Brand New Cafe

Brand New Cafe

“Enggak ada matcha latte, mba?”

“Maaf kak, tidak ada.”

Aku begitu antusias melihat kafe langgananku dulu kembali dibuka. Namun seketika kecewa karena sebenarnya kafe ini hanya mengambil tempat yang sama namun dengan manajemen yang berbeda. Untung saja mereka mempertahankan meja kecil di sudut yang jadi favoritku.

Hot Cappuccino deh, mba,” ujarku seraya mengembalikan buku menu.

“Oke kak, ditunggu pesanannya ya!” jawab pramusaji itu.

Segera kunyalakan laptop, memasang headset, lalu memutar playlist favoritku. Dalam sekejap aku sudah terisolasi dengan dunia luar. Sebagai seorang penulis lepas, aku terbiasa pindah dari satu kafe ke kafe lain untuk menyelesaikan pekerjaan atau pun bertemu dengan klien.

Fokusku sedikit terganggu saat makhluk berbulu dengan mata nyalang muncul dari balik laptop. Dengan pongahnya ia naik ke atas meja dan menenggerkan wajah berkumisnya di atas layar komputer lipatku.

Aku baru hendak memanggil pramusaji saat pemandangan di dalam kafe menyadarkanku. Makhluk berbulu dan bermata nyalang itu tak hanya satu tapi banyak. Dengan bulu beraneka warna dan ukuran tubuh yang berbeda-beda.

Kudongakkan kepala menatap papan nama kafe yang sedari tadi kuabaikan.

KITTEN KAFE

“Miaww!”

Apa hari ini aku libur saja dan bermain dengan mereka, ya?

Advertisements

(Review) Waktu Pesta bersama Cinta oleh Intan Kirana, dkk – Manifestasi Cinta Lintas Entitas dan Generasi

Judul : Waktu Pesta bersama Cinta

Penulis : Intan Kirana, Rizal Iwan, Hendri Yulius, Agrita Widiasari

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tahun terbit : 2013

Jumlah hlmn : 263 halaman

Buku ini berisikan enam belas cerita pendek yang di bagi menjadi empat bab: Cinta pada masa kanakku; Cinta ketika remaja; Cinta dan kedewasaan; dan Cinta sang senja. Penggambaran cinta dalam antologi ini begitu luas, tak terbatas pada pasangan kekasih tapi juga orang tua, sahabat, dan lainnya, tak terikat hanya pada manusia tapi juga makhluk hidup lain, bahkan tak sesempit hanya pada mereka yang bernyawa tapi juga benda-benda yang dipersonifikasi.

Aku tidak tahu siapa Nina yang terbaring di tempat tidur rumah sakit itu, karena akulah Nina, dan aku di sini. Melihat semuanya. (hlmn 5)

Masing-masing bab dalam novel ini terdiri dari empat cerita pendek. Pada bab pertama, dua cerita awal (Nina Bobo dan Singgah) sudah langsung mengejutkanku karena menggunakan tokoh yang tak biasa. Keunikan tokoh juga muncul pada cerita terakhir di bab ini (Sierra), cerita kedua pada bab selanjutnya (Love Virtually), serta cerita kedua pada bab terakhir (Museum Roh). Cerita-cerita ini cukup berhasil meski terkadang para penulis terlalu lepas menggambarkan tokoh sebegitu mirip manusia dan nyaris lupa meletakkan petunjuk tentang wujud sebenarnya dari sang tokoh.

Dengan seenak udelnya, sang pencipta menekan tombol sebuah menu, lalu dalam seketika, aku langsung memeluk Robbie dan mencium pipi kanannya. Sungguh, sebenarnya aku tak ingin melakukannya. (hlmn 113)

Bab kedua mengambil tema remaja. Namun jangan berharap kalian akan mendapatkan cerita manis ala teenlit di sini. Alih-alih, bab ini dibuka oleh (Cinta (Cerita Pendek untuk Menyapa-Mu)) sebuah cerita tentang kegamangan seorang remaja memilih agama di usianya yang ke tujuh belas. Kemudian berlanjut pada kisah (Menjadi Empat Belas) tentang remaja yang ingin mendobrak stigma bahwa perempuan tak selamanya tak punya pilihan. Sementara dua cerita lain meski tak terlalu mencerminkan masa remaja namun memilki keunikan dari segi ide cerita (Love Virtually) dan penceritaannya (Ti).

Tapi aku tak lebih dari seorang remaja labil tujuh belas tahun yang merasa benar dengan pikirannya yang terlalu bebas dan terlalu banyak tapi berantakan. (hlmn 96)

Bab selanjutnya dibuka oleh cerita favoritku (Sayap Ibuku). Aku suka sekali dengan analogi yang digunakan Rizal pada cerita ini. Bidadari dengan penari, kepak sayap dengan tarian, serta bulu-bulu pada sayap yang meranggas kala sang tokoh berhenti menari. Cerita lain yang ditulis Rizal pada bab ini (Tutup) pun begitu menarik buatku. Kisah tentang pramusaji yang menunggui pelangan terakhir sebelum menutup toko. Aku menyukai cara Rizal mengaitkan ucapan terakhir sang pelanggan dengan kisah flashback yang sebelumnya dijabarkan. Dengan dua cerita ini serta Nina Bobo dan Museum Roh, kunobatkan Rizal sebagai penulis favoritku pada novel ini.

Sayap itu memang tidak kelihatan, tapi di cermin itu, aku bisa melihat bayangan Ibu sedang tepekur menghitungi jumlah bulu-bulu yang tersisa di sayapnya yang sudah mulai gersang. (hlmn 148)

Masih pada bab yang sama, ada (Kau dan Aku yang berbeda) sebuah kisah yang dikemas bak surat terbuka yang dibuat untuk seorang sahabat yang akan melepas masa lajangnya. Cerita ini terasa begitu intim yang nampaknya memang kisah nyata sang penulis. Terakhir, kita akan disuguhkan (Pada Hari Kedatanganmu) sebuah kisah dengan penggunaan sudut pandang orang pertama jamak. Dua orang bercerita dalam satu waktu. Out of the box!

Kelak Nak, apabila kau lahir, salah satu dari kami akan mendekapmu dalam pelukan, lantas menyusuimu sembari tersenyum haru, sementara salah satunya lagi akan mengumandangkan azan di telingamu. (hlmn 177)

Lalu empat cerita pada bab terakhir kompak menghadirkan kisah sendu sebagai penutup novel ini. Ada kisah yang mengangkat penyakit alzheimer (Kotak Kenangan Mnemosyne), kisah penjual barang antik beserta barang-barang koleksinya (Museum Roh), kisah seorang istri dari tentara yang gugur dalam peperangan (Dua Puluh Tahun Bayang-bayang), serta kisah pria berbeda yang kehilangan segalanya (Titik Kecil yang Pembangkang).

Detik ini menyadarkanku bahwa aku bukanlah pemenang, aku hanyalah titik kecil yang tidak mampu berjuang. Aku hanya melihat Dia di balik teralis. Kami tersenyum, miris. (hlmn 253)

Secara keseluruhan kuberi empat dari lima bintang untuk antologi cerita pendek ini.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Gaunku, Togamu

Gaunku, Togamu

“You look beautiful, Ma’am,” puji Miranda.

“Benarkah?” ucap Claire dengan nada gusar. “Tidakkah gaun ini terlalu ketat di pinggul?”

Miranda memutar mata. Setelah payet yang teralu banyak, tiara yang terlalu kekanakan, dan heels yang terlalu tinggi, mungkin selanjutnya Claire akan mengeluhkan langit yang terlalu cerah hari ini.

“Tentu saja tidak,” jawabnya sembari tersenyum lelah. “Gaun itu membalut sempurna tubuhmu, Ma’am.”

Claire tak menjawab. Ia masih sibuk mematut diri di depan cermin. Mencari celah dari pantulan yang tersaji di hadapannya. Perpaduan gaun model mermaid dengan hasil diet sehat (bukan ketat) dan kunjungan rutin ke pusat kebugaran di sela hiruk pikuk pekerjaan. Didukung dengan hasil sulap sang make up artist yang membuat Claire bagai melintas waktu ke beberapa tahun ke belakang.

“Hmm, tidakkah rambutku terlalu pirang?” ujar Claire sambil berbalik. “Haruskah kita mewarnainya ulang?”

Retoris sebenarnya. Janji suci akan diucapkan sebentar lagi. Tak ada waktu untuk mewarnai ulang rambut hanya karena alasan ‘terlalu pirang’. It’s not even blonde, it’s called highlight!

“Ma’am, you’re just overthinking,” ujar Miranda penuh kesabaran. “You’re gorgeous like I said before.”

“Nope, you said beautiful earlier,” koreksi Claire. “Harusnya aku berhenti di warna hitam, nggak sih?”

Miranda membentuk kata ‘whatever’ dengan mulutnya tanpa suara. Rasanya, ia ingin segera keluar dari bride’s room agar tak perlu lagi mendengar keluhan lain dari bosnya. Beruntung, baru saja ponselnya bergetar. Ia bisa izin keluar untuk mengangkatnya.

Oh, bukan, ponsel Claire rupanya. Sial!

“Ma’am, you got a phone call,” ujar Miranda.

“Apa? Siapa itu?” tanya Claire panik. Ia sudah mewanti-wanti Miranda untuk menjauhkannya dari pekerjaan hari ini. Ponsel terlalu identik dengan pekerjaan untuknya.

“You’re BFF, Gloria,” ujar Miranda seraya menyerahkan ponsel milik Claire.

“Oh, give it to me,” ujar Claire cepat. Glo is her best friend from high school. Mereka sempat kuliah bersama di Amerika, namun Glo berhenti di tahun kedua dan memilih kembali ke Indonesia untuk menikah. “Hei, hei, Glo! Whats’ goin on, darling?”

“Claire,” panggil suara di seberang sana. “I don’t think I can do this.”

“What?” tanya Claire seraya bergerak ke arah bangku. Ini akan panjang, pikirnya. Kaki jenjangnya tak akan mampu bertahan. “Nggak bisa apa maksudnya?”

“I’m shaking.” Yup, her voice sounds shaking. “Bagaimana jika aku gugup dan terbata di atas sana? Atau bagaimana kalau aku gak bisa bicara seucap pun? Oh, bagaimana kalau aku pingsan nanti? For god’s sake! I can’t do this, Claire.”

“Oh, you talk about that speech, huh?” ujar Claire menyadarinya. “Glo, honey, of course you CAN do that! Kau sudah menghapal isi pidatomu di luar kepala sejak seminggu lalu, bukan?”

“Tapi di sini ramai sekali Claire, aku tak yakin aku…”

“Kau pasti bisa,” potong Claire. “All is well! Say our spell!”

“All is well,” bisik Glo.

“I CAN’T HEAR YOU!”

Terdengar helaan napas. “All is well!”

“That’s good, Glo sayang,” puji Claire. “Kau hanya perlu ke atas sana, ambil waktu untuk menenangkan diri, lalu mulai mengulang hapalanmu sekali lagi.”

Hening sejenak.

“Ya, kau benar,” ujar Glo meski tak yakin. “Andai kau ada di sini. Oh, aku masih tak percaya akan melewatkan resepsimu.”

“Oh, Beib, aku juga berharap bisa menemanimu sekarang,” ujar Claire sama kecewanya. “But you’re gonna be here tonight. We’re gonna do after party together, right?”

“Yup.”

“Oke.”

Hening lagi

“Are you oke now?”

“I guess.”

“Just remember that all is well, oke Sweety?”

“Thanks, Claire,” ucap Glo dengan lebih ceria. “Ah, I think I must go.”

“Oke, good luck to you!”

“Thanks again. Bye, Claire!”

“Bye, Glo!”

Claire mengembalikan ponselnya pada Miranda yang langsung menanyakan, “Bagaimana keadaan Mrs. Gloria, Ma’am?”

“She’s fine. Cuma gugup aja dengan pidatonya.”

“What speech?”

“Pidato kelulusan,” jawab Claire. “As the oldest graduate on that university. Bayangkan, ia lulus berbarengan dengan cucu tertuanya.”

“Wow,” ujar Miranda takjub. “Anak muda di sana perlu mencontoh semangat Mrs. Glo.”

“Kau benar,” ujar Claire. “Aku benar-benar terkejut saat ia memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. I mean, dengan semua anak dan cucunya saat ini? Ah, sementara aku baru saja akan menikah.”

“Oh, ya, setelah berulang-ulang kali menunda rencana pernikahan sebelumnya,” ujar Miranda seraya memutar bola mata.

“But, that would be ain’t perfect if it’s still goin,” balas Claire.

“But, noone ever be perfect in your eyes Ma’am,” debat Miranda.

“That’s not true! This wedding is gonna be.”

Miranda diam saja. She’s waiting…

“Andai saja Glo tak diwisuda saat…, ups!”

“See?”

“Oke, you’re right,” aku Claire. “Well, after all, setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, bukan? Ada yang memilih cepat berkeluarga, ada yang sibuk mengejar karir saat masih muda, dan ada yang sanggup mengerjakan keduanya sekaligus. All is well.”

Miranda mengangguk. Dalam hati, ia berharap tak akan mengikuti jejak Claire untuk urusan pernikahan. Kembali terbayang pernikahan kakaknya tahun lalu beserta rentetan pertanyaan dari keluarga besarnya kala itu. Kapan nyusul? Mana calonnya? Kok pendampingnya nggak kelihatan?

Meh!

“Permisi!” seru sebuah suara. “Sudah waktunya calon mempelai naik ke altar.”

“What! Tapi aku belum siap! Bagaimana dengan riasanku?” tanya Claire panik.

“Tak berubah sedikitpun, Ma’am,” jawab Miranda.

“Tunggu, ke mana sepatuku?”

“Kau sudah memakainya, Ma’am,” ujar Miranda mulai jengah.

“Oh, ya,” ucap Claire pelan. “Hmm, but something feels wrong. Haruskah kita menunda pernikahan ini?”

“NO F*CKING WAY!”

 

CADENAS D’AMOUR

CADENAS D’AMOUR

“Pergilah,” ujar mama. “Papamu sudah membelikan tiket.”

Mungkin, aku memang butuh berlibur untuk melupakan kasus perceraian kemarin.

***

Aku termenung menatap lukisan bergaya street art di sekujur pagar jembatan. Gembok-gembok itu hilang tak tersisa. Terakhir kali, aku memasangkan satu bersama Nolan yang ditulisi nama kami berdua. Tapi kuncinya kami buang ke bak sampah, bukan ke sungai.

“Are you gonna eat that sandwich?” tanya suara anak kecil membuyarkan lamunanku.

“Yes, but I have some of it,” ujarku seraya berjongkok lalu memberinya satu potong. “What’s your name?”

“My name is Billy,” jawab bocah berwajah asia itu

“Where’s your mom, Billy?”

“My mom is in heaven,” jawabnya dengan mulut penuh.

“Oh, I’m sorry to hear that,” ucapku turut berduka. Kasihan Billy.

“And your father?” tanyaku ragu-ragu seraya membersihkan sisa mayones di pucuk bibirnya.

“Over there!” Ia menunjuk sembarang ke ujung jembatan. Tampaknya ia terlepas dan berjalan sendirian kemari.

“Billy!” Sahut sebuah suara terdengar panik. “Billy, where are you?”

Aku berdiri seraya mengangkat tangan. “Over here, Sir!”

Pria itu mendekat lalu memeluk Billy erat. Sementara aku? Aku mematung di samping mereka.

“Jangan jauh-jauh dari Papa, ya, Billy!”

Bocah itu hanya mengangguk seraya tetap menekuri sandwich-nya.

“Thank you for watching for Bill… Riri? Is that you?”

“Ya,” ucapku dengan nada terlalu riang.

“Wow, I can’t… Where is Toro?”

“He’s not here,” ucapku seraya menunjukkan jemari tanpa cincin. “Perjodohan orang tua kami tak berhasil rupanya.”

Nolan tak menjawab. Hanya tersenyum.

“Mom, can I have another sandwich?” celoteh Billy dengan pelafalan ‘Mam’ yang terdengar seperti ‘Mom’ di telingaku.

(Review) Misteri Patung Garam oleh Ruwi Meita – Persembahan Karya Seni Pembunuh Keji

Judul : Misteri Patung Garam

Penulis : Ruwi Meita

Penerbit : Gagas Media

Tahun terbit : Cetakan pertama, 2015

Jumlah hlmn : 278 halaman

***

Lia tiba di Surabaya dan langsung bergerak ke rumah Wina, sahabatnya. Sesampainya di sana, sayup-sayup terdengar suara piano dari lantai atas. Mendapati pintu tak terkunci, Lia bergegas naik. Di atas, ia justru disambut sahabatnya yang sudah tak bernyawa. Bahkan mayatnya terbilang dalam keadaan yang sungguh mengerikan, namun sekaligus artistik.

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam sehingga dia mirip patung garam.” (hlmn 10)

Tak lama berselang, kejadian yang sama kembali berulang. Leyla, seorang pelukis muda, ditemukan mati dalam keadaan yang sama. Terbalut garam, mengenakan wig merah terang, dan tanpa bola mata hingga hanya menyisakan lubang hitam yang gelap dan mengerikan. Ironisnya, Leyla diketahui tengah hamil muda sebelumnya.

Sesuatu menusuk-nusuk perutnya dan dia berada dalam ambang kehilangan kesadaran. Namun, tak ada yang lebih nyeri dari hatinya sebab dia tak bisa mempetahankan sebuah kehidupan. (hlmn 52)

Inspektuk Kiri Lamari, dibantu rekannya Inspektur saut, bertugas menyelidiki kasus ini. Petunjuk mengarah pada rekan sesama seniman tepatnya pematung. Dan tak sembarang patung, tapi patung yang terbuat dari media yang sama seperti yang membalut para korban. Garam.

Kiri menatap patung-payung abstrak yang berjajar rapi. Bentuknya lebih mirip gundukan garam. Kata orang, karya anak kecil dan karya seniman terkenal kadang tak bisa dibedakan. (hlmn 88)

Penyelidikan belum mendapati titik terang namun sang pembunuh justru terus bergerak. Korban ketiga berasal dari kota lain, Yogyakarta, dan ditemukan justru saat Kiri tengah berada di kota tersebut. Pembunuh itu begitu dekat tapi tetap tak tersentuh.

Dia harus memberi pelajaran kepada Kiri. Sebuah rencana indah sudah disusunnya untuk Kiri. Rencana yang akan menjadi mimpi buruk untuk Kiri. (hlmn 195)

Kiri mulai menerima teror. Kenes, pacarnya, terancam. Dan malam pameran fotografi karya Kenes menjadi puncaknya. Bersama Ireng, bocah mantan pencopet yang kini tinggal bersamanya, Kiri menghadiri pameran tersebut. Namun saat ponselnya berdering, Kiri makin gusar dan terpaksa meninggalkan tempat itu.

Kenes melambaikan tangannya saat masuk ke pintu taksi. Kiri segera masuk rumah saat taksi bergerak. Namun dia tak pernah tahu ada mobil lain dengan kaca gelap yang mengikuti taksi itu. (hlmn 107)

***

Penulis novel ini benar-benar tahu cara menarik minat pembaca sedari awal cerita dimulai. Tokoh yang dihadirkan juga begitu memikat. Awalnya aku merasa janggal dengan polisi yang gemar memasak dan berkebun serta fotografer travel yang menggemari stiletto, tapi seiring berjalannya cerita akan tampak garis merah yang menghubungkan karakter para tokoh dengan plot cerita itu sendiri. Oh, dan aku harus mengakui bahwa karakter Ireng di sini begitu adorable. Bocah ini benar-benar memberi warna berbeda dan menghidupkan cerita dengan caranya sendiri.

Apresiasi juga perlu diberikan untuk riset yang dilakukan penulis. Tak hanya tentang sifat-sifat garam itu sendiri serta kaitannya dengan ilmu forensik tetapi juga filosofi serta kepercayaan-kepercayaan di baliknya. Pun dengan penggambaran segala karya seni dalam novel ini, mulai dari patung, lukisan interior, hingga fotografi.

Kekurangan novel ini hanya pada cerita yang berjalan lurus. Biasanya novel-novel detektif-thriller seperti ini akan menghadirkan beberapa tersangka yang membuat pembaca menebak-nebak pembunuh sebenarnya. Tapi novel ini hanya menghadirkan satu tersangka tunggal, padahal ada tiga korban yang terbunuh dengan latar belakangnya masing-masing. Entahlah, mungkin penulis ingin fokus dan tidak memecah konsentrasi pembaca. Aku pun tak berani komplain karena cerita tetap menghadirkan twist yang tak terduga serta epilog yang cukup mengejutkan di akhir.

Kuberi 4.5 dari 5 bintang.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Ibu Ainun Tidak Punya Hati

cookie-2333024_1920

“Habiskan makanan kalian!” teriak ibu Ainun pada kami. “Jangan sampai ada sisa!”

Kami tidak suka ibu Ainun. Beliau selalu saja berteriak. Mengatur kami ini-itu. Melarang kami begini-begitu.

“Kenapa baru pulang jam segini?!” tanya bu Ainun sambil menjewer telinga satu dari kami. “Kenapa pula bajumu penuh lumpur begini?!”

Kami benci ibu Ainun. Beliau kerap marah-marah. Salah sedikit dicubit. Melanggar sedikit ditabok.

“Siapa suruh kau main hujan?!” bentak ibu Ainun pada satu dari kami. “Kau menyusahkanku kalau sakit begini, tau?!”

Ibu Ainun tidak punya hati.

Tidak

“Tapi ibu Ainun punya hati,” ujar satu dari kami yang kemarin main hujan. “Beliau menjagaku sepanjang malam. Ia sholat di samping ranjangku dan mendoakan kesembuhanku.”

Kami tidak tau. Kami tidur teramat lelap malam itu.

“Ibu Ainun punya hati,” ujar satu dari kami yang lain. “Ia menangis saat Adam diadopsi. Padahal Adam suka nakal. Adam cerita saat kemarin berkunjung.”

Kami tidak tau. Ibu Ainun tidak pernah menangis di depan kami.

Kami tidak tau. Ibu Ainun berteriak agar kami mendengarkannya. Ibu Ainun ingin kami menghabiskan makanan agar sehat dan tumbuh dengan baik.

Kami tidak tau. Ibu Ainun marah untuk kebaikan kami. Beliau menjewer untuk menghukum yang melanggar aturan. Beliau mencubit agar kami tidak mengulang kesalahan.

Kami tidak tau. Kami terlalu kecil untuk tau. Kami hanya tau lembut itu baik. Marah itu tidak baik.

Tapi sekarang kami tau. Kadang kebaikan tak disampaikan dengan lembut. Kadang kemarahan sesungguhnya bermaksud baik.

Sekarang kami tahu. Ibu Ainun punya hati.

“Habiskan makanan kalian!” teriak ibu Ainun pada kami. “Jangan sampai ada sisa!”

(Review) Sudut Mati oleh Tsugaeda – Meyingkap Ketegangan Intrik Dua Korporasi Besar

Sudut Mati.jpg

Judul : Sudut Mati

Penulis : Tsugaeda

Penerbit : Penerbit Bentang

Tahun terbit : Cetakan pertama, September 2015

Jumlah hlmn : 344 halaman

***

Cerita bermula ketika Titan, putra ketiga dari pemilik Grup Prayogo, kembali ke Indonesia. Ia datang di saat grup tengah digrogoti krisis hingga terancam dibubarkan. Sementara kakaknya, Titok, sama sekali tak bisa diandalkan dan ayahnya sendiri terlalu sibuk dengan pencalonan dirinya sebagai presiden.

“Pada situasi seperti ini, ayahmu sibuk kampanye politik. Sementara itu, abangmu goblok, nggak bisa ngurusi bisnis.” (hlmn 13)

Ancaman lain juga datang dari kompetitor, Ares Inco, yang mulai bergerak dengan segala cara untuk menghancurkan Grup Prayogo. Ironisnya, anak bungsu keluarga Prayogo justru menikahi putra mahkota Ares Inco.

“Ya, Tiara. Dia sekarang ada di rumah Kevin. Dia menikah dengan putra tunggal Nando, bos Ares. Tiara tersandera di sana.” (hlmn 150)

Di sisi lain, Teno, putra kedua keluarga prayogo dibebaskan dari penjara secara diam-diam. Teno sedikit berbeda dengan saudara-saudaranya. Ia punya satu tujuan, yang pernah dituangkannya dalam sebuah manifesto, yakni membunuh ayahnya sendiri.

“Berengsek!” maki Ronny. “Kenapa Teno Prayogo bisa berkeliaran bebas?! Siapa yang melepaskannya?” (hlmn 213)

Lepasnya Teno juga diikuti dengan munculnya seorang pembunuh bayaran dengan kode ‘Si Dokter’. Meski sebelumnya hanya dianggap mitos, Si Dokter kini mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

“Si Dokter ini, siapa sebenarnya dia?” “Pembunuh professional. Tidak ada yang tahu identitasnya.…” (hlmn 84)

Keadaan pun mulai memanas ketika Titan diculik. Titok yang kemudian menyusulnya ke markas Ares Inco justru terperangkap ditengah perseteruan pihak ares dengan kepolisian.

Seluruh mobil yang ada di situ rusak berat diserbu amuk peluru. Ban-ban hancur ditembus dan kaca-kacanya pecah berserakan. Suara letusan dan desing peluru memekakkan telinga dan seolah tak ada akhirnya. (hlmn 260)

***

Novel ini menyuguhkan tema yang jarang digali penulis kebanyakan, thriller korporasi. Alurnya cepat dengan fragmen-fragmen cerita terdahulu disampaikan dalam bentuk kilas balik. Dari segi penokohan pun cukup kuat dengan beberapa villain potensial. Puntiran atau twist dalam cerita, yang sebenarnya muncul terlalu dini, juga cukup mengejutkan.

Dari segi cerita, novel ini mengambil cakupan yang luas. Mulai dari masa lalu keluarga prayogo hingga suksesnya Grup Prayogo sekarang, bisnis ilegal Ares Inco hingga tindak perdukunan, aksi satuan kepolisian hingga para pembunuh bayaran, juga keterlibatan agen rahasia hingga petinggi intelejen. Meski begitu, penulis cukup berhasil menyederhanakan semua itu dan menyuguhkan cerita yang mudah dipahami.

Sayangnya, kisah luar biasa yang disajikan tidak dibalut dengan penyampaian dialog yang sepadan. Beberapa dialog ditulis terlalu panjang hingga tak bisa dibedakan dengan narasi. Pilihan kata dalam dialog tiap-tiap tokoh pun sejenis, baik protagonis maupun antagonis, baik yang dikisahkan sebagai orang terpelajar maupun ‘preman pasar’. Bahkan, beberapa dialog yang seharusnya diungkapkan dengan penuh kemarahan terasa datar tanpa emosi.

Terlepas itu, aku tetap suka novel ini. Kuberi 4 dari 5 bintang.

Terima kasih sudah membaca 🙂