tak menjawab. Hanya menunjuk pada tanggal sepuluh yang diberi lingkaran serta tertulis ‘2nd Anniversary’ di atasnya.

 – 400 kata –

Berlanjut ke sini.