(Review) The Boy Who Drew Monsters by Keith Donohue – Menerormu dengan Khayalan dan Kenyataan yang Berpadu

97906_f

Judul                     : The Boy Who Drew Monsters

Penulis                 : Keith Donohue

Penerjemah       : Maria Renata

Penerbit              : Qanita

Tahun terbit       : Cetakan pertama, Sept 2016

Jumlah hlmn      : 420 halaman

***

Holly merindukan anaknya sendiri, Jack Peter, atau mereka memanggilnya Jip. Jip yang sekarang bukanlah bayi mungilnya. Jip yang sekarang tidak butuh dirinya. Diperparah dengan sindrom Asperger yang dideritanya, membuat Holly makin untuk sulit masuk ke dalam dunia Jip.

“Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, Bapa. Saya takut akan anak saya sendiri, takut dengan apa yang mungkin akan dilakukannya kepada saya, kepada dirinya sendiri. …” (hlmn 114)

Jip menolak keluar rumah, dan segala upaya yang dilakukan Holly dan suaminya, Tim, justru memperkuat penolakan dari Jip. Ia terpaksa berhenti sekolah. Ia kehilangan semua temannya kecuali Nick, yang sering dititipkan di rumahnya dan mau tak mau harus bermain dengannya.

Tubuh-tubuh mereka tampak lembut  dan telanjang, wajah mereka dingin dan tidak tampak manusiawi, dan mata mereka hitam bagaikan lubang gelap. Salah satunya membuka mulutnya yang tak bergigi dan menangis keras seolah-olah diatur oleh mesin, dan ketika makhluk itu menjerit, Nick juga membalas dengan jeritan. (hlmn 256)

Jip hobi menggambar. Ia menggambar ayah-ibunya, menggambar Nick, dan belakangan menggambar monster-monster. Tak ada yang mempermasalahkan gambar Jip, hingga kemudian Tim mulai diganggu oleh sosok putih misterius yang selalu cepat menghilang saat dikejar, Holly mendengar suara-suara yang tak jelas dari mana asalnya, bahkan Nick yang mulai dihantui mimpi buruk tentang orang tuanya.

Dia telah menggambar ini sebelum makhluk-makhluk itu muncul. Kemudian dia merobek-robek gambar itu sebelum mereka menghilang. (hlmn 279)

Kemudian di suatu hari saat datang badai salju, Tim harus menjemput Holly dan meninggalkan Jip dan Nick di rumah. Nick merengek, tak mau ditinggal bersama Jip. Tapi Tim tak mungkin membawanya di tengah amukan badai, pun meninggalkan Jip sendirian. Akhirnya kedua bocah itu pun tinggal di rumah. Dan saat Tim dan Holly kembali, keduanya menghilang.

“… Apa angin bisa memutar gagang pintu? Apa angin bisa mengetuk jendela dapur? Ada sesuatu yang mencoba masuk, Tim. Ke dalam sini, ke dalam kehidupan kita. …” (hlmn 237)

***

Novel ini menyajikan kisah horor khas hollywood dengan makhluk seram, atau sekedar angin yang menggerakkan barang-barang, yang kerap muncul secara mengejutkan. Sayangnya, suasana mencekam, yang sering dibangun lewat musik latar dalam film, masih kurang berhasil disajikan oleh penulis. Adegan yang seharusnya terasa seram terkesan ditulis langsung begitu saja tanpa adanya latar suasana yang mendukung. Rasa takut para tokoh juga kurang didukung deskripsi dari efek yang muncul pada tubuh seperti gemetar, merinding, berkeringat dingin, dan lainnya.

Cerita pun berjalan dengan alur yang kurang bergejolak. Konflik-konflik yang muncul terbilang tanggung dan terpotong-potong. Pembaca benar-benar harus bersabar sampai bagian paling akhir novel untuk sampai pada puncak konflik. Untungnya, gaya penulisan novel ini cenderung mengalir meski menggunakan alur campuran antara masa lalu dan masa sekarang serta tidak membosankan dengan karakter para tokoh yang kuat bahkan untuk tokoh-tokoh pendukung sekalipun. Poin tambah lain terletak pada kejutan yang ditulis di kalimat-kalimat terakhir novel ini. Kejutan yang membuatku, dan mungkin juga kalian nanti saat membacanya, berharap Jip tak berhenti menggambar.

Tiga dari lima bintang.

Advertisements

(Review) Stasiun by Cynthia Febrina – Mengantarmu Menyusuri Jalur Istimewa Menuju Cinta

Judul : Stasiun

Penulis : Cynthia Febrina

Penerbit : PlotPoint Publishing

Tahun terbit : Cetakan pertama, Mei 2013

Tebal buku : 171 halaman

Cerita mengambil latar saat tiket commuter line masih berbentuk kertas. Harganya pun relatif mahal dibanding tiket kereta ekonomi yang jadi idaman kala itu meski berfasilitas seadanya. Namun keduanya berbagi satu jalur dan bertemu di satu titik bernama stasiun. Di tempat ini jugalah kisah antara pemuda pelanggan tetap kereta ekonomi bernama Ryan dan gadis anti kereta ekonomi bernama Adinda di mulai.

Sebaliknya, aku sih ogah berpanas-panasan di dalam kereta ekonomi. Kalau punya uang, untuk apa repot-repot naik kereta murah itu. (Hlmn 2)

Adinda memang tak terbiasa naik transportasi rakyat. Ia biasanya dimanja oleh Rangga dengan mobil pribadinya. Lalu kemudian mereka putus. Sejak itulah Adinda harus terpaksa membaur dengan hiruk pikuk stasiun Bogor di pagi hari demi mendatangi kantornya di Jakarta.

Benar-benar pemandangan pagi hari yang merusak suasana hati. Berbeda sekali jika aku pergi ke kantor dengan mobil, yang kulihat hanya pemandangan tol pagi yang lengang, …. , atau sesosok pria di sampingku yang asyik menyetir sambil bersiul. (Hlmn 4)

Lain halnya dengan Ryan. Pemuda satu ini sudah mengganggap berkendara dengan kereta adalah bagian dari hidup. Ia berkawan dengan penjual koran, penjaga kios buku bekas, dan pelukis jalanan yang ruang lingkup kerjanya memang berputar di stasiun.

Tak terbayang betapa membosankannya menghadapi kemacetan Jakarta sendirian. Bukan saya tidak pernah sendiri, justru karena saya terlalu sering sendiri. Saya mencari tempat yang bisa membuat saya bertemu banyak orang. (Hlmn 21)

Cerita mengambil sudut padang bergantian antara Ryan dan Adinda. Meski berporos pada mereka berdua, cerita juga diperlebar ke tokoh-tokoh lain yang sehari-harinya beraktivitas di stasiun. Contohnya Sasha, teman Adinda. Meski aku sangat menyayangkan kehadirannya yang sempat menghilang di bagian tengah cerita, namun kisah Sasha bersama seorang perempuan tua gila sukses menjadi konflik pertama yang membuatku jatuh cinta dengan novel ini.

Seorang petugas stasiun menghampiri Sasha. Salah satunya membawa pentungan. Sasha mulai terlihat khawatir. “Lepaskan perempuan itu atau Ibu saya pukul!” Salah satu petugas mengancam. (Hlmn 11)

Ah, belum lagi kisah manis sepasang suami istri yang menua bersama. Sang suami memaksa istrinya naik kereta khusus perempuan agar dapat tempat duduk, namun sang istri menolak. Ia ingin menunggu saja kereta selanjutnya agar mereka tetap bersama.

Sebelum kereta berangkat, keduanya sempat bertatapan. Mata keduanya sudah menua akibat usia namun tak membuatnya layu untuk menyatakan cinta. (Hlmn 76)

Novel ini dihiasi konflik-konflik kecil, lalu perlahan berakhir menjadi kisah manis yang mungkin sudah tertebak. Yup, bukan cerita dengan satu konflik yang dibahas berlarut-larut lalu kemudian terburu-buru diakhiri. Novel ini juga tak sekedar membahas cinta, antara Ryan dan Adinda, tapi juga kenangan masa lalu, pandangan hidup, hingga interaksi dengan orang-orang yang bersinggungan dengan keduanya.

Kuakhiri review ini dengan memberi 4,5 bintang dari semua bintang yang ada di atas sana. Eh, 4,5 dari 5 bintang maksudnya.

Thanks for reading 🙂

(Review) Resign oleh Almira Bastari – Memaksamu Lembur Bersama Roman Berbalut Canda

Judul : Resign

Penulis : Almira Bastari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2018

Jumlah hlmn : 288 halaman

***

Tigran semakin kejam. Titik dan koma saja dipermasalahkan. Berkali-kali hasil kerjaku direvisi. Dan kemarin puncaknya, kertas kerjaku dilempar! (hlmn 52)

Para cungpret, alias kacung kampret, yang terdiri dari Alranita, Carlo, Mbak Karen, dan Mas Andre, sudah kelewat muak menjadi bawahan Tigran. Tapi bos mereka itu selalu punya cara untuk menggagalkan rencana resign para kacungnya. Mulai dari memberikan pekerjaan secara overload, mendaftarkan training ke luar negeri, hingga tiba-tiba muncul saat sang karyawan sedang di-interview. Meski begitu, semangat para cungpret untuk resign tak jua padam, alih-alih mereka malah membuat sebuah kompetisi.

“Eh, by the way, gimana kalo kita buat taruhan resign?” Carlo tiba-tiba memberi ide. “Supaya semakin termotivasi.” (hlmn 12)

Alranita, sebagai cungpret yang paling lama bekerja pada Tigran, yang paling merasakan pederitaan. Tigran tak hanya menerornya untuk urusan pekerjaan, di luar kantor pun hidupnya seolah selalu direcoki oleh bos yang mau tak mau harus diakuinya ganteng itu. Mengekorinya ke bioskop, menjadi pendamping yang tak diharapkan saat kondangan, bahkan mengacaukan liburannya di Langkawi.

Tapi dia lihat lo? Tahu lo di langkawi? Dia stay di resort itu juga? Terus gimana? (hlmn 99)

Perlahan, Alranita merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Tigran. Di luar ketegasan dan kekejamannya sebagai bos, Tigran sering memberikan perhatian-perhatian kecil. Seperti kekhawatiran Tigran saat ia ‘kabur’ dari Langkawi, gaya acuhnya saat membukakan botol minum—atau saus—tanpa diminta, hingga ketidakengganan Tigran untuk turun dari mobil dan berbasa-basi dengan ayahnya saat menjemput kondangan.

”Kamu itu…” Aku terdiam sesaat karena terlalu banyak hal yang ada di pikiranku. “Kamu itu sengaja nyiksa saya banget: Bikin saya benci banget sama kamu. Terus kamu jadi baik banget. …” (hlmn 263)

Namun semua itu tidak meredupkan niat Alranita untuk resign. Semua sudah diatur sedemikian rupa. Ia datang ke kantor tanpa bedandan, memakai jaket tebal, bahkan berkali-kali mengelap kening meski tidak berkeringat. Interview-nya besok harus berhasil, untuk itu izin sakitnya harus tampak wajar. Tapi dewi fortuna mungkin memang membencinya, malam itu justru Tigran yang tiba-tiba pingsan saat hanya mereka berdua yang ada di kantor.

Sudah lewat tengah malam, dan ini jauh lebih buruk daripada lembur. Seketika rasanya aku ingin menangis. Entah bagaimana, aku jadi takut terjadi sesuatu pada Tigran. I know he’s an evil, tapi melihat dia menderita juga tidak membuatku senang. (hlmn 204)

***

Seperti warna sampulnya, novel bergenre komedi romantis ini menghadirkan kisah yang begitu segar. Penulis cukup apik mengolah cerita dengan sisipan humor yang pas pada tempatnya serta peralihan perasaan tokoh dari benci ke cinta yang sama sekali tak tampak dipaksakan. Pun cerita dibawakan oleh dua tokoh utama pada rentang usia ‘siap nikah’ dengan latar problematika pekerja kantoran yang membuat kisah dalam novel ini terasa begitu dekat dengan target pasarnya yaitu dewasa muda.

Minus narasi mendayu namun beralur cukup padat membuat novel ini dengan teganya membuang beberapa adegan meski kemudian diberi potongan pengisahan pada bab selanjutnya. Dan dengan narasi yang proporsional, didominasi dialog yang saling bersambut, serta sisipan obrolan dalam aplikasi chatting, tak hanya berhasil menghidupkan tokoh-tokoh dalam cerita tapi juga sukses menyajikan kisah yang begitu visual.

Meski cerita berpusat pada romansa Alranita dan Tigran, tapi kehadiran tokoh-tokoh sampingan dalam novel ini tak bisa disepelekan. Carlo yang kocak, Mbak Keren yang julid, Mas Andre yang kalem, bahkan Sandra si anak baru yang polos, tampil begitu berkarakter. Peran mereka pun jelas tak hanya sebagai pelengkap tapi memang punya andil masing-masing dalam memberi warna pada cerita.

Terakhir, untuk semua senyum yang kusunggingkan dan tawa yang pecah sepanjang membacanya, novel ini berhak mendapat lima bintang tanpa cela.

(Review) Misteri Patung Garam oleh Ruwi Meita – Persembahan Karya Seni Pembunuh Keji

Judul : Misteri Patung Garam

Penulis : Ruwi Meita

Penerbit : Gagas Media

Tahun terbit : Cetakan pertama, 2015

Jumlah hlmn : 278 halaman

***

Lia tiba di Surabaya dan langsung bergerak ke rumah Wina, sahabatnya. Sesampainya di sana, sayup-sayup terdengar suara piano dari lantai atas. Mendapati pintu tak terkunci, Lia bergegas naik. Di atas, ia justru disambut sahabatnya yang sudah tak bernyawa. Bahkan mayatnya terbilang dalam keadaan yang sungguh mengerikan, namun sekaligus artistik.

“Seluruh tubuhnya ditempeli dengan adonan garam sehingga dia mirip patung garam.” (hlmn 10)

Tak lama berselang, kejadian yang sama kembali berulang. Leyla, seorang pelukis muda, ditemukan mati dalam keadaan yang sama. Terbalut garam, mengenakan wig merah terang, dan tanpa bola mata hingga hanya menyisakan lubang hitam yang gelap dan mengerikan. Ironisnya, Leyla diketahui tengah hamil muda sebelumnya.

Sesuatu menusuk-nusuk perutnya dan dia berada dalam ambang kehilangan kesadaran. Namun, tak ada yang lebih nyeri dari hatinya sebab dia tak bisa mempetahankan sebuah kehidupan. (hlmn 52)

Inspektuk Kiri Lamari, dibantu rekannya Inspektur saut, bertugas menyelidiki kasus ini. Petunjuk mengarah pada rekan sesama seniman tepatnya pematung. Dan tak sembarang patung, tapi patung yang terbuat dari media yang sama seperti yang membalut para korban. Garam.

Kiri menatap patung-payung abstrak yang berjajar rapi. Bentuknya lebih mirip gundukan garam. Kata orang, karya anak kecil dan karya seniman terkenal kadang tak bisa dibedakan. (hlmn 88)

Penyelidikan belum mendapati titik terang namun sang pembunuh justru terus bergerak. Korban ketiga berasal dari kota lain, Yogyakarta, dan ditemukan justru saat Kiri tengah berada di kota tersebut. Pembunuh itu begitu dekat tapi tetap tak tersentuh.

Dia harus memberi pelajaran kepada Kiri. Sebuah rencana indah sudah disusunnya untuk Kiri. Rencana yang akan menjadi mimpi buruk untuk Kiri. (hlmn 195)

Kiri mulai menerima teror. Kenes, pacarnya, terancam. Dan malam pameran fotografi karya Kenes menjadi puncaknya. Bersama Ireng, bocah mantan pencopet yang kini tinggal bersamanya, Kiri menghadiri pameran tersebut. Namun saat ponselnya berdering, Kiri makin gusar dan terpaksa meninggalkan tempat itu.

Kenes melambaikan tangannya saat masuk ke pintu taksi. Kiri segera masuk rumah saat taksi bergerak. Namun dia tak pernah tahu ada mobil lain dengan kaca gelap yang mengikuti taksi itu. (hlmn 107)

***

Penulis novel ini benar-benar tahu cara menarik minat pembaca sedari awal cerita dimulai. Tokoh yang dihadirkan juga begitu memikat. Awalnya aku merasa janggal dengan polisi yang gemar memasak dan berkebun serta fotografer travel yang menggemari stiletto, tapi seiring berjalannya cerita akan tampak garis merah yang menghubungkan karakter para tokoh dengan plot cerita itu sendiri. Oh, dan aku harus mengakui bahwa karakter Ireng di sini begitu adorable. Bocah ini benar-benar memberi warna berbeda dan menghidupkan cerita dengan caranya sendiri.

Apresiasi juga perlu diberikan untuk riset yang dilakukan penulis. Tak hanya tentang sifat-sifat garam itu sendiri serta kaitannya dengan ilmu forensik tetapi juga filosofi serta kepercayaan-kepercayaan di baliknya. Pun dengan penggambaran segala karya seni dalam novel ini, mulai dari patung, lukisan interior, hingga fotografi.

Kekurangan novel ini hanya pada cerita yang berjalan lurus. Biasanya novel-novel detektif-thriller seperti ini akan menghadirkan beberapa tersangka yang membuat pembaca menebak-nebak pembunuh sebenarnya. Tapi novel ini hanya menghadirkan satu tersangka tunggal, padahal ada tiga korban yang terbunuh dengan latar belakangnya masing-masing. Entahlah, mungkin penulis ingin fokus dan tidak memecah konsentrasi pembaca. Aku pun tak berani komplain karena cerita tetap menghadirkan twist yang tak terduga serta epilog yang cukup mengejutkan di akhir.

Kuberi 4.5 dari 5 bintang.

Terima kasih sudah membaca 🙂

(Review) Sudut Mati oleh Tsugaeda – Meyingkap Ketegangan Intrik Dua Korporasi Besar

Sudut Mati.jpg

Judul : Sudut Mati

Penulis : Tsugaeda

Penerbit : Penerbit Bentang

Tahun terbit : Cetakan pertama, September 2015

Jumlah hlmn : 344 halaman

***

Cerita bermula ketika Titan, putra ketiga dari pemilik Grup Prayogo, kembali ke Indonesia. Ia datang di saat grup tengah digrogoti krisis hingga terancam dibubarkan. Sementara kakaknya, Titok, sama sekali tak bisa diandalkan dan ayahnya sendiri terlalu sibuk dengan pencalonan dirinya sebagai presiden.

“Pada situasi seperti ini, ayahmu sibuk kampanye politik. Sementara itu, abangmu goblok, nggak bisa ngurusi bisnis.” (hlmn 13)

Ancaman lain juga datang dari kompetitor, Ares Inco, yang mulai bergerak dengan segala cara untuk menghancurkan Grup Prayogo. Ironisnya, anak bungsu keluarga Prayogo justru menikahi putra mahkota Ares Inco.

“Ya, Tiara. Dia sekarang ada di rumah Kevin. Dia menikah dengan putra tunggal Nando, bos Ares. Tiara tersandera di sana.” (hlmn 150)

Di sisi lain, Teno, putra kedua keluarga prayogo dibebaskan dari penjara secara diam-diam. Teno sedikit berbeda dengan saudara-saudaranya. Ia punya satu tujuan, yang pernah dituangkannya dalam sebuah manifesto, yakni membunuh ayahnya sendiri.

“Berengsek!” maki Ronny. “Kenapa Teno Prayogo bisa berkeliaran bebas?! Siapa yang melepaskannya?” (hlmn 213)

Lepasnya Teno juga diikuti dengan munculnya seorang pembunuh bayaran dengan kode ‘Si Dokter’. Meski sebelumnya hanya dianggap mitos, Si Dokter kini mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

“Si Dokter ini, siapa sebenarnya dia?” “Pembunuh professional. Tidak ada yang tahu identitasnya.…” (hlmn 84)

Keadaan pun mulai memanas ketika Titan diculik. Titok yang kemudian menyusulnya ke markas Ares Inco justru terperangkap ditengah perseteruan pihak ares dengan kepolisian.

Seluruh mobil yang ada di situ rusak berat diserbu amuk peluru. Ban-ban hancur ditembus dan kaca-kacanya pecah berserakan. Suara letusan dan desing peluru memekakkan telinga dan seolah tak ada akhirnya. (hlmn 260)

***

Novel ini menyuguhkan tema yang jarang digali penulis kebanyakan, thriller korporasi. Alurnya cepat dengan fragmen-fragmen cerita terdahulu disampaikan dalam bentuk kilas balik. Dari segi penokohan pun cukup kuat dengan beberapa villain potensial. Puntiran atau twist dalam cerita, yang sebenarnya muncul terlalu dini, juga cukup mengejutkan.

Dari segi cerita, novel ini mengambil cakupan yang luas. Mulai dari masa lalu keluarga prayogo hingga suksesnya Grup Prayogo sekarang, bisnis ilegal Ares Inco hingga tindak perdukunan, aksi satuan kepolisian hingga para pembunuh bayaran, juga keterlibatan agen rahasia hingga petinggi intelejen. Meski begitu, penulis cukup berhasil menyederhanakan semua itu dan menyuguhkan cerita yang mudah dipahami.

Sayangnya, kisah luar biasa yang disajikan tidak dibalut dengan penyampaian dialog yang sepadan. Beberapa dialog ditulis terlalu panjang hingga tak bisa dibedakan dengan narasi. Pilihan kata dalam dialog tiap-tiap tokoh pun sejenis, baik protagonis maupun antagonis, baik yang dikisahkan sebagai orang terpelajar maupun ‘preman pasar’. Bahkan, beberapa dialog yang seharusnya diungkapkan dengan penuh kemarahan terasa datar tanpa emosi.

Terlepas itu, aku tetap suka novel ini. Kuberi 4 dari 5 bintang.

Terima kasih sudah membaca 🙂

(Review) ORB oleh Galang Lufityanto – Telaah Sebuah Kisah Tak Kasat Mata

Judul : ORB

Penulis : Galang Lufityanto

Penerbit : Tiga Serangkai

Tahun terbit : Cetakan pertama, Desember 2008

Jumlah hlmn : 416 halaman

***

Semua orang membenci Seno, atau paling tidak tak mau berurusan dengannya. Ayahnya tak mengakuinya, ibunya berharap tak pernah melahirkan bocah itu. Seno tak punya teman. Bahkan sanak saudaranya tutup mata kala rumah keluarga Seno habis dilalap sang jago merah sehingga menewaskan seisi rumah kecuali Seno seorang.

Bahkan, jika ia menyapa seseorang dengan senyumnya yang paling ramah pun, yang didapatnya balik adalah senyum kecut atau cibiran. Reaksi paling positif yang pernah diberikan orang terhadapnya adalah pura-pura tidak melihatnya. (hlmn 12)

Tanpa disengaja, seseorang memotret momen Seno menerobos kobaran api saat kebakaran berlangsung. Gambar tersebut kemudian membuat geger situs Ghost Hunter Society karena tampak jelas adanya keterlibatan orb di sana. Hingga akhirnya, Genuine Haunting, sebuah biro perjalanan wisata mistis di Amerika, mengirimkan tim peneliti untuk mengamati langsung spirit tersebut.

“…, orb adalah sejenis bola energi yang diduga sebagi inti dari makhluk gaib. Seperti halnya jika sel adalah pertikel terkecil dari tubuh manusia, orb adalah sel bagi spirit. Beberapa orang menyebut orb sebagai bola spirit. Orb biasanya tidak kasat mata dan hanya bisa ditangkap oleh jenis kamera tertentu, …” (hlmn 74-75)

Tim yang terdiri dari seorang leader, fotografer, teknisi, cenayang, psikolog, dan penerjemah ini pun terbang ke Indonesia menemui Seno. Dibantu oleh Roni, sang fotografer yang menangkap gambar Seno bersama orb sebelumnya, mereka perlahan mempelajari hubungan antara bocah kecil itu dengan spirit yang berperan sebagai pelindungnya.

“Ada anggota CIA yang menyusup ke dalam tim kalian. Aku belum tahu siapa. Tapi, ada baiknya kalian waspada dengan apa yang mungkin akan mereka lakukan terhadap kalian.” (hlmn 177)

Penelitian sama sekali tak berjalan dengan mulus. Di awali dengan diserangnya sang penerjemah, yang kemudian mundur dari tim, oleh spirit saat tengah sendirian di kamar hotel. Berlanjut konflik internal saat kabar keterlibatan CIA dalam penelitian mulai bocor, hingga adanya pihak yang diam-diam berencana menculik Seno.

“… Kau pikirkan saja cara menculik anak itu. Nanti biar aku yang mengurus kelanjutannya. Yang penting kita jangan sampai kehilangan anak itu, oke?” (hlmn 365)

***

Membahas spirit, yang secara tradisional lebih kita kenal dengan nama hantu, dengan cara bertutur selayaknya kisah fiksi ilmiah tentu tidak mudah. Serangkaian logika perlu dipaparkan agar cerita tak kehilangan ke-masuk-akal-annya. Tapi novel ini tak hanya mengeksekusinya dengan baik, lebih dari itu juga berhasil menciptakan suasana menegangkan di bagian-bagian krusial pada cerita.

Cerita sebenarnya tidak hanya berfokus pada sang spirit, tapi juga menghadirkan sub plot tentang kisah masa lalu dari masing-masing anggota tim peneliti dan korelasinya dengan sikap mereka saat menjalankan misi tersebut. Setiap bagain flashback terasa begitu personal dan bagai menelanjangi karakter tiap-tiap tokoh. Terlepas dari itu, plot utama tetap tak kehilangan pesonanya, terlebih ditutup dengan amukan kekuatan tak kasat mata hingga adegan tembak-tembakan di atas tebing.

Terakhir, karena berhasil membuatku terkesima, kuberi 4.9 dari 5 bintang. Minus pada penggunaan rata kiri, alih-alih justified, yang membuat tulisan sedikit kurang enak dipandang.

Terima kasih sudah membaca 🙂

(Review) Sepenggal Kisah Mata Pena – Membawakanmu Kisah dari Dua Dunia Berbeda

IMG_20180302_193252_722

Judul                     : Sepenggal Kisah Mata Pena

Penulis                 : Yaumil Rachman & Ayu Rizki Susilowati

Penerbit              : Mazaya Publishing House

Tahun terbit       : Cetakan Pertama, Januari 2018

Jumlah hlmn      : 170 halaman

Desain sampul   : Roeman-Art

***

Sebelumnya harus kubilang kalau aku suka banget sama cover dari buku ini. Apresiasi tertinggi buat yang desain sampulnya 🙂

Kumpulan cerpen (Kumcer) ini ditulis berselang-selang antara tulisan Ayu dan Yaumil. Uniknya, kedua orang ini punya gaya menulis yang cukup kontras. Tulisan Ayu lebih riil. Alurnya pun rapi dengan pembatas yang jelas saat perpindahan adegan. Cerita juga sarat akan pesan moral yang sayangnya seringkali diverbalkan di akhir sehingga lebih mirip kesimpulan buatku.

Nah, beda banget nih dengan tulisan Yaumil yang abstrak. Sureal gitu. Tapi anehnya aku bisa paham. Beneran loh ini aneh, karena biasanya aku kurang nangkep satir yang diangkat sama tulisan di aliran surealisme kayak gini. Pun tema yang diangkat juga bisa dibilang out of the box.

Oke, kuulas singkat satu-satu, ya!

 

RAHASIA DI DALAM LEMARI

Semua isi rumah habis tak bersisa, kecuali satu barang. Lemari itu. (hlmn 3)

Pembuka yang baik. Meski narasinya terlalu panjang di awal, cerita ini memiliki ending yang mengejutkan.

 

SEPENGGAL KISAH MATA PENA

Mata perempuan itu membelalak, saat melihat mata pena menyala-nyala. Terang dan tajam. (hlmn 20)

Dengan berpusat hanya pada satu tokoh, cerita ini menyajikan alur dengan flashback. Nuansa kesuraman sangat kuat sedari awal hingga akhir.

 

RINTIK HUJAN DI MALAM KHITBAH

…, itu artinya bahwa jodohku mungkin memang bukan dia. Bukan seorang lelaki yang selama tiga tahun kukagumi dalam diam dan kurapalkan namanya dalam doa. (hlmn 26)

Konflik pada cerita bernuansa religi ini terasa hambar. Sayang, padahal tema yang diangkat menarik.

 

TIDAK ADA LAGI KEBAIKAN DARI LONDON

Rumah itu benar-benar dingin. Tak jarang Max sering menggigil dan kemudian sakit di dalam rumahnya sendiri. (hlmn 44)

Dengan mengambil sudut pandang yang tidak biasa, cerita ini berhasil jadi yang paling menyentuh dalam kumcer ini. Entah, tapi Max dan anjingnya loveable banget buatku.

 

JUDUL SENGAJA TIDAK DISEBUTKAN

Tentang aku yang tiba-tiba memikirkan dia, lalu secara tiba-tiba pula dia menghubungiku dan mengajakku bertemu setelah sekian tahun kami tak pennah saling sapa dan tatap. (hlmn 60)

Tahu ‘kan, kalau dalam mengulas buku atau apapun tidak boleh membocorkan hal-hal penting? Nah, judul cerita ini spoiler banget, makanya mending tidak kusebutkan, hehe.

 

KISAH AKHIR PARA PERENANG HEBAT

Aku masih mengingat dengan sempurna, saat dia tersenyum padaku, kemudian pergi. Kemudian dia datang lagi padaku saat aku gagal menjadi perenang yang menaklukkan laut utara. (hlmn 77)

Can’t say a word. I’m speechless.

 

PEREMPUAN PENGGANTI

“Tidak udah menangis. Aku tidak ingin melihat tangisan palsu seorang perempuan perebut suami orang!” (hlmn 85)

Aku suka penggambaran adegan di bagian akhir. Mungkin untuk konflik di awal cerita perlu ditambahkan penyebutan kata ‘pelakor’ supaya lebih seru. Eh, gimana?

 

TENGAT

…, bau kertas, bau mesin komputer yang mulai memanas, dan bau-bau lainnya yang sangat akrab dengan penciumanku, meyakinkanku sepenuhnya, bahwa aku masih berada di ruang kerjaku. (hlmn 95)

Awalannya tampak normal sampai sempat berpikir kayaknya ini bukan sureal. Satirnya bagus, banyak orang yang akan tersentil baca ini.

 

KESABARAN SUMINI

“…, susu Si bungsu habis, listrik dua bulan belum bayar, gas habis, hutang sama Uni Ida menumpuk, jadi boro-boro mau buatin Bapak kopi!” (hlmn 109)

Penggambaran tentang kerepotan seorang ibu rumah tangga di dalam cerita ini cukup menarik. Namun penyelesaian konfliknya terlalu cepat dan tiba-tiba.

 

WANITA PEMINTAL YANG TINGGAL DI BULAN

Wanita pemintal yang tidak pernah aku lihat wajahnya itu, tidak penah melihat ke arahku, walaupun aku bersorak-sorai di bawah sinarnya. (hlmn 123)

Ini cerita dari Yaumil yang jadi favoritku. Mungkin karena berhasil menyajikan cerita untuk orang dewasa tapi mengambil sudut pandang anak-anak. Polosnya sesuai, khas anak-anak banget.

 

BERJALAN DALAM GELAP

…, tak terasa kakiku menginjak ranting yang sontak membuat orang bersuara lenguh itu sadar akan kehadiranku dibelakangnya. (hlmn 137)

Nah, kalau ini karangan Ayu favoritku. Aku nilai dari segi cerita aja sih karena penyajiannya sendiri kurang memuaskan. Tokohnya dikemas terlalu sederhana untuk punya pemikiran sebijak itu.

 

PAKU-PAKU DARI MATA IBU

Mata ibu sering terbelalak. Tajam. Memaku-maku tubuhku. Tubuhku diam seperti patung. Pasrah,… (hlmn 147)

Cerita ini juga ambil sudut pandang anak-anak tapi lebih dark. Serem bayanginnya. Kamu enggak akan kuat, biar aku aja.

 

KISAH IBU PONIRI

Inilah yang aku tidak tahu dari kehidupan sosok ibu Poniri. Tentang suaminya. Siapa dan apa pekejaannya serta bagaimana keadaannya saat ini. (hlmn 159)

Tak banyak yang bisa dibahas. Sesuai dengan judulnya, cerita penutup ini berpusat pada masa lalu ibu Poniri.

 

Akhirnya selesai. Semoga tidak terlalu panjang untuk dibaca. Terakhir, kuberi 3,5 dari 5 bintang untuk kumcer ini.

Thanks for reading 😉